Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»News»Haedar Nashir Guru Besar, Hasto: Mata Hati Peradaban Islam dan Keindonesiaan
    News

    Haedar Nashir Guru Besar, Hasto: Mata Hati Peradaban Islam dan Keindonesiaan

    December 12, 2019No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Haedar Nashir Guru Besar, Hasto: Mata Hati Peradaban Islam dan Keindonesiaan

    Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir, M.Si bersama Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan para tokoh, saat pengukuhan sebagai guru besar Ilmu Sosiologi di UMY

    Jakarta, Jurnas.com – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir, M.Si. secara resmi dikukuhkan menjadi guru besar dalam bidang Ilmu Sosiologi, Kamis, (12/12) di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

    Atas pengukuhan gelar akademik tertinggi ini, PDI Perjuangan mengucapkan selamat dan ikut berbangga hati, terlebih buah pemikiran dan intelektualitas Prof. Dr Haedar Nashir, M.Si memberi sumbangsih besar bagi bangsa dan negara Indonesia.

    “Ibu Megawati Soekarnoputri dan keluarga besar PDI Perjuangan ikut berbangga atas pemberian gelar guru besar kepada Prof. Dr Haedar Nashir, M.Si,” ujar Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto usai menyaksikan acara pengukuhan.

    Kata Hasto, Prof. Dr Haedar Nashir, M.Si dikenal sebagai sosok yang rendah hati, sempurna pandangan pemikirannya untuk kebesaran Muhammadiyah, kemaslahatan umat, dan tentu saja untuk kemajuan Indonesia Raya.

    Menurut Hasto, apa yang disampaikan oleh Haedar Nashir yang mengedepankan moderasi sebagai suatu metode mengatasi masalah dengan cara mengatur, memandu, dan mengedepankan dialog, serta lebih memilih cara persuasif dan komunikasi interaktif merupakan pendekatan terobosan yang sesuai dengan tata budaya Indonesia. Meskipun demikian moderasi tetap berdiri kokoh di atas hukum.

    “Pendapat Beliau bahwa radikalisme yang dilawan dengan cara radikal akan menciptakan radikalisme baru adalah suatu kritik. Dengan moderasi, maka penangganan berbagai bentuk ekstrimisme di ranah agama, politik, dan ekonomi akan dilakukan dalam persepktif yang lebih luas. Moderasi bertopang pada kemanusiaan dan keadilan,” papar Hasto.

    Ditambahkan Hasto, gagasan Prof Haedar Nashir bahwa Pancasila berdiri tengah dimaknakan sebagai komitmen kebangsaan agar Indonesia tidak terombang-ambing pada tarik menarik kepentingan ekstrim kiri dan kanan.

    “Selamat untuk Prof Dr Haedar Nashir, M.Si. Gelar guru besar tersebut membuktikan kuatnya tradisi keagamaan dan sekaligus tradisi intelektual yang hidup di Muhammadiyah,” jelas Hasto Kristiyanto.

    Haedar Nashir menyampaikan pidato pengukuhan guru besa dengan judul “Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan: Perspektif Sosiologi”. Pidato itu panjangnya 84 halaman.

    Pengukuhan Haedar dihadiri sejumlah menteri, mantan menteri dan tokoh termasuk Wakil Presiden periode 2014-2019, Jusuf Kalla. Sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju hadir, seperti: Menko PMK Muhadjir Effendy, Menteri Agama, Fachrul Razi, Menteri Koperasi Teten Masduki, Mensesneg Pratikno, mantan menteri Susi Pudjiastuti, tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Malik Fadjar, dan Buya Syafii Maarif.

    Dalam satu bagian pidatonya Haedar menyampaikan moderasi Indonesia dan keindonesiaan sebagai pandangan dan orientasi tindakan untuk menempuh jalan tengah atau moderat merupakan keniscayaan bagi kepentingan masa depan Indonesia yang sejalan dengan landasan, jiwa, pikiran, dan cita-cita kemerdekaan
    sebagaimana terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 dan spirit para pendiri bangsa.

    “Indonesia harus dibebaskan dari segala bentuk radikalisme baik dari tarikan ekstrem ke arah liberalisasi dan sekularisasi maupun ortodoksi dalam kehidupan politik, ekonomi, budaya, dan keagamaan yang menyebabkan Pancasila dan agama-agama kehilangan titik moderatnya yang autentik di negeri ini,” ujar Haedar.

    TAGS : Haedar Nashir Pancasila Guru Besar

    This article is automatically posted by WP-AutoPost Plugin

    Source URL:http://www.jurnas.com/artikel/63860/Haedar-Nashir-Guru-Besar-Hasto-Mata-Hati-Peradaban-Islam-dan-Keindonesiaan/

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleIran Tak Terima Komentar Usil Prancis
    Next Article Benarkan Pernyataan SBY Soal Politik Identitas, PDI – P : Evaluasi Pelaksanaan Pilpres
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja BPJS Kelas Berapa (Ilustrasi/AI)

    Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja BPJS Kelas Berapa? Dicatat Aturannya

    July 14, 2026
    6 Tips Memilih Hoodie Korea Original Agar Tidak Salah Beli

    6 Tips Memilih Hoodie Korea Original Agar Tidak Salah Beli

    July 13, 2026
    Paris Museum Braga, Cafe Baru Bergaya Galeri Seni di Jantung Bandung

    Paris Museum Braga, Cafe Baru Bergaya Galeri Seni di Jantung Bandung

    July 9, 2026
    Kanvill Dau, Sensasi Grill Sendiri dengan Pemandangan Perbukitan di Malang

    Kanvill Dau, Sensasi Grill Sendiri dengan Pemandangan Perbukitan di Malang

    July 8, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • iOS 27 Download Sudah Tersedia dalam Versi Public Beta, Begini Cara Unduhnya
    • Rekomendasi Laptop Mahasiswa untuk Semua Jurusan dan Budget
    • The Odyssey Menceritakan Tentang Apa Sih, Diadaptasi dari Puisi?

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.