Hari Raya Beruntun, Bali Terancam Inflasi Tinggi

Suasana di Pasar Kreneng, Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Akhir Februari hingga Maret, ada tiga hari raya beruntun yakni Galungan dan Kuningan, Nyepi dan awal Ramadan. Hal ini dapat menjadi pemicu inflasi terutama di Bali.

Terlebih lagi saat ini, harga sejumlah kebutuhan pokok seperti beras dan cabai telah mengalami kenaikan. Khusus beras, kenaikannya sudah sangat tinggi.

Berdasarkan kondisi tersebut, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) provinsi dan kabupaten/kota di Bali diminta melakukan antisipasi. Demikian disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Bali, Dewa Made Indra, dalam rapat koordinasi TPID dan penyusunan one page summary TPID Award 2024, di Denpasar, Sabtu (17/2).

Menurut Dewa Indra, rangkaian hari raya Galungan, Kuningan, Nyepi, dan Ramadan akan diikuti dengan peningkatan kebutuhan. “Akhir Februari ada Galungan, kemudian awal Maret ada Kuningan yang dirangkai dengan Nyepi. Setelah itu, lanjut datangnya Ramadan. Oleh sebab itu kita harus bisa pastikan ketersediaan suplai agar tak terjadi inflasi,” kata Dewa Indra.

Adapun saran kepada TPID dalam mengantisipasi inflasi saat hari raya beruntun adalah dengan melakukan pengawasan intensif pada ketersediaan kebutuhan seperti daging dan bahan makanan lainnya.

Selain itu, ia juga menyoroti harga beras yang tinggi, namun untuk hal ini ia sudah berkoordinasi dengan Bulog agar ikut menekan laju kenaikan harga beras di pasaran.

Dewa Indra mengingatkan agar mereka memedomani prinsip 4K yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif, serta ia mendorong penguatan koordinasi dan kerja sama lintas kabupaten/kota.

“Pola ini sudah kita bangun dan saya harap terus dioptimalkan. Semua kabupaten jaga kestabilan produksi sesuai potensi masing-masing,” ujarnya.

Menurut Sekda Bali, mengantisipasi kenaikan inflasi sejatinya tanggung jawab bersama, untuk itu ia meyakini TPID juga tahu langkah apa yang tepat untuk mereka lakukan.

Selama ini Bali kerap harus menghadapi situasi berpotensi inflasi, dan semuanya berhasil dilewati dengan rentang aman tanpa lonjakan harga begitu tinggi.

Dalam rapat koordinasi tersebut turut hadir Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali R Erwin Soeriadimadja. Ia mengapresiasi keberhasilan TPID seluruh Bali dalam pengendalian angka inflasi yang terakhir tercatat 2,6 persen.

“Capaian ini adalah buah kerja keras jajaran TPID provinsi dan kabupaten/kota yang telah melakukan langkah tepat dalam pengendalian inflasi,” kata dia.

Erwin juga menyinggung keunikan Bali sebagai daerah tujuan pariwisata, menurutnya suplai kebutuhan untuk Bali bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tapi juga untuk wisatawan yang berkunjung.

“Karena itu, Bali bukan hanya menjadi daerah penghasil tapi juga tergantung pada daerah lain,” ujarnya. (kmb/balipost)

Credit: Source link