Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Ekonomi»Bali Perlu Perlakuan Khusus | BALIPOST.com
    Ekonomi

    Bali Perlu Perlakuan Khusus | BALIPOST.com

    April 25, 2022No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Bali Perlu Perlakuan Khusus | BALIPOST.com 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Bali Perlu Perlakuan Khusus | BALIPOST.com 2
    Ketua BPD HIPMI Bali Pande Agus Widura. (BP/Ist)

    DENPASAR, BALIPOST.com – POJK Nomor 17/POJK.03/2021 yang mengatur tentang perpanjangan stimulus perekonomian bagi debitur perbankan yang terdampak Covid-19 sampai dengan 31 Maret 2023, akan berakhir. Namun, melihat kondisi pariwisata dan ekonomi Bali saat ini yang belum pulih betul, pelaku usaha di Bali meminta ada perlakukan khusus yakni agar program restrukturisasi diperpanjang hingga 2025.

    Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bali, Agus Pande Widura, Minggu (24/4) mengatakan, Bali mengalami resesi karena dua kali mengalami pertumbuhan negatif. Kondisi Bali sangat berbeda dengan kondisi ekonomi nasional. “Bali butuh perlakuan khusus karena kita sangat bergantung dengan pariwisata karena pariwisata belum pulih,” ujarnya.

    Menurutnya jika restrukturisasi ini tidak diperpanjang akan sangat berat bagi pengusaha di Bali pada umumnya. Karena ibarat sedang sakit membutuhkan oksigen, tapi tiba–tiba dicabut, maka bisa mati. Apalagi seperti diketahui, pariwisata butuh waktu yang panjang untuk recovery.

    Saat ini saja ketika Bali telah dibuka penerbangan internasional, kamar-kamar hotel di Bali baru terisi 10% – 20% dengan harga diskon. “Artinya Bali tidak – baik baik saja. Jika diberlakukan sama dengan nasional, maka dikhawatirkan masyarakat Bali akan semakin terpuruk, banyak asset dilepas. Jika banyak yang melepas aset, bahaya,” ujarnya.

    Ia berharap regulator dan pemerintah mengeluarkan POJK khusus untuk Bali. Apalagi kebijakan khusus sudah pernah diberlakukan di beberapa daerah seperti Yogyakarta dan Bali dengan adanya kasus Gunung Agung meletus. “Saat ini Bali betul -betul butuh POJK khusus,” ujarnya.

    Fenomena yang terjadi saat ini dikatakan, restrukturisasi memang masih berlangsung tapi sudah ada kenaikan bunga. Sementara indikator ekonomi Bali belum menunjukkan perbaikan, namun  suku bunga berangsur-angsur normal.  “Masih ada halangan–halangan yang lain yang terjadi antara lain harga tiket yang mahal dan kedua perekonomian dunia belum pulih 100%, jadi berpikir untuk liburan masih perlu pertimbangan,” sebutnya.

    Ia memproyeksi Bali baru bisa recovery 2025, karena Bank Indonesia pun memproyeksi pemulihan pariwisata paling cepat 2024. Selain itu, pergerakan wisatawan saat ini baru 7.000-an untuk wisatawan nusantara dan 3.000-an untuk wisatawan mancanegara, sementara sebelum pandemi Bali kedatangan wisatawan berkisar 30 ribu sampai 40 ribu per hari. “Dan kini kondisinya baru sepertiga dari normal, kita bisa kembalikan hutang, apabila barometernya dari kunjungan wisatawan,” ujarnya.

    Ekonom dari Universitas Udayana (Unud) Prof. Wayan Suartana mengatakan, Bali harus diberi kesempatan “bernapas”. Restrukturisasi kredit adalah upaya penyehatan kredit yang lazim dilakukan oleh perbankan.

    Untuk keadaan normal restrukturisasi dikakukan dengan mempertimbangkan prospek usaha dan prediksi arus kas masuk debitur. Untuk keadaan luar biasa (extraordinary) maka penilaian menjadi berbeda. Keadaan luar biasa itu menjadi variabel utama.

    Bali yang mengandalkan sektor pariwisata dan besar kemungkinan banyak debitur juga bergerak di sektor ini harus diberikan relaksasi dengan periode jendela yang lebih lama. Pendapat umum menyatakan bahwa sektor pariwisata yang paling awal kena imbas pandemi tetapi paling akhir masa pemulihannya.

    Karena itu dengan asumsi pemulihan berjalan sesuai dengan yang diharapkan tahun 2024 adalah tahun yang pas untuk mempertimbangkan menghentikan kebijakan mengenai restrukturisasi. “Kita berharap juga tekanan eksternal akibat krisis Rusia dan Ukraina segera berakhir sehingga ekonomi negara yang secara tradisional memasok wisatawan ke Bali mempunyai daya beli yang cukup,” ujarnya. (Citta Maya/balipost)

    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleCegah Kolapsnya Ekonomi Bali, Anggota DPD dan DPR Diminta Bersuara
    Next Article Cerita Phopira sebagai perempuan yang geluti hobi “riding”
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru (Ilustrasi/AI)

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru, Pemerintah Bentuk PT DSI untuk Atur Ekspor

    May 21, 2026
    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat (Instagram/@menkeuri)

    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat

    May 18, 2026
    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter (Ilustrasi/AI)

    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter

    May 5, 2026
    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing (Ilustrasi/Ai)

    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing

    April 29, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.