Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Lifestyle»Guru Chat Box – Indopos.co.id
    Lifestyle

    Guru Chat Box – Indopos.co.id

    December 19, 2020No Comments5 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Guru Chat Box - Indopos.co.id 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Oleh: Dahlan Iskan

    indopos.co.id – Pun guru-guru kita. Pasti punya pengalaman unik selama mengajar di masa pandemi. Tapi, apa yang ditulis seorang guru, wanita, di Amerika ini bisa merangsang para guru kita untuk juga menuliskan pengalaman mereka.

    Guru di Amerika ini tidak mau mendominasi layar komputer. Dia sering membiarkan muridnya berinteraksi sesama murid.

    Dia perlu memahami lebih banyak sifat dan watak semua muridnya. Yang hanya bisa dia kenal lewat wajah dan suara. Itu pun kalau sang murid mau menghidupkan kamera. Beberapa murid tidak mau meng-on-kan kamera. Juga tidak mau bicara. Sang guru begitu sulit mengetahui identitas karakter sang murid.

    Yang seperti itu tentu tidak sampai terjadi kalau sekolah berjalan normal. Tapi, sejak pandemi, sekolah dilangsungkan secara online. Guru begitu sulit memahami kejiwaan para muridnya secara sempurna.
    Mengapa sang guru tidak mau mewajibkan muridnya meng-on-kan kamera?

    Sang guru khawatir akan menimbulkan masalah pribadi yang peka. Misalnya, si murid ternyata miskin. Ia akan merasa minder kalau bagian di rumahnya terlihat jelek di layar. Atau masalah sensitif lainnya. Misalnya, di kamar itu si murid berjejal dengan saudaranya.

    Bahkan, bisa jadi si murid membuka laptop atau HP di toilet. Bukan karena lagi buang hajat, melainkan hanya itulah tempat yang tenang di rumahnya. Yang bisa terhindar dari keributan anggota keluarga lainnya.

    Dari memberikan waktu chatting antar-murid itu, sang guru juga bisa tahu munculnya singkatan-singkatan baru. Yang belum ada sebelum pandemi. Misalnya, kini murid menulis Idk untuk mengatakan I don’t know. Atau ofc untuk of course. Dan hbu untuk how about you –bukan hay.

    Yang juga baru bagi sang guru adalah begitu banyaknya emoji yang digunakan para siswa. Sang guru harus belajar memahami arti emoji untuk memperoleh arti ekspresi sebenarnya yang diinginkan siswa.

    Sebelum pandemi, guru bisa memahami respons siswa dengan melihat ekspresi wajah anak didik. Atau memperhatikan gerak tubuh. Di kelas online, guru harus pandai memahami ekspresi siswa di balik emoji yang ditampilkan.

    Sang guru menyadari salah satu fungsi sekolah sebagai ”tempat pelarian” bagi seorang anak. Terutama pelarian dari situasi yang menekan jiwanya di rumah. Kini tempat pelarian itu tidak ada. Maka, sang guru harus bisa memerankan diri sebagai tempat pelarian tersebut.

    Untuk itu, sang guru membuka diri seluas-luasnya untuk jadi tempat curhat. Termasuk melayani pertanyaan yang kelihatannya sangat sepele. Yang jawabannya juga harus sangat memuaskan. Yang sepele bagi sang guru bisa jadi amat penting bagi siswa yang tertekan.

    Misalnya, tulis sang guru, ada siswa yang bertanya, ”Apakah sang guru punya binatang peliharaan?” Bahkan, ada siswa kelas I SMP yang berani memberikan saran agar sang guru mau memelihara spider plant –bunga laba-laba. Yang bisa menurunkan rasa stres sepanjang hari.

    Saya tidak paham apa yang disebut spider plant. Saya pun lari ke Google. Ternyata itu tanaman hias yang disukai di Amerika – lihat foto.

    MENJULUR- Tanaman hias spider plant. Foto : net
    MENJULUR- Tanaman hias spider plant. Foto : net

    Tapi, ada juga siswa yang menutup chat box-nya. Yang seperti itu, guru tidak bisa menyelami apa yang terjadi dengan si murid. Ia mau mendengar, tapi tidak mau terlihat di kamera dan tidak mau ngobrol dengan sesama teman satu kelas.

    Dari tulisan itu, saya menjadi tahu salah satu perbedaan mengajar online di Indonesia dan di Amerika. Yakni, disediakannya chat box. Yang bisa dimanfaatkan para murid untuk berkomunikasi sesama teman satu kelas.

    Guru juga tidak terlalu dominan menjejalkan pelajaran. Terlihat guru memberikan peluang lebih banyak bagi siswa untuk memperlihatkan kemampuan mereka.

    Dari chat box itu, sang guru juga bisa tahu keinginan siswa. Misalnya tiba-tiba, di chat box itu, muncul gambar McDonald. Sang guru harus paham bahwa jam belajar harus dihentikan sebentar: untuk makan.

    Bukan hanya itu. Gambar yang tiba-tiba muncul di chat box itu bukan sembarang burger McDonald. Tapi burger jenis Travis Scott.

    Sang guru memanfaatkan momentum itu untuk meneruskan mengajarnya. ”Apa yang kalian tahu tentang Travis Scott?” tanya sang guru.

    Para siswa ternyata sangat antusias menjawab pertanyaan tersebut. Mereka lupa ”tuntutan” berhenti belajar untuk makan.

    ”Travis Scott itu gila,” ujar siswa di chat box-nya. Ternyata sekarang ini orang datang ke McDonald tidak perlu lagi berkata ingin beli apa. Begitu membuka kaca jendela mobil, mereka tinggal berkata: Anda tahu apa yang saya inginkan. Tidak ada lagi komunikasi lanjutan. Artinya, mereka memesan Travis Scott.

    Ada juga yang begitu membuka kaca, mereka berkata: Anda sudah tahu untuk beli apa saya ke sini.
    Mereka pun menyertakan emoji tangis dan tawa di chat box itu. Yang ini saya tidak tahu apa arti emoji yang kontradiktif seperti itu.

    Bagaimana dengan big mac? Mereka ternyata tidak suka. ”In-N-Out lebih baik,” katanya.
    Di Indonesia belum dijual McDonald Travis Scott. Yakni, menu McDonald yang menggunakan nama penyanyi rap terkenal Amerika. Yang tahun ini naik menjadi rapper paling terkenal.

    Sudah lama McD tidak menggunakan menu yang diambil dari nama orang. Yang pertama, dulu, adalah McJordan. Yang diambil dari nama megabintang basket Amerika.

    Membaca artikel di News Chant itu, saya membayangkan betapa sulit menjadi guru di era online sekarang ini. Yang kelihatannya masih akan berlanjut. Setidaknya enam bulan ke depan.

    Bagi guru SMP kelas I, atau SMA kelas I, sang guru bisa jadi belum pernah bertemu muka dengan para murid mereka. Satu kali pun.

    Bagi guru yang selama ini mengajar dengan penuh perhatian –dan kasih sayang– tentu betapa rindu untuk bisa bertemu anak didiknya. (*)

    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleSuharso Monoarfa Berjanji Bawa PPP Rebut Kemenangan di Pemilu 2024
    Next Article BEMI Juara Satu FJL U-13, Duo Putra Maros Hantarkan Kemenangan
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    SPMB Jateng 2026 Jalur Prestasi Punya Aturan Baru (Ilustrasi)

    SPMB Jateng 2026 Jalur Prestasi Punya Aturan Baru?

    June 3, 2026
    Cuti bersama Idul Adha 2026 berapa hari (ILustrasi/AI)

    Cuti Bersama Idul Adha 2026 Berapa Hari, Ada Potensi Long Weekend?

    May 25, 2026
    Haji Gratis dari Kerajaan Arab Saudi 2026 (Ilustrasi/Ai)

    Haji Gratis dari Kerajaan Arab Saudi 2026, Puluhan WNI Dapat Undangan?

    May 20, 2026
    Fenomena Langit Bulan Mei 2026 (Ilustrasi/AI)

    Fenomena Langit Bulan Mei 2026 Ada Hujan Meteor hingga Purnama Langka

    May 4, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.