JawaPos.com – Perang Rusia-Ukraina dinilai bisa berimbas pada kenaikan harga minyak dunia (crude) dan beberapa komoditi migas lainnya. Hal ini disampaikan anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Golkar, Mukhtarudin.
Harga minyak mentah acuan dunia melonjak lebih dari 8 persen pada perdagangan Kamis (17/3) waktu AS. Pasar minyak bangkit usai lesu beberapa hari terakhir, ditopang oleh pelemahan stok dalam beberapa pekan ke depan akibat sanksi terhadap Rusia.
Minyak mentah berjangka Brent meroket 8,79 persen ke posisi USD 106,64 per barel, menjadi kenaikan tertinggi sejak pertengahan 2020. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak 8,35 persen menjadi USD 102,98 per barel.
“Melonjaknya harga minyak dunia tersebut bisa memicu tekanan terhadap APBN dan anggaran negara, khususnya terkait subsidi energi dan nilai kompensasi produk penugasan (JBKP),” kata Mukhtarudin kepada wartawan, Jumat (18/3).
Apalagi, lanjut Mukhtarudin, mengingat Indonesia merupakan net-importir bahan bakar minyak (BBM), maka secara konsolidasi kenaikan harga minyak tidak terlalu memberikan keuntungan secara bisnis hilir.
“Jadi kondisi kenaikan harga minyak dunia bersamaan dengan program pemulihan ekonomi negara, sehingga terjadi kenaikan demand yang cukup signifikan,” ucapnya.
Editor : Edy Pramana
Reporter : Muhammad Ridwan
Credit: Source link




