Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Ekonomi»Di Masa Pandemi, Evaluasi Ketergantungan pada Pariwisata Masih Sebatas Wacana!
    Ekonomi

    Di Masa Pandemi, Evaluasi Ketergantungan pada Pariwisata Masih Sebatas Wacana!

    August 24, 2020No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Di Masa Pandemi, Evaluasi Ketergantungan pada Pariwisata Masih Sebatas Wacana! 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Di Masa Pandemi, Evaluasi Ketergantungan pada Pariwisata Masih Sebatas Wacana! 2
    Warga negara asing menyusuri Pantai Semawang, Sanur. (BP/eka)

    DENPASAR, BALIPOST.com – Sudah lima bulan pariwisata Bali sekarat. Dalam kondisi pariwisata Bali yang sedang terpuruk saat ini, beberapa pihak mengatakan bahwa inilah momen yang tepat untuk evaluasi dan memperbaiki pariwisata Bali.

    Sejauh ini belum ada yang secara solid melakukan evaluasi terhadap perkembangan pariwisata Bali. Hanya sibuk mengembalikan pariwisata seperti sediakala. ‘

    ’Sementara untuk memikirkan lebih jauh pariwisata itu supaya lebih berkembang, hampir tidak Ada. Tidak ada konsep yang jelas. Yang ada adalah mengembalikan seperti keadaan semula tetapi secara bertahap, termasuk pemberian sertifikat,’’ kata Ketua Warmadewa Research Center Nyoman Gede Mahaputra, belum lama ini, saat wawancara dalam program Bali Post Talk.

    Para pelaku pariwisata optimis tamu akan datang lagi. Namun kedatangan itu tidak mungkin terjadi dalam jangka waktu cepat, apalagi jika tanpa aksi.

    Bahkan jika pariwisata kembali normal, yang akan diuntungkan adalah  investor yang sebagian besar bukan penduduk Bali. Selain itu, ketika normal, akan terjadi perubahan di sektor pariwisata, seperti berkurangnya kontribusi pariwisata pada kehidupan masyarakat Bali.

    Lanjut Mahaputra, kedaulatan masyarakat Bali dalam konteks pariwisata juga belum mengarah ke sana. Misalnya kembali bertani sementara lahan sudah habis, dan langkah untuk kembali ke pertanian harus disusun, sementara tidak ada yang menyusun.

    Ada juga langkah untuk menyinergikan pertanian dan pariwisata. Itu pun, menurutnya, hanya wacana sementara. ‘’Implementasinya belum ada yang serius melakukan itu,’’ ujarnya.

    Langkah lain yang dilakukan yaitu vila dan hotel yang menjual aktivitas pertanian, sebagai bagian dari paket mereka. Tetapi, menurutnya, itu pun hanya gimmick yang tidak benar–benar menghidupkan sawah.

    Malah bukan menghidupkan sawah, tetapi menghidupkan pariwisata itu. “Yang benar–benar menghidupkan sawah ini, yang membutuhkan rencana yang benar–benar solid, itu tidak ada,” tegasnya.

    Maka solusi yang bisa dilakukan, menurutnya, harus mulai memikirkan sinergitas yang benar-benar harus dilakukan. Tidak hanya pada omongan tetapi benar–benar dilakukan sinergitas pertanian dan pariwisata.

    “Sekarang bagaimana caranya agar pertanian benar–benar menghidupi pertanian atau menghidupi sektor lain seperti perikanan. Saya kira sekarang adalah perlunya sinergi karena kita punya banyak alternatif pekerjaan dengan hadirnya pariwisata. Menyinergikan banyak alternatif ini untuk sama–sama membangun Bali, itu menjadi PR besar kita,” ujarnya.

    Mahaputra menambahkan, sejak awal pariwisata Bali telah dikhawatirkan mengganggu ekonomi masyarakat Bali. Karena dulu asal pariwisata adalah alat propaganda pemerintah Belanda bahwa mereka tidak berlaku seperti yang dituduhkan di Eropa. Mereka menggunakan pariwisata sebagai senjata untuk melindungi citranya.

    Tahun 70-an, ketika ekonomi Indonesia bergerak ke arah yang lebih liberal, saat Bali mulai mengundang investor-investor luar, mulai ada kekhawatiran bahwa pariwisata akan merusak tatanan kehidupan tradisional Bali. Sehingga diputuskanlah untuk melakukan studi besar tentang pariwisata namun dalam konteks agar kehidupan tradisional masyarakat Bali tidak terganggu. Tetapi tidak berhasil, tidak seperti yang direncanakan.

    Tahun 80-an mulai dilanggar kesepakatan perencanaan pariwisata, sehingga pariwisata menyebar ke segala arah, akhirnya di mana-mana terjadi pariwisata. “Melihat hari ini hampir semua infrastruktur yang kita bangun adalah untuk pariwisata. Tol, revisi tata ruang, membangun kawasan beridentitas Bali demi pariwisata,” bebernya.

    Bahkan ia mengatakan pariwisata yang mendikte tingkah laku masyarakat Bali. (Citta Maya/balipost)

    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticlePotensi UMKM Ekspor Tinggi di DIY-Jateng, Digital Marketing Jadi Solusi – KRJOGJA
    Next Article Honda mulai jual CBR600RR terbaru pekan ini
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru (Ilustrasi/AI)

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru, Pemerintah Bentuk PT DSI untuk Atur Ekspor

    May 21, 2026
    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat (Instagram/@menkeuri)

    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat

    May 18, 2026
    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter (Ilustrasi/AI)

    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter

    May 5, 2026
    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing (Ilustrasi/Ai)

    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing

    April 29, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • SPMB Jateng 2026 Jalur Prestasi Punya Aturan Baru?
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.