Andalannews.com – Sedang mencari cara mengatasi kecanduan gadget pada orang dewasa paling jitu? Ya, di era teknologi saat ini masyarakat dihadapkan dengan masalah ini sehingga banyak yang sulit melepaskan kebiasaan penggunaan gadget.
Dalam sebuah diskusi daring, seorang pakar digital Tanah Air memaparkan beberapa cara mengatasi kecanduan gadget pada orang dewasa yang bisa dilakukan demi terhindar dari risiko dampak lebih serius. Tips yang diberikan pun cukup sederhana.
Lantas, bagaimana cara mengatasi kecanduan gadget pada orang dewasa? Sebelum membahas lebih jauh, akan dijelaskan lebih dulu apa itu gadget, kemudian jenis-jenis, dan fungsinya hingga di zaman sekarang menjadi teman setia setiap orang.
Dalam pengertiannya, gadget merupakan sebuah istilah yang merujuk kepada perangkat elektronik yang memiliki fungsi khusus. Kata gadget sendiri sebeutlnya berasal dari bahasa Inggris yang diartikan sebagai gawai dalam bahasa Indonesia.
Selain itu, dalam sehari-hari gadget juga kerap dihubungkan dengan ponsel pintar atau smartphone. Perkembangan gadget dalam kurun waktu singkat menjadi sangat vital karena sebagai alat elektronik kemudian menjadi suatu kebutuhan.
Karena terhubung dengan koneksi internet, gadget membantu kebutuhan manusia. Contohnya saja pada penjualan barang, membeli, mencari teman, dan bekerja. Jadi, gadget merupakan perkembangan teknologi yang memiliki banyak fungsi.
Saat ini, gadget terus diperbarui untuk berbagai kebutuhan manusia. Bahkan, gadget atau gawai juga berfungsi sebagai sarana bisnis, sumber informasi, penyimpanan data, dokumentasi, untuk mendengarkan musik, dan lain sebagainya.
Seorang Akademisi yang juga Praktisi Komunikasi Feri Sulianta mengungkapkan beberapa cara mengatasi kecanduan gadget bagi orang-orang dewasa yang sulit lepas dari barang elektronik yang terus berkembang itu. Di antaranya:
1. Membiasakan interaksi langsung/offline;
2. Menjauhkan diri dari gawai;
3. Melakukan aktivitas di luar rumah;
4. Mengatur jadwal;
5. Menjalankan hobi baru, dan
6. Menghapus sosial media jika memang terasa sangat mengganggu.
Kendati melalui sarana gadget tiap orang bisa mendapatkan pengetahuan baru salah satunya terkait manfaat sosial media, Feri meminta publik mengubah posisi menjadi pengontrol media sosial, bukan yang dikontrol oleh media sosial.
“Perkembangan teknologi berjalan seperti ini. Namun, bagaimana kita mau menyikapinya,” kata Feri.
“Kembali pada kebutuhan masing-masing. Setiap orang punya preferensinya masing-masing. Namun sebagai catatan, jangan sampai kita terdistraksi oleh kehadiran sosial media, sehingga melupakan aspek manfaat dari layanan daring yang ada,” ajaknya.
Lebih jauh, Feri menjabarkan kiat terakhir jika enam cara di atas tetap tidak mengubah kecanduan terhadap media sosial. Ada empat poin yang ia jabarkan pada bagian ini yaitu: Aware, Mindfull (berfikir dan ada secara utuh dan mengurangi kebiasaan multitasking),
Lalu, Letting In (mengkaji ke dalam diri sendiri, merenungi), dan Meditated (menyadari perasaan-perasaan yang ada di dalam kerangka tubuh).
“Kita perlu sadar, aware. Ketika kita sadar, maka pikiran kita akan melemah. Dari sana, kita harus gercep mengalihkan perhatian kita pada produktivitas,” katanya menandaskan.




