Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Ekonomi»Produksi Tahu dan Tempe Turun 60 Persen
    Ekonomi

    Produksi Tahu dan Tempe Turun 60 Persen

    January 4, 2021No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Produksi Tahu dan Tempe Turun 60 Persen 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Produksi Tahu dan Tempe Turun 60 Persen 2
    Produsen tahu dan tempe saat melakukan proses produksi di rumahnya. (BP/Gik)

    SEMARAPURA, BALIPOST.com – Memasuki tahun baru 2021, produsen tahu dan tempe belum bisa keluar dari masa-masa sulit. Sebab, harga kedelai yang sudah melonjak naik pertengahan Desember tahun lalu, belum menunjukkan adanya tanda-tanda bakal menurun. Situasi demikian membuat produsen tahu dan tempe terpaksa menyiasatinya dengan menurunkan produksi hingga 60 persen.

    Kenaikan harga bahan baku tahu dan tempe ini sudah terjadi sejak pertengahan Desember lalu, dari Rp 6.800 per kg melonjak Rp 2.000 menjadi Rp 9.200 per kg sejak Senin, (4/1). Ini membuat produsen tahu dan tempe makin terpuruk. Salah satu produsen tahu dan tempe, Putu Sudana, mengaku situasi ini kian memberatkannya di tengah situasi pandemi COVID-19 ini. Padahal, biasanya di memproduksi untuk tempe saja bisa habis 600 kg, tahu bisa 500an kg. Namun, karena harga bahan baku naik, saat ini produksi tempe dan tahu hanya 400 kg saja.

    “Produksi turun dari kisaran 40 persen sampai 60 persen. Ini terjadi sejak harga kedelai naik. Ini pun sudah memaksakan, memproduksi sebanyak itu. Kami khawatir rugi banyak nanti,” kata Sudana.

    Ia mengaku sudah 25 tahun bekerja sebagai produsen tahu dan tempe di rumahnya di Sampalan Klod. Menurutnya, harga ini termahal dalam lima tahun terakhir. Terlebih saat terjadi pandemi COVID-19. Ini semakin menyulitkannya untuk survive menghadapi pandemi. Dampaknya, Sudana mengaku juga terpaksa harus mengurangi jumlah pekerjanya, agar usahanya tetap bisa berjalan, meski dalam situasi sulit.

    “Saya kurang tahu, kenapa harganya bisa naik. Sebelumnya juga tidak ada pemberitahuan, atau pengumuman dari pemerintah. Apa mungkin karena kesulitan import,” katanya.

    Sebab, untuk pembuatan tempe dan tahu, menurutnya harus dari kedelai import. Kalau kedelai lokal, kedelai tidak mau nempel saat proses pembuatan. Akibatnya, tempe atau tahu saat dipotong konsumen pasti rusak. Selain itu, yang membuatnya kelimpungan, dengan harga kedelai yang naik, ia harus tetap menjual tahu dan tempe kepada pengepul dengan harus tetap sama. Jika harganya ikut dinaikkan, mereka pasti akan mencari produsen tahu tempe di tempat lain.

    Produsen tempe lainnya, seperti Nengah Kondra di Dusun Gerombong, Desa Sulang, Klungkung, saat ditemui, Senin (4/1) juga mengaku mengalami hal serupa. Kondra mengaku harus mengurangi jumlah produksi sebanyak 50 persen. Hanya saja, dia menyiasatinya dengan mengecilkan ukuran tempenya, agar tidak rugi banyak.

    Dipihak lain, Perbekel Desa Sulang, I Wayan Sukasna, saat ditemui dilokasi pengolahan tempe mengaku banyak menerima keluhan kondisi mahalnya harga bahan baku tempe tahu ini. Dia berharap pemerintah pusat segera bergerak untuk menurunkan harga kedelai ini, sehingga produsen tahu dan tempe yang sudah menjadi sektor utama UMKM ini terus bisa diproduksi. “Ini adalah salah satu UMKM masyarakat kami disini. Kami ingin mereka tetap bisa bertahan. Sebab, masyarakat kami banyak sebagai pekerja disana,” tegasnya. (Bagiarta/Balipost)

    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleBerat Badan Naik Usai Liburan, Atasi dengan 5 Pola Makan Ini
    Next Article Tambahan Pasien COVID-19 Sembuh Nasional Lampaui Kasus Baru
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru (Ilustrasi/AI)

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru, Pemerintah Bentuk PT DSI untuk Atur Ekspor

    May 21, 2026
    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat (Instagram/@menkeuri)

    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat

    May 18, 2026
    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter (Ilustrasi/AI)

    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter

    May 5, 2026
    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing (Ilustrasi/Ai)

    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing

    April 29, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.