JAKARTA, KRJOGJA.com – Asia Tenggara menghadapi tingkat kemiskinan yang tinggi karena gelombang penyebaran Covid-19, dan menghantam pasar tenaga kerja di kawasan itu. Hal itu diungkapkan oleh sebuah laporan oleh Asian Development Bank.
“Pandemi telah menyebabkan meluasnya pengangguran, memperburuk ketimpangan, dan meningkatkan tingkat kemiskinan, terutama di kalangan perempuan, pekerja muda, dan lansia di Asia Tenggara,” kata Presiden ADB Masatsugu Asakawa, dikutip dari CNBC International, Kamis (17/3/2022).
Tahun lalu, pandemi mendorong 4,7 juta orang di Asia Tenggara ke dalam kemiskinan ekstrem – mereka bahkan hidup dengan penghasilan kurang dari USD 1,90 per hari, menurut ADB.
ADB juga menemukan bahwa pandemi Covid-19 berdampak pada 9,3 juta pekerja di Asia Tenggara.
Meski pertumbuhan ekonomi diprediksi capai 5,1 persen pada tahun 2022 karena tingkat vaksinasi yang tinggi, ADB memperingatkan varian baru dapat memangkas pertumbuhan sebanyak 0,8 persen.
Negara-negara dengan jumlah kasus Covid-19 tertinggi yang dilaporkan di Asia Tenggara sejak pandemi dimulai adalah Vietnam (6,55 juta), Indonesia (5,91 juta), dan Malaysia (3,87 juta), menurut publikasi online Our World In Data.
“Dampak pandemi terhadap kemiskinan dan pengangguran kemungkinan akan berlanjut karena pekerja yang tidak aktif menjadi tidak terampil dan akses orang miskin terhadap peluang semakin memburuk,” sebut ADB.
“Ketika ini terjadi, penurunan ketimpangan akan berpindah antar generasi,” bebernya.
Terlepas dari volatilitas yang ditimbulkan oleh Covid-19, ADB optimis bahwa ekonomi Asia Tenggara mulai pulih.
Credit: Source link




