Presidensi G20 Jadi Pendukung Transformasi Ekonomi RI

Presidensi G20 Jadi Pendukung Transformasi Ekonomi RI

JawaPos.com – Indonesia resmi memegang Presidensi G20 tahun 2022. Kepresidenan G20 menempatkan Indonesia pada garis depan dan perhatian internasional, terutama terkait dengan kebijakan ekonomi dan sosial.

Deputi Bidang Perekonomian Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar mengatakan, Indonesia harus meredesain transformasi ekonomi Indonesia pasca Covid-19, tidak hanya kembali ke masa sebelum krisis, namun lebih baik dari sebelum krisis.

“Saatnya Indonesia membangun kembali lebih baik, tidak berpuas diri dengan pemulihan ekonomi, namun harus mendorong pertumbuhan ekonomi. Peningkatan kualitas pendidikan, riset, inovasi, pengetahuan, dan kebijakan berbasis bukti adalah penting untuk meningkatkan daya saing,” kata Widyasanti dalam diskusi secara virtual, dikutip Sabtu (26/2).

Amalia memaparkan, pemerintah sedang mengimplementasikan enam strategi besar dalam melakukan transformasi ekonomi Indonesia. Hal itu terdiri dari sumber daya manusia yang kompetitif, produktivitas ekonomi, ekonomi hijau, transformasi digital, integrasi ekonomi domestik, dan pemindahan Ibu Kota.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Kerjasama Ekonomi Internasional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edi Prio Pambudi menjelaskan, dalam Presidensi G20, Indonesia akan mengintegrasikan masukan dari kelompok kerja dan kelompok keterlibatan untuk memastikan serapan kebijakan G20 terkait transformasi ekonomi dan kebijakan sosial.

“Langkah-langkah parsial sudah tidak mungkin dilakukan, yang dibutuhkan adalah aksi kolektif. Kami dengan senang hati akan memfasilitasi think tank supaya bisa menghasilkan G20Think, sesuatu yang mengarahkan dari komitmen menjadi referensi kebijakan yang dihasilkan,” tuturnya.

Direktur Eksekutif CSIS dan Co-Chair T20 Yose Rizal Damuri mengatakan, pihaknya menyoroti tantangan terbesar yakni menemukan common ground untuk bergerak mendapatkan mekanisme dan sistem di tingkat global yang dapat mendukung penyelesaian isu-isu yang ada.

“Tidak hanya sebagai communique atau sebatas komitmen saja, tetapi perlu didorong untuk pembentukan dan penggalangan aksi dalam pemulihan ekonomi dunia,” pungkasnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Romys Binekasri


Credit: Source link

Related Articles