Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»News»Wajib PCR di Transportasi Udara Banyak Dikritik, Harga Tes akan Diturunkan
    News

    Wajib PCR di Transportasi Udara Banyak Dikritik, Harga Tes akan Diturunkan

    October 25, 2021No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Wajib PCR di Transportasi Udara Banyak Dikritik, Harga Tes akan Diturunkan 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Wajib PCR di Transportasi Udara Banyak Dikritik, Harga Tes akan Diturunkan 2
    Tenaga kesehatan mengambil sampel swab PCR dari pelaku perjalanan. (BP/Istimewa)

    DENPASAR, BALIPOST.com – Kewajiban PCR bagi pelaku perjalanan pada moda transportasi udara banyak dikritik. Namun, Koordinator PPKM Jawa-Bali, Luhut B. Pandjaitan, Senin (25/10) mengatakan hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan relaksasi yang dilakukan pada aktivitas masyarakat. Terutama pada sektor pariwisata.

    “Meski kasus sudah sangat rendah, belajar dari pengalaman negara lain, kita tetap memperkuat 3 T, 3 M, supaya kasus tidak kembali menguat, terutama menghadapi libur Natal dan Tahun Baru,” tegasnya.

    Dalam kesempatan itu, Luhut juga mengatakan bahwa Presiden meminta agar PCR diturunkan menjadi Rp 300 ribu. Pemberlakuan surat keterangannya juga akan direvisi menjadi 3×24 jam untuk perjalanan pesawat, dari sebelumnya 2×24 jam.

    Ia mengakui banyak kritikan dan masukan dari masyarakat terkait kebijakan PCR ini. Luhut mengatakan kebijakan ini diberlakukan karena melihat risiko penyebaran yang semakin meningkat dan mobilitas penduduk yang meningkat pesat dalam beberapa minggu terakhir. “Sekali lagi saya tegaskan, kita belajar dari banyak negara yang melakukan relaksasi aktivitas masyarakat dan protokol kesehatan, kemudian kasusnya meningkat dashyat meskipun tingkat vaksinasi mereka jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Contohnya, seperti di Inggris, beberapa negara lain,” paparnya.

    Ia memohon agar jangan melihat enaknya saja. Karena jika keenakan dan rileks berlebihan, bila sudah ramai jangan juga nanti ribut. “Jangan kita emosional menanggapi apa yang kami lakukan. Kalau ada alternatif yang bisa diberikan, kami juga senang,” ujar Luhut.

    Wakil Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) ini mengingatkan lagi agar tidak euforia berlebihan yang pada akhirnya mengabaikan segala macam protokol kesehatan. “Sebab, kelengahan sekecil apapun yang kita lakukan, wujudnya akan terjadi peningkatan kasus dalam beberapa minggu ke depan. Dan, pastinya akan mengulang pengetatan pengetatan yang kembali diberlakukan yang terus terang sangat melelahkan kita semua,” tegasnya.

    Ia menyebutkan secara bertahap PCR test juga akan diterapkan pada transportasi lain selama mengantisipasi Nataru. Sebagai perbandingan, selama periode Nataru sebelumnya, meskipun penerbangan ke Bali disyaratkan PCR, mobilitas tetap meningkat dan akhirnya mendorong kenaikan kasus.

    Luhut juga mengatakan walaupun tanpa varian Delta, mobilitas di Bali pada saat ini sudah sama dengan Nataru setahun lalu. Diperkirakan terus meningkat hingga akhir tahun ini sehingga meningkatkan risiko kenaikan kasus.

    Ditambahkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, pihaknya saat ini sedang memonitor kemungkinan adanya varian baru yang berkembang di dunia. Salah satunya sub varian Delta, AY.4.2, yang kini cukup banyak jumlah kasusnya di Inggris.

    Varian ini, dikatakan Menkes belum masuk ke Indonesia dan akan terus dimonitor perkembangannya. Varian ini, katanya lumayan meningkatkan kasus konfirmasi yang ada di Inggris.

    Selain itu, Budi mengatakan di beberapa negara Eropa saat ini mengalami peningkatan kasus harian.

    Ia juga mengutarakan bahwa saat ini sedang memonitor seluruh kabupaten/kota di Indonesia dalam 4 minggu terakhir. Dibandingkan Juli, lanjutnya, memang semuanya turun.

    Namun 4 minggu terakhir ada 105 kabupaten/kota yang tersebar di 30 provinsi kasusnya mulai menunjukkan peningkatan. “Memang masih tidak mengkhawatirkan dan masih ada di bawah benchmark, batas amannya WHO, tapi kita mencoba mengantisipasi secara lebih dini agar jangan sampai euforia berlebihan membuat kita jadi lengah, tidak waspada, dan kenaikan kasus di 105 kabupaten/kota ini menjadi tidak terkontrol,” paparnya. (Diah Dewi/balipost)

    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleExxonMobil sebut konsistensi Red Bull bukti kinerja pelumas Mobil 1
    Next Article BRI Sabet 2 Penghargaan di SOE Award 2021
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Dino Patti Djalal Kritik Prabowo soal Kunjungan Luar Negeri (Instagram)

    Dino Patti Djalal Kritik Prabowo soal Kunjungan Luar Negeri

    June 2, 2026
    Keunggulan Jasa Import China Terpercaya untuk Bisnis Anda

    Keunggulan Jasa Import China Terpercaya Armocargo untuk Bisnis Anda

    May 25, 2026
    Rano Karno Bakal Pimpin Perayaan Idul Adha di Jakarta (Instagram)

    Rano Karno Bakal Pimpin Perayaan Idul Adha di Jakarta Saat Pramono Naik Haji

    May 22, 2026
    Musim Kemarau 2026 Mulai Berdampak (Ilustrasi/AI)

    Musim Kemarau 2026 Mulai Berdampak, Ribuan Warga Kesulitan Air Bersih

    May 19, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • SPMB Jateng 2026 Jalur Prestasi Punya Aturan Baru?
    • Dino Patti Djalal Kritik Prabowo soal Kunjungan Luar Negeri
    • Cara Pakai Aplikasi Cek Bansos Kemensos 2026 Terbaru untuk Lihat PKH dan BPNT
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.