Andalannews.com – Musim kemarau 2026 mulai menunjukkan dampaknya di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Jawa Timur. Belum memasuki puncak kemarau, beberapa daerah sudah mengalami krisis air bersih hingga kekeringan yang mengganggu aktivitas warga sehari-hari.
Kabupaten Bondowoso menjadi salah satu daerah yang paling terdampak pada awal musim kemarau tahun ini. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bondowoso mencatat sebanyak 7.136 jiwa atau 1.784 kepala keluarga terdampak kekeringan.
Warga yang mengalami kesulitan air bersih tersebut tersebar di 20 dusun, 13 desa, dan sembilan kecamatan. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa musim kemarau 2026 berpotensi lebih berat dibanding tahun sebelumnya. Pemerintah daerah bersama BPBD Jawa Timur pun mulai meningkatkan kewaspadaan.
BPBD Jawa Timur menyebut Bondowoso sebagai daerah pertama yang mengajukan bantuan distribusi air bersih ke pemerintah provinsi pada musim kemarau 2026. Hal ini menunjukkan bahwa cadangan air di beberapa wilayah mulai menurun meski kemarau baru berjalan pada tahap awal.
Untuk membantu warga terdampak, BPBD Bondowoso mendistribusikan air bersih menggunakan dua armada truk tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter. Pengiriman dilakukan secara bergantian setiap hari ke dusun-dusun yang mengalami kekurangan air.
Beberapa wilayah yang mengalami dampak cukup parah antara lain Kecamatan Maesan, Prajekan, Klabang, Wringin, Tegalampel, Botolinggo, Curahdami, Tlogosari, dan Taman Krocok. Di sejumlah lokasi, warga mulai mengandalkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti memasak, mandi, dan mencuci.
Salah satu wilayah yang terdampak cukup serius adalah Desa Klekean di Kecamatan Botolinggo. Warga di tiga dusun di desa tersebut mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat sumber mata air yang mulai menyusut. BPBD Jawa Timur dan BPBD Bondowoso kemudian menyalurkan sekitar 10 ribu liter air bersih untuk membantu masyarakat setempat.
Enam Daerah di Jawa Timur Siaga Kekeringan
Tidak hanya Bondowoso, BPBD Jawa Timur juga mencatat sedikitnya enam daerah mulai menetapkan status siaga darurat kekeringan pada musim kemarau 2026. Daerah tersebut meliputi Bondowoso, Banyuwangi, Bangkalan, Lamongan, Lumajang, dan Blitar.
Pemerintah provinsi memperkirakan dampak kekeringan tahun ini bisa lebih luas dibanding 2025. Sebanyak 916 desa di 29 kabupaten diprediksi berpotensi terdampak kekeringan selama musim kemarau berlangsung. Sebagai langkah antisipasi, BPBD Jawa Timur telah menyiapkan berbagai bantuan, di antaranya:
- 867 rit distribusi air bersih
- 474 tandon air
- 9.600 terpal
- 165 tandon lipat
- 400 jerigen penyimpanan air
Kekhawatiran terhadap musim kemarau 2026 bukan tanpa alasan. BPBD Jawa Timur mengungkapkan bahwa kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih panjang dan lebih ekstrem dibanding tahun sebelumnya.
Beberapa wilayah di Jawa Timur yang bergantung pada tadah hujan diperkirakan menjadi daerah paling rentan mengalami kekeringan. Selain berdampak pada kebutuhan rumah tangga, kekeringan juga berpotensi mengganggu sektor pertanian dan peternakan warga.
Berdasarkan pemantauan yang dilakukan pemerintah, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Karena itu, distribusi bantuan air bersih mulai dilakukan lebih awal agar dampaknya tidak semakin meluas.
Di sisi lain, pemerintah daerah masih menunda operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan karena kondisi cadangan air waduk di beberapa wilayah dinilai masih mencukupi. Namun BPBD tetap melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan cuaca dan potensi kekeringan yang bisa meningkat sewaktu-waktu.
Tidak Hanya Soal Air Bersih
Musim kemarau panjang biasanya tidak hanya memicu krisis air bersih. Dalam beberapa tahun terakhir, kekeringan juga berdampak pada sektor pertanian, kebakaran hutan dan lahan, hingga penurunan kualitas udara. Data BNPB menunjukkan bahwa Pulau Jawa termasuk wilayah dengan tren kekeringan cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Pada periode sebelumnya, Jawa Timur menjadi salah satu provinsi dengan jumlah warga terdampak kekeringan terbesar di Pulau Jawa. Karena itu, pemerintah mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan penghematan air sejak sekarang.
Warga juga diminta menjaga sumber mata air dan tidak melakukan aktivitas yang bisa memperparah kondisi lingkungan selama musim kemarau berlangsung.
Meski musim kemarau 2026 baru dimulai, tanda-tanda kekeringan sudah terlihat di beberapa daerah. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa perubahan cuaca ekstrem masih menjadi tantangan besar bagi banyak wilayah di Indonesia.
Pemerintah daerah kini fokus memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, terutama akses terhadap air bersih. Distribusi bantuan air diperkirakan akan terus bertambah apabila kekeringan semakin meluas dalam beberapa bulan ke depan.
Bagi masyarakat di daerah rawan kekeringan, langkah sederhana seperti menghemat penggunaan air, menampung cadangan air hujan, serta menjaga lingkungan sekitar bisa membantu mengurangi dampak musim kemarau 2026.
Jika kondisi cuaca terus mengering hingga pertengahan tahun, bukan tidak mungkin lebih banyak daerah akan mengalami krisis air bersih seperti yang kini terjadi di Bondowoso dan beberapa wilayah lain di Jawa Timur.




