Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Lifestyle»Angka Obesitas Anak Naik 70 Kali Lipat, Kasus Diabetes Harus Ditekan
    Lifestyle

    Angka Obesitas Anak Naik 70 Kali Lipat, Kasus Diabetes Harus Ditekan

    February 15, 2023No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Angka Obesitas Anak Naik 70 Kali Lipat, Kasus Diabetes Harus Ditekan 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    JawaPos.com – Lingkungan keluarga dan sekolah memiliki peran penting dalam membantu menekan angka kegemukan pada anak-anak usia SD hingga SMA. Diperlukan edukasi yang bersifat menyeluruh dan konsisten terhadap orang tua dan guru yang merupakan agent of change untuk mencegah kegemukan pada anak-anak, dikutip dari ANTARA.

    “Orang tua dan guru pasti didengarkan oleh anak-anak. Orang tua bisa mengatur pola makan, tidur, dan aktivitas anak-anak di rumah. Sedangkan guru yang mengingatkan karena mereka disegani oleh siswa-siswanya. Jangan lupa bahwa anak-anak sejak usia SMP sudah mulai bisa mengelola uang jajan mereka sendiri,” kata Ketua Umum Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia, PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof. Hardinsyah, di Jakarta, Rabu (15/2) malam kemarin.

    Seperti diketahui Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut bahwa jumlah penderita diabetes anak di Indonesia mencapai 1.645 pasien per Januari 2023. Kasus diabetes melitus tipe 1 pada anak meningkat sebanyak 70 kali lipat sepanjang periode 2010 hingga 2023 dengan mengacu laporan dari 13 kota di Indonesia.

    Karena itu, lanjut Hardinsyah, orang tua dan guru yang teredukasi dengan baik akan dapat membantu menahan bahkan menekan laju angka obesitas pada anak-anak.

    Hardinsyah menyebutkan beberapa upaya yang bisa dilakukan orang tua kepada anak adalah giat melakukan aktivitas fisik, meminimalisasi lemak jahat pada makanan, membatasi minuman bergula manis, serta tidur yang cukup.

    “Dari sisi makanan, mulai membiasakan mengkonsumsi pangan hewani seperti sayuran hijau, kacang-kacangan termasuk tempe. Dari sisi gaya hidup, generasi muda saat ini semakin hari semakin berkurang waktu tidurnya karena semakin banyak yang ditonton. Kurang tidur juga menyebabkan kegemukan karena nafsu makan meningkat,” jelasnya.

    Kegemukan, lanjutnya, adalah permasalahan kompleks yang tidak hanya cukup dengan membatasi kalori, namun juga mencermati pola tidur dan tingkat stres pada anak-anak.

    “Berbagai penelitian global menyatakan anak-anak generasi Z lebih gampang stres bila dibandingkan generasi sebelumnya. Maka anak-anak butuh lingkungan rumah dan sekolah jauh dari stres,” katanya.

    Hardinsyah menilai Pemerintah juga ikut berperan dengan mengandalkan persebaran informasi lewat media massa secara terstruktur untuk menggaungkan pentingnya gizi ke segala lapisan masyarakat. Inovasi dan intervensi, katanya, menjadi kata kunci untuk menurunkan angka kegemukan pada anak-anak.

    Ia lantas mengambil contoh negara Singapura yang sukses menerapkan program latihan khusus bagi anak-anak yang memiliki kelebihan berat badan di sekolah.

    “Singapura yang punya program bagi siapa yang berat badannya berlebih maka dia harus pulang lebih sore. Di situ orang tua menyetujui dan tanda tangan. Maka, satu jam di akhir pelajaran, khusus bagi anak-anak yang kelebihan berat diberikan latihan fisik. Meskipun secara psikologi mungkin ada konflik karena orang nggak boleh dipisah-pisah, tetapi Pemerintah di sana melakukan itu dan berhasil,” paparnya.

    Di lain sisi, PERGIZI PANGAN Indonesia, kata Hardinsyah, memiliki webinar yang sejak tiga tahun terakhir selalu konsisten memberikan edukasi kepada ratusan peserta. Pihaknya juga berkolaborasi dengan tim penggerak PKK di beberapa provinsi yang bisa melibatkan 2.000 orang ibu-ibu.

    “Ini tentu bagus sekali dan harus lebih dibumikan agar mencapai tingkat Posyandu, RT, dan RW. Di sinilah peran Pemerintah menjadi penting karena memiliki infrastruktur seperti Puskesmas, kader-kader di Posyandu, atau pendamping di BKKBN yang bisa memberikan intervensi,” tutupnya.


    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleDPR Dorong Milenial Cerdas di Ruang Digital
    Next Article Jimin dan J-Hope BTS Sumbang 100 Juta Won untuk Turki dan Syria
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    SPMB Jateng 2026 Jalur Prestasi Punya Aturan Baru (Ilustrasi)

    SPMB Jateng 2026 Jalur Prestasi Punya Aturan Baru?

    June 3, 2026
    Cuti bersama Idul Adha 2026 berapa hari (ILustrasi/AI)

    Cuti Bersama Idul Adha 2026 Berapa Hari, Ada Potensi Long Weekend?

    May 25, 2026
    Haji Gratis dari Kerajaan Arab Saudi 2026 (Ilustrasi/Ai)

    Haji Gratis dari Kerajaan Arab Saudi 2026, Puluhan WNI Dapat Undangan?

    May 20, 2026
    Fenomena Langit Bulan Mei 2026 (Ilustrasi/AI)

    Fenomena Langit Bulan Mei 2026 Ada Hujan Meteor hingga Purnama Langka

    May 4, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • SPMB Jateng 2026 Jalur Prestasi Punya Aturan Baru?
    • Dino Patti Djalal Kritik Prabowo soal Kunjungan Luar Negeri
    • Cara Pakai Aplikasi Cek Bansos Kemensos 2026 Terbaru untuk Lihat PKH dan BPNT
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.