Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»News»Jokowi Ingin Tingkat Pengangguran 5,5–6,3 Persen, Kemenkeu: Bisa
    News

    Jokowi Ingin Tingkat Pengangguran 5,5–6,3 Persen, Kemenkeu: Bisa

    August 18, 2021No Comments2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Jokowi Ingin Tingkat Pengangguran 5,5–6,3 Persen, Kemenkeu: Bisa 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    JawaPos.com – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menargetkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sekitar 5,5 hingga 6,3 persen. Sementara tingkat kemiskinan di level 8,5-9 persen. Pernyataan tersebut diungkapkan dalam pidato RAPBN 2022.

    Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memandang, hal itu bisa saja terjadi karena jika berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2021 angka pengangguran terbuka sudah berada di level 6,3 persen. Sehingga, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Kacaribu optimis pada tahun 2022 mendatang dapat lebih rendah. “Nah untuk 2022 apakah bisa mencapai di bawah 6,3 persen tentu bisa. Realistis dengan catatan ada siklusnya,” kata Febrio dalam konferensi pers virtual, Rabu (18/8).

    Febrio memaparkan, faktor utama dalam menurunkan tingkat pengangguran mengacu pada kondisi pertumbuhan ekonomi dan situasi pandemi Covid-19 tahun depan. Kuncinya jika pertumbuhan ekonomi nasional dapat berkisar di angka 3,7 hingga 4,5 persen tahun ini diharapkan dapat terwujud. “Pertumbuhan ekonomi itu akan cukup realistis terhadap penurunan tingkat pengangguran. Tentunya kuncinya ada di pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.

    Hal senada juga dikatakan oleh Kepala Kelompok Kerja Kebijakan TNP2PK Elan Satriawan. Jika pertumbuhan ekonomi terus meningkat maka harapannya tingkat pengangguran akan menurun.

    Sehingga, harus dipastikan strategi kebijakan sektoral maupun infrastruktur yang memadai. Sebab, nantinya akan berdampak pada sektor-sektor produktif. “Jadi kalau kita lihat sektor infrastruktur dan manufaktur itu menyerapnya kebanyakan tenaga kerja yang formal. Nah tetapi yg harus kita perhatikan adalah mereka yang kemudian di sektor usaha mikro dan kecil,” tegasnya. (*)

     

    Editor : Dinarsa Kurniawan

    Reporter : Romys Binekasri


    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleIntip Penampakan Rambut Asli Jennifer Lopez Tanpa Hair Extension
    Next Article Electrifying Agriculture PLN Pacu Omzet Petani Buah Naga 3 Kali Lipat
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    5 Jasa Konsultan KPI Terbaik di Indonesia untuk Efektivitas Bisnis

    5 Jasa Konsultan KPI Terbaik di Indonesia untuk Efektivitas Bisnis

    June 25, 2026
    Ancaman Ransomware Naik, Sysware Sebut EDR Adalah Investasi IT Krusial

    Ancaman Ransomware Naik, Sysware Sebut EDR Adalah Investasi IT Krusial

    June 24, 2026
    Polda Sumbar Gelar Road to Kapolri Cup MLBB 2026, Ajak Generasi Muda Ukir Prestasi di Dunia Esports

    Polda Sumbar Gelar Road to Kapolri Cup MLBB 2026, Ajak Generasi Muda Ukir Prestasi di Dunia Esports

    June 23, 2026
    Mengenal Prediction Market: Inovasi Pasar Prediksi yang Kian Populer di Era Digital

    Mengenal Prediction Market: Inovasi Pasar Prediksi yang Kian Populer di Era Digital

    June 19, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Cek Desil Dinsos untuk Bansos 2026, Begini Cara Melihat Statusnya
    • 5 Jasa Konsultan KPI Terbaik di Indonesia untuk Efektivitas Bisnis
    • Apakah Niat Puasa 9 dan 10 Muharram dan Qadha Ramadhan Bisa Digabung?

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.