Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»News»Kasus Gangguan Jiwa Alami Peningkatan Akibat Pandemi
    News

    Kasus Gangguan Jiwa Alami Peningkatan Akibat Pandemi

    October 10, 2021No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Kasus Gangguan Jiwa Alami Peningkatan Akibat Pandemi 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Kasus Gangguan Jiwa Alami Peningkatan Akibat Pandemi 2
    Plt. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Maxi Rein (tengah) Rondonuwu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza (P2MKJN) Celestinus Eigya Munthe (paling kiri), Wakil Wali Kota Surakarta Teguh Prakosa (dua dari kiri), Kepala Dinkes Provinsi Jateng Yulianto Prabowo ( dua dari kanan), dan Direktur RSJD Surakarta dokter Setyowati (paling kanan) saat peringatan HKJS di RSJD Surakarta, Ahad (10/10). (BP/Ant)

    SOLO, BALIPOST.com – Angka kasus gangguan jiwa dan depresi mengalami peningkatan hingga 6,5 persen di Indonesia. Menurut Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan menyatakan peningkatan tersebut akibat pandemi COVID-19.

    “Dampak pandemi angka gangguan mental dan depresi mengalami peningkatan mencapai 6,5 persen secara nasional,” kata Plt. Dirjen P2P Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu, di acara Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Se-dunia (HKJS) 2021 di Aula Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta, Jawa Tengah, Ahad, di kutip dari kantor berita Antara, Minggu (10/10).

    Pada acara peringatan HKJS 2021 di Surakarta itu hadir secara daring Menkes Budi Gunadi Sadikin, sedangkan secara luring, Wakil Wali Kota Surakarta Teguh Prakosa, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza (P2MKJN) dr. Celestinus Eigya Munthe, Kadinkes Jateng Yulianto Prabowo dan beberapa direktur RSJD di Jateng.

    Pada peringatan HKJS pada tahun tersebut dengan tema Mental Health in An Unequal World dan tema nasional “Kesetaraan Dalam Kesehatan Jiwa Untuk Semua” itu, yang digelar di RSJD Surakarta, Provinsi Jateng.

    Menurut Maxi Rein, meningkatnya gangguan mental dan depresi pada masa pandemi tersebut kini pada angka sekitar 12 juta orang dan mereka usia produktif. Penyebabnya sebagian besar antara lain masalah keterbatasan sosial karena terlalu lama diam di rumah, dan karena kehilangan pekerjaan. “Mereka yang mengalami gangguan jiwa dan depresi mulai usia 15 tahun hingga 50 tahun atau usia produktif,” kata Maxi Rien.

    Hal tersebut, kata dia, menjadi target utama Dirjen P2P Kemenkes untuk menekan angka gangguan jiwa yang mulai tinggi pada masa pandemi ini. Bagaimana memperluas akses dengan pandemi ini, tentunya melakukan inovasi pelayanan-pelayanan dan sudah dikembangkan oleh organisasi profesi ikatan psikiatri dan psikolog. “Jadi pengalaman pandemi membuat pelayanan harus diinovasi mulai konsultasi hingga pemberian obat kepada pasien,” katanya.

    Dia mengatakan dengan kegiatan peringatan HKJS tersebut untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman tenaga kesehatan, orang pemerhati kesehatan jiwa, masyarakat serta isu-isu kesehatan jiwa termasuk memanfaatkan dan membahas berbagai ketimpangan seputar masalah kesehatan jiwa. “Kami juga mendorong kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pencegahan dan penanggulangan kesehatan jiwa,” katanya.

    Sementara Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza (P2MKJN) Celestinus Eigya Munthe menyebutkan bahwa terdapat kasus pasung pada 2020 sebesar 6.452 orang. Sedangkan, orang yang mengalami pemasungan kembali sebanyak 445 orang.

    Dia menjelaskan menurut survei 2020 yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), 63 persen responden mengalami cemas dan 66 persen responden mengalami depresi akibat pandemi COVID-19. Sedangkan, sebanyak 80 persen responden memiliki gejala stres pascatrauma psikologis karena mengalami atau menyaksikan peristiwa tidak menyenangkan terkait COVID-19.

    Gejala stres pascatrauma psikologis berat dialami 46 persen responden, gejala stres pascatrauma psikologis sedang dialami 33 persen responden, gejala stres pascatrauma psikologis ringan dialami 2 persen responden, sementara 19 persen tidak ada gejala. (Kmb/Balipost)

    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleNasional Laporkan Tambahan Kasus Terendah Sejak 15 Bulan Terakhir
    Next Article Prabowo Akan Maju Lagi Dalam Pilpres 2024
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW

    5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW

    June 4, 2026
    Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin (Ilustrasi/AI)

    Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin

    June 4, 2026
    Dino Patti Djalal Kritik Prabowo soal Kunjungan Luar Negeri (Instagram)

    Dino Patti Djalal Kritik Prabowo soal Kunjungan Luar Negeri

    June 2, 2026
    Keunggulan Jasa Import China Terpercaya untuk Bisnis Anda

    Keunggulan Jasa Import China Terpercaya Armocargo untuk Bisnis Anda

    May 25, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • SPMB Jateng 2026 Jalur Prestasi Punya Aturan Baru?
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.