Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Ekonomi»Budidaya Rumput Laut Gerakan Roda Ekonomi Masyarakat
    Ekonomi

    Budidaya Rumput Laut Gerakan Roda Ekonomi Masyarakat

    December 9, 2022No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Budidaya Rumput Laut Gerakan Roda Ekonomi Masyarakat 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    JawaPos.com – Rumput laut sebagai unggulan sektor kelautan dan perikanan memegang peranan penting bagi perputaran ekonomi masyarakat. Seperti di Sumenep Jawa Timur, yakni di Desa Tanjung, Pagar Batu, dan Lobuk, permata hijau ini menyumbang pendapatan hingga Rp 3.406,986 Miliyar/tahun.

    Nilai fantastis tersebut dihasilkan oleh 15 kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) dengan pemanfaatan lahan seluas 5.600 km2. Adapun jenis rumput laut yang dibudidayakan sebagian besar adalah Eucheuma cottonii karena harganya tergolong tinggi.

    Per kilogram rumput laut dihargai Rp 5.000-6.000/kg untuk kondisi basah, Rp 17.000/kg kering asin, dan Rp 23.000/kg kering tawar. Namun permintaan tertinggi justru saat rumput laut masih basah di mana produksinya bisa mencapai 200.411 ton/tahun.

    Saat ini, penjualan rumput laut masih mengandalkan pengepul untuk selanjutnya disalurkan ke pabrik-pabrik di berbagai kota. Diantaranya Sumenep, Pasuruan, Banyuwangi, Surabaya, dan Bali. “Kalau pabrik besar seperti yang di Bali mintanya basah karena punya quality control sendiri ditangani sendiri,” kata Ida Dwi Suryani Penyuluh Perikanan.

    Ida menambahkan, rumput laut cottonii di ketiga desa tersebut umumnya dibudidayakan menggunakan metode rakit apung atau disebut sebagai ancak. Rakit dipilih karena dianggap paling sesuai dengan kondisi dasar perairan di sana yang berbatu dan berlumpur. Metode inipun telah jamak digunakan sejak tahun 1998 dan dilakukan secara turun temurun.

    Dengan rakit, lokasi budidaya juga dapat disesuaikan dengan pasang surut air laut. Ketika pasang rakit akan diposisikan dekat ke darat, namun saat surut ditarik jauh mengikuti dalamnya laut. Cara ini untuk menjaga rakit agar tidak terbawa gelombang besar yang dapat menimbulkan kerugian.

    Untuk memindah-mindahkan rakit, pembudidaya kerapkali membutuhkan tenaga tambahan baik dari sesama anggota kelompok maupun bukan. Mereka diberi upah Rp 30.000 per pekerjaan yang dilakukan. Aktivitas inipun memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat setempat.

    Rakit sendiri berbentuk persegi panjang dan dibuat dari bambu dengan ukuran panjang lebar 9mx10m. Bagian dalamnya dibagi lagi menjadi 4 bagian, lalu setiap sudutnya diikat kuat menggunakan tali nilon. Kemudian rakit diberi jangkar atau pemberat agar tidak terbawa arus.

    Budidaya Rumput Laut Gerakan Roda Ekonomi Masyarakat 2
    Budidaya rumput laut Cottonii di Desa Tanjung, Pagar Batu, dan Lobuk menggunakan metode rakit apung atau disebut sebagai ancak menyumbang pendapatan hingga Rp 3.406,986 Miliar/tahun. (LPMUKP untuk JawaPos.com)

    Pada bambu itulah membentang tali ris yang berisi ikatan-ikatan bibit rumput laut. Jumlahnya bisa mencapai 80 ris dengan total bibit sekitar 200 kg atau 2 kuintal. Dalam kurun waktu 32 hari pemeliharaan, rumput laut siap dipanen.

    “Satu pembudidaya minimal punya 4 ancak, ada yg sampai 25. Kalau panen bagus 1 ancak bisa 3 kali lipat menghasilkan 600kg atau 6 kuintal,” kata Ida antusias.

    Artinya, dalam sekali panen pembudidaya dengan kepemilikan minimal 4 ancak bisa meraup omzet belasan juta rupiah. Jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit dan menjanjikan untuk menunjang kehidupan.

    Tingginya potensi budidaya rumput laut yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat didukung penuh oleh pemerintah pusat dan daerah agar semakin berkembang. Salah satunya, pelebaran dan perbaikan jalan berupa hotmix untuk memperlancar aktivitas usaha yang dijalankan.

    Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga telah menetapkan Desa Tanjung, Pagar Batu, dan Lobuk sebagai Kampung Budidaya Rumput Laut. Berbagai fasilitas disediakan mulai dari pendampingan usaha hingga permodalan melalui satuan kerja Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP).

     

    Editor : Mohamad Nur Asikin

    Reporter : ARM


    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticlePeringatan Hakordia, BBRBLPP Gondol Serahkan 1,5 Juta Telur Bandeng Hasil SFV
    Next Article BMW pastikan akan bawa BMW i7 ke Indonesia pada tahun depan
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru (Ilustrasi/AI)

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru, Pemerintah Bentuk PT DSI untuk Atur Ekspor

    May 21, 2026
    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat (Instagram/@menkeuri)

    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat

    May 18, 2026
    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter (Ilustrasi/AI)

    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter

    May 5, 2026
    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing (Ilustrasi/Ai)

    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing

    April 29, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.