Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»News»Pakar Administrasi Negara : Pasca Otonomi Daerah, Banyak Terjadi Disorientasi APBD
    News

    Pakar Administrasi Negara : Pasca Otonomi Daerah, Banyak Terjadi Disorientasi APBD

    November 19, 2019No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Pakar Administrasi Negara : Pasca Otonomi Daerah, Banyak Terjadi Disorientasi APBD

    Wakil ketua Asosiasi Ilmuan Administrasi Negara, Bambang Istianto

    Jakarta, Jurnas.com – Meski Otonomi daerah di Indonesia sudah berjalan 20 tahun lebih, namun sampai saat ini masih menyisakan sejumlah persoalan. Padahal, tujuan otonomi itu sejatinya dapat memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah lebih besar dan luas agar distribusi sumberdaya sampai ke rakyat yang paling bawah.

    Diketahui, Dasar kebijakan otonomi daerah telah mengalami perubahan tiga kali yaitu mulai UU nomor 22 tahun 1999 berubah menjadi UU nomor 32 tahun 2004 dan direvisi  menjadi UU 23 tahun 2014.

    “Perubahan tersebut mencerminkan belum mantapnya konsolidasi kekuasaan  pemerintahan daerah. Karena itu otonomi daerah yang belum stabil tersebut berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat di daerah,”kata Direktur Eksekutif Center of Public Policy Studies (CPPS) Dr Bambang Istianto di Jakarta, Selasa (19/11/2019).

    Wakil ketua Asosiasi Ilmuan Administrasi Negara ini mencontohkan, dampak belum stabilnya otonomi daerah terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat di daerah, Misalnya kondisi ekonomi yang masih timpang. Hal itu, kata Bambang, ditunjukan dengan angka gini ratio yang masih mendekati angka empat.

    “Artinya masih banyak rakyat yang miskin di daerah. Seharusnya usia 20 tahun tersebut penataan otonomi daerah sudah berhasil terwujudnya pemerataan pembangunan,” kata Bambang.

    Baca juga.. :

    • Bupati Bogor, Ade Yasin Sampaikan Rancangan APBD Tahun 2020
    • Pusat Kajian Otda UKI Bantu Cari Solusi Kesenjangan Daerah
    • Pembagian Urusan Pendidikan di Daerah Perlu Dikaji Ulang

    Selanjutnya, dampak belum stabilnya otonomi daerah dari dimensi politik yakni, masyarakat belum bisa memperoleh kepala daerah yang handal, padahal, kepala daerah itu, dipilih dengan sistem demokrasi langsung.

    “Bahkan sebagian besar kepala daerah terkena kasus hukum dan juga sedikit yang memiliki kemampuan manajemen pemerintahan dengan baik.

    Mengutip pepatah salah satu tokoh, Peter Drucker yang mengatakan bahwa sesungguhnya ‘tidak ada negara yang miskin kecuali manajemen pemerintahanya yang buruk’. Pendapat Drucker, kata Bambang boleh jadi tepat, hal itu lantaran kecenderungan kepala daerah banyak yang tidak becus dalam menyusun APBD.

    “Dapat dimaklumi (Menteri Keuangan) Sri Mulyani memberikan kritik dan mengeluh bahwa ternyata 70 % APBD hanya untuk belanja pegawai. Meskipun sudah dibantu dengan e- Budgetting seharusnya   alokasi anggaran pada pos – pos secara prioritas jauh lebih akurat.

    Disamping itu, lanjut Bambang, kebijakan kepala daerah tentang sumber daya manusia dinilai kurang dilandasi pada kapasitas terpasangnya organisasi pemerintah daerah. Hal tersebut dapat dilihat pada banyaknya Tenaga Kerja Kontrak (TKK) dibanding tenaga berstatus ASN pada setiap unit kerja.

    Pada gilirannya, pos anggaran kepentingan untuk  rakyat seperti kegiatan dan program penciptàan lapangan kerja, perluasan kesempatan usaha dan lain lain terabaikan.

    “Oleh sebab itu pemerintah perlu  peningkatan kemampuan manajemen pemerintahan sehingga dalam penysunan APBD tidak mengalami disorientasi seperti yang dikeluhkan menteri keuangan Srimulyani,” kata Bambang.

    TAGS : Otonomi Daerah APBD Bambang Istianto

    This article is automatically posted by WP-AutoPost Plugin

    Source URL:http://www.jurnas.com/artikel/62614/Pakar-Administrasi-Negara–Pasca-Otonomi-Daerah-Banyak-Terjadi-Disorientasi-APBD/

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleAklamasi Untungkan DPD I, 514 DPD II Gigit Jari
    Next Article Israel Klaim Diserang Empat Roket dari Suriah
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    5 Jasa Konsultan KPI Terbaik di Indonesia untuk Efektivitas Bisnis

    5 Jasa Konsultan KPI Terbaik di Indonesia untuk Efektivitas Bisnis

    June 25, 2026
    Ancaman Ransomware Naik, Sysware Sebut EDR Adalah Investasi IT Krusial

    Ancaman Ransomware Naik, Sysware Sebut EDR Adalah Investasi IT Krusial

    June 24, 2026
    Polda Sumbar Gelar Road to Kapolri Cup MLBB 2026, Ajak Generasi Muda Ukir Prestasi di Dunia Esports

    Polda Sumbar Gelar Road to Kapolri Cup MLBB 2026, Ajak Generasi Muda Ukir Prestasi di Dunia Esports

    June 23, 2026
    Mengenal Prediction Market: Inovasi Pasar Prediksi yang Kian Populer di Era Digital

    Mengenal Prediction Market: Inovasi Pasar Prediksi yang Kian Populer di Era Digital

    June 19, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Cek Desil Dinsos untuk Bansos 2026, Begini Cara Melihat Statusnya
    • 5 Jasa Konsultan KPI Terbaik di Indonesia untuk Efektivitas Bisnis
    • Apakah Niat Puasa 9 dan 10 Muharram dan Qadha Ramadhan Bisa Digabung?
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.