Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»News»Mutasi Dibatalkan, Apa Salah Jenderal Gatot?
    News

    Mutasi Dibatalkan, Apa Salah Jenderal Gatot?

    December 21, 2017No Comments5 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Mutasi Dibatalkan, Apa Salah Jenderal Gatot? 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Mutasi Dibatalkan, Apa Salah Jenderal Gatot?

    Marsekal Hadi Tjahjanto dan Jenderal Gatot Nurmantyo.

    Oleh: Hersubeno Arief.

    Keputusan Panglima TNI  Marsekal Hadi Tjahjanto  membatalkan mutasi 16 perwira tinggi (Pati) TNI  mengundang polemik dan spekulasi.

    Mantan Mendagri Letjen TNI  (Purn) Syarwan Hamid  mempertanyakan bahkan mencurigai pembatalan mutasi ini. Apakah itu murni keputusan Panglima TNI, atau keputusan pimpinan tertinggi, dalam hal ini Presiden Jokowi.

    Setidaknya ada dua alasan mengapa mutasi ini dipersoalkan.

    Pertama, Peristiwa ini tidak lazim terjadi, tapi bukan berarti tidak pernah terjadi.  Pada saat SBY menjadi presiden menggantikan Megawati, dia membatalkan penunjukan Jenderal Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI.

    SBY memperpanjang masa jabatan Panglima TNI Endriartono Sutarto, padahal  dia sudah mengajukan pensiun kepada Presiden Megawati.

    Keputusan SBY ini menjadi polemik berkepanjangan dan memicu perdebatan keras di DPR. Sejumlah anggota DPR mengajukan Hak Interpelasi. 

    Walau sudah mendapat persetujuan DPR, pencalonan Ryamizard  akhirnya ditarik.  Dia kemudian digantikan oleh KSAU Marsekal TNI Djoko Suyanto.

    Kedua, mutasi para Pati  sudah melalui rapat Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti). Seperti dijelaskan oleh mantan Jenderal Gatot Nurmantyo, Hadi Tjahjanto  sebagai  KSAU dan anggota Wanjakti hadir dan memberi paraf berita acara mutasi tersebut. Dengan begitu bisa disimpulkan Hadi sudah mengetahui dan menyetujui mutasi tersebut.

    Hadi beralasan, dia menganulir mutasi itu berdasarkan evaluasi berkesinambungan sumber daya TNI dan untuk memenuhi kebutuhan organisasi dan tantangan masa depan. Hadi membantah ada faktor suka dan tidak suka (like and dislike).

    Pernyataan Hadi ini patut dipertanyakan. Apakah dalam rapat Wanjakti sebelumnya hal itu tidak dipertimbangkan. Apakah ketika ikut memberi persetujuan mutasi, dia berada di bawah tekanan? 

    Dalam tradisi TNI, kendati hirarkinya sangat ketat, namun dalam rapat –rapat, apalagi seperti Wanjakti, para peserta bebas mengutarakan pendapatnya, termasuk bila tidak sepakat. Tetapi setelah diputuskan, maka semua harus taat dan patuh kepada keputusan seorang panglima.

    Erat kaitannya dengan politik

    Bila kita cermati  peristiwa batalnya Ryamizard menjadi Panglima TNI dan dianulirnya mutasi 16 Pati –dari total 85 orang Pati—erat kaitannya dengan tarik menarik kepentingan politik. Bedanya pada peristiwa Ryamizard terjadi pada masa peralihan kekuasaan kepemimpinan nasional. Sementara mutasi kali ini erat kaitannya dengan hiruk pikuk menjelang kontestasi kepemimpinan nasional Pilpres 2019.

    Ryamizard yang pernah satu angkatan dengan SBY di Akademi Militer (Akmil) dianggap sebagai orangnya Megawati. Sementara Gatot Panglima TNI pilihan Jokowi yang berubah menjadi penantang potensialnya.

    Beberapa catatan berikut setidaknya bisa menjelaskan mengapa mutasi tersebut dibatalkan.

    Pertama, dari 16 Pati yang dibatalkan mutasinya, dua diantaranya adalah jabatan Panglima Komando Cadangan Strategis (Pangkostrad) TNI AD, dan Komandan Korps Marinir (Dankormar) TNI AL.

    Pada masa rezim Orde Baru, kedua jabatan tersebut bersama dengan Pangdam Jaya, dan Komandan Kopassus biasanya dijabat oleh para perwira kepercayaan Presiden Soeharto. Jabatan-jabatan tersebut sangat strategis karena berkaitan dengan pengamanan ibukota dan  penguasaan terhadap pasukan-pasukan elite TNI.

    Sebagai Panglima TNI yang  mempunyai kewenangan komando dan menggerakkan  pasukan,   wajar bila Hadi ingin jabatan-jabatan tersebut  diisi oleh perwira yang punya kedekatan dan loyalitas kepadanya.

    Hadi juga tidak mungkin bertindak sendiri, tanpa ada restu dari Jokowi, sebagaimana yang dicurigai oleh Syarwan Hamid.

    Kedua, Gatot Nurmantyo diganti secara mendadak sebelum masa pensiunnya tiba. Bila mengikuti usia pensiun normal, Gatot baru akan pensiun pada bulan Maret 2018.

    Gatot juga mengaku tidak diberi tahu Presiden ketika akan diganti. Bila dia tahu akan segera diganti, maka dia tidak akan melakukan mutasi.

    Akibat pergantian yang mendadak tersebut, Gatot juga tidak mempersiapkan diri dengan baik, sebagaimana kebiasaan para Panglima TNI terdahulu. Kabarnya dia juga segera mengosongkan rumah dinasnya dan pindah ke sebuah apartemen.

    Gatot belum sempat berpamitan dengan sejumlah panglima militer negara-negara sahabat, terutama di lingkup ASEAN. Hal itu sudah menjadi tradisi diantara para panglima militer yang akan pensiun dan melepas jabatannya.

    Gatot baru akan berpamitan dan berkeliling ASEAN setelah dia dicopot. Karena sudah tidak menjabat lagi, maka  dia harus minta izin kepada Panglima TNI yang baru.

    Ketiga, Desakan agar Gatot diganti sebenarnya sudah bergema sejak lama, ketika situasi menjelang Pilkada DKI 2017 memanas. Gatot dianggap sangat dekat dengan umat Islam, dan memanfaatkan kedekatannya dengan tujuan politik pada Pilpres 2019.

    Mutasi yang dilakukan diakhir masa jabatan, bisa dinilai sebagai upaya Gatot untuk tetap mempertahankan pengaruhnya di lingkungan TNI, dengan menempatkan orang-orang kepercayaannya. Bagi para penentang Gatot, hal itu harus dicegah.

    Momentum bagi Gatot

    Pergantian mendadak dan pembatalan mutasi –jika benar Gatot punya agenda politik untuk maju dalam Pilpres 2019– sebenarnya bisa menjadi berkah di balik musibah (blessing in disguise).

    Gatot bisa  mengkapitalisasinya menjadi sebuah momentum politik. Kesan bahwa Gatot “didzolimi oleh lingkaran dekat Jokowi, bahkan mungkin oleh Jokowi sendiri bisa menjadi modal yang sangat penting. Publik biasanya akan sangat bersimpati dengan figur tokoh yang didzolimi.

    Fenomena tersebut pernah terjadi ketika SBY menjadi Menkopolkam pada saat Megawati menjadi presiden. SBY kemudian mengalahkan Megawati pada Pilpres 2014.

    Begitu pula halnya dengan Megawati yang pernah didzolimi di masa pemerintahan Orde Baru. Ketika reformasi bergulir,  PDIP pimpinan Megawati keluar sebagai pemenang Pemilu 2009.

    Megawati terpilih menjadi wakil presiden, dan kemudian menjadi presiden menggantikan Abdurahman Wahid.

    Gatot bisa memanfaatkan dan meniru kedua jalur tersebut. Apalagi berdasarkan sejumlah survei,  elektabilitas Gatot juga cukup tinggi. Dia bersama Gubernur DKI Anies Baswedan banyak dijagokan sebagai figur alternatif di luar Jokowi dan Prabowo.

    Jika memang Gatot punya niat serius dan keberanian untuk bertarung dalam palagan Pilpres 2019, maka dia harus bergerak cepat. Pendaftaran capres/cawapres akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2018. tinggal delapan bulan lagi. Jika harus menunggu sampai pensiun pada bulan Maret, Gatot akan kehilangan waktu.

    Dalam politik waktu dan momentum sangat berharga. Anda harus  cepat dan berani mengambil kesempatan.

     “Opportunities are like sunrises. If you wait too long, you miss them.”

    –William Arthur Ward–

    TAGS : Opini Mutasi Pati TNI Panglima TNI

    This article is automatically posted by WP-AutoPost Plugin

    Source URL:http://www.jurnas.com/artikel/26691/Mutasi-Dibatalkan-Apa-Salah-Jenderal-Gatot/

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleLGBT, The Naival Consciousnes
    Next Article Negara Tak Serius Perangi Narkoba
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Demo Hari Ini di Jakarta Menuntut Apa? Simak Isinya (Ilustrasi/AI)

    Demo Hari Ini di Jakarta Menuntut Apa? Simak Isinya

    June 12, 2026
    Harga Pertamax Hari Ini Naik Berapa per 10 Juni 2026 (Ilustrasi/AI)

    Harga Pertamax Hari Ini Naik Berapa per 10 Juni 2026?

    June 10, 2026
    Korupsi Kuota Haji Terbaru (Ilustrasi/AI)

    Korupsi Kuota Haji Terbaru: KPK Panggil Dua Tersangka dari Biro Travel

    June 8, 2026
    Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang (Ilustrasi)

    Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang

    June 5, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • KPop Demon Hunters Sukses Menarik Perhatian di 2026
    • Starbucks Jadi Perbincangan Gegara Promosi yang Bikin Orang Kesal
    • Puasa Muharram Berapa Hari yang Dianjurkan? Ini Kata Ulama
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.