Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Ekonomi»Untung Bersama Model Bisnis Dapur Bersama
    Ekonomi

    Untung Bersama Model Bisnis Dapur Bersama

    August 28, 2022No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Untung Bersama Model Bisnis Dapur Bersama 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Pandemi Covid-19 membuat sistem bisnis digital berkembang pesat. Salah satunya cloud kitchen. Konsep pujasera online itu punya potensi meningkat di tengah perkembangan teknologi informatika saat ini.

    —

    KONSEP cloud kitchen alias dapur bersama memang tidak terlalu baru. Penyedia tempat untuk jasa kuliner itu sudah ada sejak pusat jajanan selera rakyat (pujasera) berkembang. Namun, hal itu bergeser sistem pembelian dengan adanya pandemi Covid-19 dan meroketnya layanan kuliner online.

    Thomas Tirta melihat kesempatan itu di awal pandemi. Sebagai pengusaha kuliner, dia tahu bahwa tekanan yang dihadapi selama pembatasan kegiatan sosial sangat besar. Tak ada lagi pengunjung mal atau masyarakat yang keluar untuk makan di tempat. Satu-satunya jalan adalah bergabung dalam ekosistem online food delivery (OFD).

    ”Satu-satunya pikiran kami adalah cara menekan biaya pengeluaran. Karena mengelola usaha kafe dan restoran butuh biaya besar,” ucapnya.

    Dari sana, konsep cloud kitchen yang sudah merambah di level global mulai dipikirkan. Cloud kitchen adalah layanan di satu tempat dengan beberapa pengusaha kuliner berbagi dapur. Dengan begitu, pelaku usaha tak perlu biaya investasi lahan.

    Dengan rencana tersebut, Thomas bersama rekanannya, Joshua Bong, memulai bisnis itu. Mereka mengubah rumah di wilayah Embong Gayam, Surabaya, menjadi 13 kitchen station. Mereka mengundang tenant untuk bergabung. ”Sekarang kami sudah menampung 10 tenant. Dalam waktu dekat kami mau tambah 10 kitchen lagi,” papar co-owner Kitchen Space itu.

    Jika dihitung, membangun 13 dapur butuh biaya besar. Pengusaha cloud kitchen sudah pasti butuh lahan yang cukup luas. Namun, Thomas mengatakan bahwa model bisnisnya jauh lebih fleksibel semenjak pandemi. Dia melakukan kerja sama dengan pemilik lahan dengan sistem bagi hasil. Tenant pun masuk tanpa harus membayar iuran atau biaya sewa.

    Dengan modal tersebut, dia mendapatkan 15 persen dari omzet penyewa. Hasil itu dibagi-bagi untuk kebutuhan operasional dan bagian dari pemilik lahan.

    Setelah lebih dari setahun berkecimpung di dunia cloud kitchen, dia melakukan evaluasi. Hasilnya, penyedia dapur bersama tidak bisa hanya menyediakan tempat. Jika tak sesuai standar, ekosistem yang disediakan tidak akan bertahan lama.

    Dia harus mengatur alur dapur agar kinerja operasional penyewa meningkat. Termasuk menjaga higienitas dalam produksi makanan. ”Saya sudah berpengalaman kerja di restoran sejak belajar perhotelan di Sydney 2013 lalu. Nah, saya menerapkan ilmu saya untuk membuat waktu pembuatan menu dari 10 menit menjadi 5 menit,” paparnya.

    Selain meningkatkan kinerja operasional, dia bertugas melakukan marketing untuk produk tenant. Setiap hari Thomas menanyakan menu apa yang masih tersisa banyak dan langsung mempromosikannya.

    Dia bahkan melakukan promosi antarmerek untuk bisa mengangkat penjualan produk yang belum mencapai target. ”Kalau ada tenant yang penjualannya lambat, kami akan pasangkan dengan yang penjualannya tinggi. Ini salah satu keunggulan cloud kitchen,” ujarnya.

    Memang, saat ini profit yang diraih tidak terlalu besar. Namun, dia mengatakan bahwa hal tersebut untuk membangun portofolio. Setelah ekosistemnya matang, Thomas optimistis valuasinya meningkat dan banyak pendapatan tambahan yang bisa diperoleh.

    Dia memberi pesan bagi yang memang berniat untuk membangun ekosistem tersebut. Yakni, perhatikan sumber daya manusia yang merupakan aset penting dalam penyedia layanan cloud kitchen. Thomas harus melatih karyawannya agar bisa sesuai standar. ”Kasir, misalnya. Perannya bukan sekadar untuk pembayaran, tapi mengawasi kinerja dari karyawan tenant kami,” paparnya.

    TIPS MEMBANGUN CLOUD KITCHEN

    – Pilih lokasi strategis. Dekat perkantoran atau sekolah.

    – Pilih tenant yang produknya sesuai dengan standar.

    – Awasi operasional setiap dapur sesuai dengan standar.

    – Promosikan produk penyewa sesuai dengan kebutuhan mereka.

    Diolah dari berbagai sumber


    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticlePengunduran Diri Irjen Ferdy Sambo Ditolak Kapolri
    Next Article Blak-blakan Tulus soal Nala, Tak Terencana dan Langsung Diterima
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru (Ilustrasi/AI)

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru, Pemerintah Bentuk PT DSI untuk Atur Ekspor

    May 21, 2026
    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat (Instagram/@menkeuri)

    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat

    May 18, 2026
    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter (Ilustrasi/AI)

    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter

    May 5, 2026
    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing (Ilustrasi/Ai)

    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing

    April 29, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • KPop Demon Hunters Sukses Menarik Perhatian di 2026
    • Starbucks Jadi Perbincangan Gegara Promosi yang Bikin Orang Kesal
    • Puasa Muharram Berapa Hari yang Dianjurkan? Ini Kata Ulama
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.