Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Lifestyle»Mengenal Fenomena Fatherless dan Pentingnya Peran Ayah Bagi Anak
    Lifestyle

    Mengenal Fenomena Fatherless dan Pentingnya Peran Ayah Bagi Anak

    March 31, 2021No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Mengenal Fenomena Fatherless dan Pentingnya Peran Ayah Bagi Anak 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    JawaPos.com – Fenomena fatherless mungkin kurang awam di tengah kalangan masyarakat. Namun ternyata, fenomena fatherless alias ketidakhadiran seorang ayah baik secara fisik atau psikologis dalam kehidupan anak rupanya cukup besar di Indonesia.

    “Fatherless diartikan sebagai anak yang bertumbuh kembang tanpa kehadiran ayah, atau anak yang mempunyai ayah tapi ayahnya tidak berperan maksimal dalam proses tumbuh kembang anak dengan kata lain pengasuhan,” kata Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti melalui keterangannya, Rabu (31/3), dikutip dari Antara.

    Lebih lanjut, Indonesia berada di urutan ketiga di dunia sebagai negara tanpa ayah (fatherless country).

    Retno menyebutkan, fenomena ini disebabkan karena tingginya peran ayah yang hilang dalam proses pengasuhan anak. Krisis peran pengasuhan dari ayah seringkali disebabkan oleh peran gender tradisional yang masih diyakini oleh masyarakat Indonesia.

    Banyak kisah di masyarakat Indonesia yang menggambarkan fenomena fatherless, seperti sebuah keluarga miskin yang tidak memiliki figur ayah karena ibunya merupakan istri muda, keluarga kaya yang kehilangan figur ayah karena alasan sibuk bekerja dan sering bepergian keluar kota, atau tanpa sadar tidak menjadikan keluarga sebagai prioritas.

    “Reduksi peran gender tradisional memosisikan ibu sebagai penanggung jawab urusan domestik dan ayah sebagai penanggung jawab urusan nafkah masih melekat di masyarakat. Padahal, tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh kehadiran dari kedua orang tuanya dalam pengasuhan,” ujarnya.

    Lebih lanjut, anak yang mengalami fatherless rata-rata merasa kurang percaya diri, cenderung menarik diri di kehidupan sosial, rentan terlibat penyalahgunaan NAPZA, rentan melakukan tindak kriminal dan kekerasan, kondisi kesehatan mental yang bermasalah, munculnya depresi hingga pencapaian nilai akademis yang rendah.

    Hal tersebut umumnya terjadi karena anak kehilangan sosok ayah sebagai panutan dan pendamping hidup. Adanya kekosongan peran ayah dalam pengasuhan anak, terutama dalam periode emas, yakni usia 7-14 tahun dan 8-15 tahun sangat berpengaruh dalam urusan prestasi sekolah. Dampak fatherless bagi anak-anak yang bersekolah antara lain sulit konsentrasi, motivasi belajar yang rendah, dan rentan terkena drop out.

    Meskipun anak memiliki ayah, namun mereka tidak mendapatkan pendampingan dan pengajaran dari sosok ayah maka tetap berdampak buruk bagi perkembangan masa depannya.

    Penyedia platform edukasi GREDU memandang pentingnya memperkuat peran seorang ayah untuk mencintai anak dan keluarga, mendidik, dan sebagai model yang akan ditiru oleh anak. Para ayah bisa menjadi idaman untuk anak dan istri dengan membuktikan rasa sayang atau cinta terhadap anak, seperti mengajak anak jalan-jalan, bersepeda, bahkan menemani permainan yang disukai oleh anak. Semisal anak perempuan, maka ayah pun tetap bisa menemaninya bermain boneka begitupun sebaliknya untuk anak laki-laki yang suka bermain bola maka luangkanlah waktu untuk bermain bersama.

    Menurut GREDU, untuk menjadi ayah yang baik, bukan berarti harus menjadi superdad. Dari hal-hal yang simpel seperti meluangkan waktu, memberikan telinga untuk mendengarkan kisah dari anak-anak, memberikan kehangatan melalui ciuman, pelukan, atau bentuk kasih sayang lainnya, itulah yang diperlukan oleh anak.

    Keterlibatan ayah dalam pendidikan anak merupakan kesempatan emas yang tidak akan terulang lagi. Bersama ibu, ayah bisa mendedikasikan waktunya untuk tumbuh kembang anak. Orang tua juga perlu untuk menmberikan dukungan satu lain dan memberikan waktu bagi anak-anak.


    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticlePersonalized Learning Experience, Cara BRI Kembangkan Kompetensi Pekerja – KRJOGJA
    Next Article OLX Autos tambah gerai di Pejaten Village
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    SPMB Jateng 2026 Jalur Prestasi Punya Aturan Baru (Ilustrasi)

    SPMB Jateng 2026 Jalur Prestasi Punya Aturan Baru?

    June 3, 2026
    Cuti bersama Idul Adha 2026 berapa hari (ILustrasi/AI)

    Cuti Bersama Idul Adha 2026 Berapa Hari, Ada Potensi Long Weekend?

    May 25, 2026
    Haji Gratis dari Kerajaan Arab Saudi 2026 (Ilustrasi/Ai)

    Haji Gratis dari Kerajaan Arab Saudi 2026, Puluhan WNI Dapat Undangan?

    May 20, 2026
    Fenomena Langit Bulan Mei 2026 (Ilustrasi/AI)

    Fenomena Langit Bulan Mei 2026 Ada Hujan Meteor hingga Purnama Langka

    May 4, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.