Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Entertainment»Banyak Keterbatasan, tapi Harus Tetap Berkarya
    Entertainment

    Banyak Keterbatasan, tapi Harus Tetap Berkarya

    April 3, 2022No Comments2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Banyak Keterbatasan, tapi Harus Tetap Berkarya 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    SUDAH 72 tahun berlalu sejak film pertama Indonesia dibuat. Namun, kondisi perfilman Indonesia masih jauh dari kata memuaskan. Khususnya jika yang dibahas adalah film dokumenter. Tidak hanya kalah bagus dari sisi kualitas, tapi juga masih sangat kerdil karena banyaknya tekanan.

    Direktur Forum Film Dokumenter (FFD) Kurnia Yudha F. mengatakan bahwa masa depan filmmaker dokumenter di negeri ini tidak jelas. Ada kebebasan berekspresi yang ditekan. Sebaliknya, jaminan keamanan tidak pernah tersedia. Pemilihan isu juga bisa menjadi polemik berkepanjangan yang sering kali malah menghambat produksi.

    ”Padahal, film dokumenter tidak bisa lepas dari kebebasan berekspresi,” terang Yudha kepada Jawa Pos saat dijumpai di Jogjakarta pada Rabu (30/3).

    Berbagai keterbatasan itu tentu memengaruhi para filmmaker. Apalagi mereka yang masih muda. ”Mungkin ini soal jam terbang, tapi tetap ada ruang tidak aman,” urainya.

    Setelah menjadi produk pun, film dokumenter jarang bertemu dengan lingkungan yang suportif. Yudha lantas menyebut dua film dokumenter, Senyap dan Jagal, sebagai contoh. Pemutaran film dokumenter karya Joshua Oppenheimer itu ditolak di mana-mana. ”Bahkan sampai ada ancaman,” keluhnya.

    Di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) pun, Senyap tak boleh diputar. Bahkan, aparat menggeruduk lokasi pemutaran film. ”Itu contoh kejadian yang gede,” paparnya.

    Realitas semacam itu membuat filmmaker berpikir ulang ketika hendak mengangkat isu-isu yang sensitif. ”Jadi, tidak berani membuat,” kata Yudha.

    Film dokumenter, lanjut dia, bisa beradaptasi baik dengan kemajuan zaman dan perkembangan media sosial. Kini banyak film dokumenter yang dipasarkan melalui YouTube. ”Itu yang sekarang paling ngetren,” jelasnya.

    Yudha optimistis, jika para filmmaker terus berkarya, film dokumenter akan semakin diterima masyarakat. Apalagi, banyak platform yang kini bisa dipakai untuk melakukan penetrasi film dokumenter. Metode hybrid juga memungkinkan film-film dokumenter ditonton secara daring dan luring. Tidak ada lagi jarak yang membatasi. ”Seniman dan filmmaker ini sebenarnya punya daya lenting yang tinggi,” ujarnya.


    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticlePenjualan mobil bekas ditaksir naik 15 persen jelang lebaran
    Next Article Drama Keluarga Pelangi untuk Nirmala, Persahabatan dari Kesedihan
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    tempat wisata Bandung terbaru 2026 (Ilustrasi/AI)

    Tempat Wisata Bandung Terbaru 2026 untuk Healing Akhir Pekan

    June 26, 2026
    KPop Demon Hunters Sukses Menarik Perhatian di 2026 (ilustrasi)

    KPop Demon Hunters Sukses Menarik Perhatian di 2026

    June 18, 2026
    Cara Beli Tiket BTS Jakarta 2026 Biar Nggak Gagal (Ilustrasi/AI)

    Cara Beli Tiket BTS Jakarta 2026 Biar Nggak Gagal

    June 9, 2026
    Film Apex Netflix Thriller Survival Intens (YouTube/Netflix))

    Film Apex Netflix Thriller Survival Intens Charlize Theron vs Taron Egerton

    April 28, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Tempat Wisata Bandung Terbaru 2026 untuk Healing Akhir Pekan
    • Cek Desil Dinsos untuk Bansos 2026, Begini Cara Melihat Statusnya
    • 5 Jasa Konsultan KPI Terbaik di Indonesia untuk Efektivitas Bisnis

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.