Andalannews.com – Insiden bendera terbalik di Mamasa saat upacara 17 Agustus 2025 bikin heboh dan mendadak jadi sorotan masyarakat Indonesia.
Momen sakral peringatan Hari Kemerdekaan yang seharusnya penuh khidmat, justru diwarnai kejadian tak terduga yang bikin suasana berubah haru.
Warga yang hadir di lapangan upacara sempat terdiam, sebagian bahkan meneteskan air mata ketika menyadari merah putih tidak berkibar sebagaimana mestinya.
Peristiwa bendera merah putih terbalik ini terjadi di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Saat itu, pasukan pengibar bendera (Paskibraka) sudah menjalankan tugas sesuai prosedur.
Namun, saat bendera mulai ditarik ke atas tiang, posisi warnanya ternyata terbalik dimana putih di atas, merah di bawah. Seketika, suasana upacara yang semula khidmat langsung berubah.
Kabar bendera terbalik di Mamasa saat upacara 17 Agustus 2025 ini langsung viral di media sosial. Banyak warganet mengunggah video dan foto kejadian tersebut dengan beragam komentar.
Ada yang merasa kecewa karena menganggap insiden ini sebagai kelalaian, tapi tak sedikit pula yang memahami bahwa hal seperti ini bisa terjadi tanpa disengaja lantaran berbagai faktor.
Apalagi, para anggota Paskibraka yang masih remaja terlihat sangat terpukul dengan kejadian itu. Panitia penyelenggara upacara pun segera menyampaikan permohonan maaf.
Dalam keterangannya, bahwa kejadian ini murni kesalahan teknis dan bukan bentuk ketidakpatuhan pada simbol negara (bendera terbalik).
Menurut sejumlah saksi, bahkan beberapa anggota Paskibraka sampai menangis setelah insiden itu karena merasa gagal menjalankan amanah penting di hari kemerdekaan.
Meski begitu insiden bendera terbalik di Mamasa saat upacara 17 Agustus 2025 mengingatkan semua pihak bahwa persiapan teknis upacara HUT RI harus lebih detail dan teliti.
Selain itu, dukungan dan empati kepada generasi muda yang bertugas juga sangat dibutuhkan agar mereka tidak merasa bersalah berlebihan.
Pada akhirnya, semangat kemerdekaan tetap bisa dirayakan meski ada sedikit kekeliruan dalam pelaksanaannya.
Langsung setelah video viral, Ketua Panitia HUT RI di Mamasa, Welem (yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup), menyampaikan permohonan maaf secara resmi.
Dia menegaskan kalau insiden itu tidak disengaja, melainkan murni karena kesalahan teknis yang dilakukan oleh Paskibraka.
Kendati begitu, Welem menekankan bahwa para pengibar bendera ini tidak kurang persiapan. Mereka telah menjalani latihan intensif selama dua minggu bersama TNI dan Polri.
Jadi kalau sampai terjadi kesalahan, disampaikan Welem, kemungkinan besar karena gugup, bukan karena kurang latihan maupun kurang persiapan.
Mengetahui apa yang terjadi, sejumlah anggota Paskibraka sampai meneteskan air mata. Rasa malu dan kecewa hadir begitu nyata karena momen itu punya makna kehormatan tinggi.
Pasukan Paskibraka juga kabarnya langsung diberi semangat oleh panitia dan diajak tetap bangkit. Upacara pun dilanjutkan, meski perasaan campur aduk terasa di antara mereka.
Kejadian ini bukan sekadar viral karena salah teknis—melainkan jadi refleksi soal ketegangan saat upacara kenegaraan, dan bagaimana panitia serta peserta menanggulangi kesalahan di hadapan publik.
Di akhir penjelasannya, Panitia HUT RI di Mamasa menyebut bahwa ini menjadi evaluasi penting untuk penyelenggaraan upacara serupa ke depan.




