Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Automotive»Seberapa cepat kita melaju untuk transisi energi baru?
    Automotive

    Seberapa cepat kita melaju untuk transisi energi baru?

    August 16, 2022No Comments5 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Seberapa cepat kita melaju untuk transisi energi baru? 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Jakarta (ANTARA) – Topik mengenai perubahan iklim dan pengurangan emisi karbon (CO2) beberapa tahun belakangan ini kian nyaring disuarakan oleh berbagai kalangan, mulai dari masyarakat, industri, dan pemangku kepentingan termasuk pemerintah di banyak negara di dunia.

    Baca juga: Pengamat ungkap tantangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia

    Dalam laporan Global Carbon Project, total emisi CO2 global untuk keseluruhan 2021 diperkirakan mencapai 36,4 miliar ton. Angka ini meningkat 4,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Industri otomotif merupakan salah satu sektor yang menyumbangkan emisi karbon yang cukup tinggi. Jika dirinci dari penggunaan, kendaraan bermotor berbahan bakar fosil adalah salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK).

    Tingkat penggunaan kendaraan bermotor yang tinggi merupakan salah satu penyebab kepadatan GRK di atmosfer bumi. Pada tahun 2009, menurut perhitungan World Wide Fund, sektor transportasi menyumbang sekitar seperempat dari total GRK di atmosfer bumi.

    Mengingat ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar fosil untuk sektor transportasi yang berlangsung lama, rasanya diperlukan satu upaya yang seragam dan beriringan dari para pemangku kepentingan terkait di dalamnya. Salah satu opsi yang cukup dipertimbangkan dengan serius oleh dunia adalah peralihan menuju energi terbarukan dan ramah lingkungan dalam sektor otomotif, termasuk di dalamnya adalah elektrifikasi.

    Baca juga: Uji terbang EHang 216 jadi sejarah untuk Indonesia

    Sebanyak 27 negara yang tergabung dalam Uni Eropa kini sedang mempersiapkan rencana penghapusan kendaraan dengan mesin pembakaran internal (ICE) di tahun 2035 hingga 2040. Pun dengan negara-negara lain seperti Amerika Serikat hingga China yang kian kompetitif dalam menciptakan regulasi dan teknologi terbaik untuk percepatan transisi daya ini.

    Di Indonesia, pemerintah telah meratifikasi Perjanjian Paris pada 2016 yang menegaskan komitmen Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. Melalui NDC, pemerintah menargetkan untuk menurunkan emisi GRK sebesar 29 persen dengan kemampuan sendiri, dan 41 persen dengan dukungan internasional pada 2030.

    Selain itu, Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi mengatakan Indonesia memiliki target net emisi nol pada tahun 2060. Perjalanan yang mungkin terdengar masih cukup jauh digapai, namun waktu terus berlalu tanpa terasa.

    Baca juga: Terus berkembang, kendaraan listrik akan jadi yang terbaik di masa depan

    Transisi energi tak lepas dari regulasi

    Percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik pun rasanya makin penting dilakukan sebagai upaya untuk melawan perubahan iklim, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan. Perpres ini merupakan payung hukum utama dari kendaraan listrik di Tanah Air.

    Ada pula Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 73 Tahun 2019 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), yang kemudian diubah menjadi PP Nomor 74 Tahun 2021.

    Peraturan itu mengatakan bahwa PPnBM tidak lagi dihitung berdasarkan jenis dan kapasitas mesin mobil, namun berdasarkan emisi dan konsumsi bahan bakar. Sehingga, tarif PPnBM 0 persen berlaku bagi kendaraan bermotor yang menggunakan teknologi baterai atau listrik.

    Baca juga: Hadapi perubahan iklim, BUMN ini gelar sosialisasi asuransi kendaraan listrik

    Regulasi pun tak hanya keluar dari presiden, namun juga kementerian terkait. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 27 Tahun 2020 tentang Spesifikasi, Peta Jalan Pengembangan, dan Ketentuan Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.

    Ada juga Permenperin Nomor 28 Tahun 2020 tentang Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai Dalam Keadaan Terurai Lengkap dan Keadaan Terurai Tidak Lengkap.

    Tak hanya itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 13 Tahun 2020 tentang Penyediaan Infrastruktur Pengisian Listrik untuk Kendaraan Bermotor Berbasis Baterai (SPKLU).

    “Peraturan-peraturan tersebut mengatur banyak hal mulai dari kebijakan secara umum, insentif, hingga pengembangan industri Kendaraan Listrik Berbasis Baterai (KLBB) termasuk di dalamnya soal teknologi dan komponen lokal (TKDN) kendaraan,” kata Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Taufiek Bawazier, baru-baru ini.

    Baca juga: Chery berencana investasi 1 miliar dolar AS di Indonesia

    Kesiapan industri dan masyarakat

    Upaya dan kesadaran untuk beralih ke energi yang lebih ramah kepada Bumi bukan hanya milik pemerintah sendiri. Industri dan masyarakat juga memiliki porsi tanggung jawab masing-masing sesuai dengan kemampuannya.

    Di sektor industri, pengenalan teknologi dan kendaraan berbasis listrik juga mulai gencar dilakukan. Pada penyelenggaraan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2022, bisa dibilang hampir semua merek memboyong kendaraan elektrifikasi andalannya masing-masing, yang dinilai cocok dengan kondisi infrastruktur ekosistem EV di Indonesia kini hingga beberapa waktu ke depan.

    Para agen pemegang merek (APM) otomotif di Indonesia pun juga melakukan sinergi dengan regulator demi membangun ekosistem kendaraan listrik di Bumi Nusantara dengan baik dan berkelanjutan.

    Baca juga: PLN siap “all out” dukung penjualan kendaraan listrik di Indonesia

    Ada Mitsubishi Motors, Nissan, FUSO, Isuzu dan Toyota yang tergabung dalam EV Smart Mobility–Joint Project, yang mengoperasikan proyek percontohan ekosistem EV di Bali dengan melibatkan berbagai jenis kendaraan mulai dari segmen kendaraan penumpang hingga segmen kendaraan komersial.

    Terdapat pula Wuling Motors yang merakit mobil listriknya, Wuling Air ev, di pabriknya yang terletak di Cikarang, Jawa Barat. Selain itu, ada sejumlah APM lainnya dari berbagai negara yang aktif melakukan kerja sama pengembangan ekosistem EV di Indonesia dengan regulator terkait seperti PLN.

    Sementara, untuk kalangan masyarakat, penting juga untuk diberikan edukasi soal manfaat hingga penghematan yang bisa didapatkan saat bertransisi ke kendaraan listrik.

    Di GIIAS 2022, pengunjung bisa mendapatkan pendampingan dari para ahli kendaraan listrik, dari masing-masing APM yang akan memberikan berbagai informasi dan edukasi tentang kelebihan dari kendaraan listrik, hingga pengalaman berkendara yang benar.

    Menyambut masa depan

    Dengan berbagai persiapan yang dilakukan banyak kalangan, pastinya menumbuhkan sepercik optimisme untuk mewujudkan ekosistem transportasi yang mampu menjaga umur Bumi lebih lama lagi.

    Seperti layaknya tanah yang kita pijak, perjalanan panjang ini mungkin tak akan selalu mulus, bahkan membutuhkan waktu, komitmen, dan kesabaran demi mencapai tujuan akhir yang indah.

    Dan perjalanan itu akan semakin bermakna jika kita dapat menjalaninya bersama-sama, bukan?

    Baca juga: PLN ajak masyarakat jajal kendaraan listrik secara gratis

    Baca juga: Bahlil sebut VW akan investasi di Indonesia tahun ini

    Baca juga: BRIN: IEMS 2022 dukung perkembangan kendaraan listrik di Indonesia

    Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
    Editor: Ida Nurcahyani
    Copyright © ANTARA 2022

    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleApakah Suzuki S-Presso bakal diproduksi di Indonesia?
    Next Article 20 Tahun Menanti, Kolaborasi Kimo Stamboel-Titi Kamal Terwujud
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Pengadaan Motor MBG Dikritik Berbagai Pihak (Ilustrasi/AI)

    Pengadaan Motor MBG Dikritik Berbagai Pihak, BGN Membela Diri

    April 8, 2026
    Federal Oil™ Membuka Rangkaian Feders Gathering 2026 (istimewa)

    Bandung Buka Feders Gathering 2026, Federal Oil™ Perkuat Kebersamaan Komunitas Motor Matic

    March 2, 2026
    Jadwal MotoGP 2026 Terbaru Dirilis (Ilustrasi/AI)

    Jadwal MotoGP 2026 Terbaru Dirilis, Seri Pembuka Digelar di Thailand

    February 27, 2026
    Agrinas Impor Mobil 105.000 Pikap dari India (Ilustrasi/AI)

    Agrinas Impor Mobil 105.000 Pikap dari India, DPR Minta Ditunda

    February 23, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.