JawaPos.com – Menjadi seorang ibu di era serba digital memang memiliki keuntungan tersendiri. Sebab, hanya dengan sapuan tangan di gadget, seorang ibu bisa menjangkau banyak informasi seputar parenting serta berbelanja kebutuhan anak. Namun, meski dihujani dengan kemudahanan, menjadi ibu di era digital juga memiliki tantangan.
Seperti diungkapkan, Nurul Sulisto, General Manager Lilla. Saat ini, para ibu maupun calon ibu memang sangat dimanjakan dengan ragam informasi di dunia maya. Dengan mengetik kata kunci tertentu, deretan informasi dari puluhan bahkan ratusan sumber langsung tersedia. Tapi tantangannya, tak jarang, dengan banyaknya informasi yang didapatkan membuat para ibu justru terlalu banyak berpikir dan bingung.
Sebab, meski informasi didapatkan dengan mudah tapi ada kekhawatiran, apakah sumber yang dilihatnya tersebut dapat dipercaya atau tidak. “Dampak dari keadaan tersebut tidak jarang membuat ibu menjadi overwhelmed ketika harus memilah informasi serta produk yang tepat dan juga terpercaya,” ujar Nurul dalam peluncuran platform Lilla beberapa waktu lalu.
Oleh karena itu, dibutuhkan adanya solusi yang mampu memenuhi kebutuhan serta membantu memudahkan perjalanan ibu. Terlebih di tengah banyaknya arus informasi serta produk-produk yang belum tentu sesuai dengan fase yang sedang dijalani oleh ibu. Misalnya dengan mengikuti forum sharing yang memang diadakan platform terpercaya dengan melibatkan ahli. Atau ketika mendapatkan informasi di dunia maya bisa langsung dicek kembali dengan ahlinya.
Sehingga, ungkap Nurul, disatu sisi, ibu di era digital memang ada memiliki kemudahan dengan segala tantangannya. Tapi di sisi lainnya justru terlatih semakin kritis dengan keadaan. Yakni dengan cara memvalidasi informasi.
Hal senada pun diungkapkan Dokter Kandungan dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG. Ada karakteristik unik yang muncul dari para ibu di era digital. Dalam pengalamannya, seorang ibu atau calon ibu yang datang berkunjung biasanya sudah membekali diri dengan informasi yang didapatkannya dari internet atau forum diskusi.
Editor : Nurul Adriyana Salbiah
Credit: Source link




