Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Ekonomi»Bahan Baku Industri Farmasi Indonesia Masih Bergantung Impor, Kenapa?
    Ekonomi

    Bahan Baku Industri Farmasi Indonesia Masih Bergantung Impor, Kenapa?

    November 7, 2020No Comments2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Bahan Baku Industri Farmasi Indonesia Masih Bergantung Impor, Kenapa? 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    JawaPos.com – Industri farmasi hingga saat ini masih menemui permasalahan serius, yakni kekurangan bahan baku, sehingga harus impor. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Muhammad Khayam menilai, ketergantungan industri farmasi di dalam negeri terhadap bahan baku impor tidak lepas dari status penanaman modal asing (PMA) perusahaan-perusahaan tersebut.

    “Tingkat ketergantungan perusahaan farmasi PMA kepada induknya masih tinggi. Dari 24 perusahaan farmasi, hanya 4 perusahaan berstatus BUMN dan sisanya swasta nasional,” ujarnya dalam diskusi virtual, Jumat (6/11).

    Sementara untuk membangun pabrik petrokimia di dalam negeri yang bisa memasok kebutuhan industri farmasi, secara keekonomian dinilai kurang feasible. Dari hitungan bisnis memang industri bahan baku kurang menarik karena kurang feasible kalau hanya memasok kebutuhan di dalam negeri.

    “Lalu insentifnya juga dinilai belum mampu menarik investasi. Tapi nanti coba kita dorong Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) bahan baku obat ini agar bisa jadi menarik,” tuturnya.

    Sementara, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM, Reri Indriani mengakui setidaknya ada empat kendala pengembangan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) oleh industri farmasi nasional. Pertama, biaya penelitian dan pengembangan yang cukup besar.

    Kedua, kendala sumber daya manusia yang mengerti pelaksanaan uji praklinik dan uji klinik sesuai standar BPOM. Ketiga, kendala standardisasi fasilitas laboratorium yang digunakan. Keempat, kendala kesulitan menemukan bahan baku pembanding obat herbal tertentu.

    Ia menyebut, saat ini satgas BPOM tengah melakukan pendampingan uji klinik untuk 22 Obat Herbal Terstandar (OHT) dan 24 uji klinik Fitofarmaka. Untuk yang 22 OHT itu terkendala dari sisi rekrutmen uji subjek akibat pandemi Covid.

    “Namun kami akan terus kawal sehingga bisa sesuai good clinical practice,” pungkasnya.

    Editor : Estu Suryowati

    Reporter : Romys Binekasri


    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleHonda rampingkan operasinya di AS
    Next Article Motor Honda Paling Direkomendasi Masyarakat
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    cara cek bansos

    Cara Cek Bansos Online 2026 Lewat Website dan Aplikasi Resmi

    July 19, 2026
    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru (Ilustrasi/AI)

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru, Pemerintah Bentuk PT DSI untuk Atur Ekspor

    May 21, 2026
    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat (Instagram/@menkeuri)

    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat

    May 18, 2026
    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter (Ilustrasi/AI)

    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter

    May 5, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • 11 Makanan Penurun Gula Darah yang Baik untuk Dikonsumsi
    • Jadwal Survei Lingkungan Belajar 2026 Dimajukan, Dicatat Tanggalnya
    • 12 Tempat Wisata di Malang dengan View Indah + Destinasi Favorit

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.