Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»News»Indonesia Diperkirakan Butuh Waktu 10 Tahun Capai Target Herd Immunity
    News

    Indonesia Diperkirakan Butuh Waktu 10 Tahun Capai Target Herd Immunity

    April 26, 2021No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Indonesia Diperkirakan Butuh Waktu 10 Tahun Capai Target Herd Immunity 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Indonesia Diperkirakan Butuh Waktu 10 Tahun Capai Target Herd Immunity 2
    Ahli Geonitika Molekuler dan Biokimia Halida P Widyastuti (kanan atas) saat menyampaikan pemaparan dalam acara webinar Media Gathering bertajuk “Percepatan Penanganan dan Pemulihan COVID-19” yang digelar International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Senin (26/4/2021). (ANTARA/Andi Firdaus)
    Indonesia Diperkirakan Butuh Waktu 10 Tahun Capai Target Herd Immunity 3

    JAKARTA, BALIPOST. com – Indonesia diperkirakan perlu waktu sekitar 10 tahun untuk mencapai target kekebalan komunal atau ‘herd immunity’ dari ancaman penularan COVID-19. Hal ini dikarenakan tingkat kepesertaan vaksinasi masih bergerak lambat.

    “Vaksinasi kita rate-nya masih rendah, hanya 2,2 persen dari populasi. Pemerintah menargetkan vaksinasi harus 1 juta orang per bulan, tapi rate ini diperkirakan merendah lagi, karena ada embargo dari negara produsen vaksin seperti India,” kata ahli Geonitika Molekuler dan Biokimia, Halida P Widyastuti, melalui tayangan webinar Media Gathering bertajuk “Percepatan Penanganan dan Pemulihan COVID-19” yang digelar International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) dikutip dari kantor berita Antara, Senin (26/4).

    Perempuan yang aktif di PT Kalbe Farma mengemukakan tingkat kepesertaan vaksinasi di Indonesia berjalan sangat lambat karena berbagai faktor. Seperti ketergantungan pada impor vaksin hingga keterbatasan bahan baku serta infrastruktur penyimpanan vaksin. Selain itu, masih ada keraguan sebagian masyarakat untuk menerima vaksin yang disediakan pemerintah.

    Melihat situasi yang terjadi sekarang, kata Hilda, penting untuk mengevaluasi kembali kebijakan yang sudah diimplementasikan oleh pemerintah efektif dalam pengendalian pandemi. “Selama ini ada karantina wilayah, pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), ganjil-genap dan lainnya ini sebenarnya memiliki tingkat kesuksesan yang rendah, sebab ada celah, seperti membolehkan sekian orang bekerja di kantor,” katanya.

    Padahal, kebijakan itu seharusnya ditaati dan dilakukan untuk membatasi pergerakan masyarakat supaya virusnya tidak menyebar.

    “Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memproyeksikan vaksinasi rate akan turun dari 1 juta orang per bulan jadi 500 ribuan. Ini akan mempengaruhi proses pembentukan ‘herd immunity’. Berdasarkan perkiraan Universitas Johns Hopkins, dibutuhkan sekitar 10 tahun untuk Indonesia mencapai ‘herd immunity’ jika kecepatan vaksinasi kita tetap seperti sekarang,” katanya.

    Menurut Profesor Gypsyamber D’Souza dari Johns Hopkins University, herd immunity adalah kekebalan komunal yang terbentuk ketika hampir seluruh orang dari sebuah populasi memiliki kekebalan (imun) terhadap suatu penyakit. Adapun sebagian kecil yang lainnya akan terlindungi meski tidak memiliki kekebalan yang sama.

    Sebagai contoh, ketika 80 persen orang dalam satu populasi kebal terhadap penyakit, itu berarti empat dari lima orang yang berinteraksi dengan orang yang sakit, tidak akan ikut jatuh sakit karena sudah memiliki kekebalan tubuh.

    Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa kemungkinan penyebaran penyakit rendah, sehingga tidak lagi menyebabkan banyak kasus. Pada tahap inilah herd immunity terbentuk.

    Hilda menyarankan sejumlah solusi untuk mempercepat proses vaksinasi COVID-19, seperti pemberlakuan kebijakan berdasarkan ilmu pengetahuan, memperketat pergerakan masyarakat dengan didukung bantuan sosial yang mencukupi.

    “Kita juga harus meningkatkan kapasitas tes dan pelacakan kontak. Kita harus bisa melatih teknisi laboratorium sebanyak mungkin dan meningkatkan kapasitas laboratorium di seluruh Indonesia,” katanya.

    Selain itu, pemerintah juga perlu mengintensifkan kampanye vaksinasi agar muncul keinginan masyarakat untuk ikut serta. (Kmb/Balipost)

    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleDFSK jual 458 kendaraan di IIMS Hybrid 2021
    Next Article Libur Lebaran, DIY Tidak Terima Kunjungan Wisata Warga Luar Provinsi
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Ancaman Ransomware Naik, Sysware Sebut EDR Adalah Investasi IT Krusial

    Ancaman Ransomware Naik, Sysware Sebut EDR Adalah Investasi IT Krusial

    June 24, 2026
    Polda Sumbar Gelar Road to Kapolri Cup MLBB 2026, Ajak Generasi Muda Ukir Prestasi di Dunia Esports

    Polda Sumbar Gelar Road to Kapolri Cup MLBB 2026, Ajak Generasi Muda Ukir Prestasi di Dunia Esports

    June 23, 2026
    Mengenal Prediction Market: Inovasi Pasar Prediksi yang Kian Populer di Era Digital

    Mengenal Prediction Market: Inovasi Pasar Prediksi yang Kian Populer di Era Digital

    June 19, 2026
    Demo Hari Ini di Jakarta Menuntut Apa? Simak Isinya (Ilustrasi/AI)

    Demo Hari Ini di Jakarta Menuntut Apa? Simak Isinya

    June 12, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Apakah Niat Puasa 9 dan 10 Muharram dan Qadha Ramadhan Bisa Digabung?
    • Ancaman Ransomware Naik, Sysware Sebut EDR Adalah Investasi IT Krusial
    • Kerusakan Ginjal Disebabkan Oleh Apa? Kenali Penyebab serta Risikonya
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.