Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Lifestyle»Bercanda tanpa Menyakiti Hati
    Lifestyle

    Bercanda tanpa Menyakiti Hati

    March 18, 2023No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Bercanda tanpa Menyakiti Hati 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Bercanda bisa jadi jurus andalan untuk mencairkan suasana sebagai bagian dari ice breaking. Namun, di sisi lain juga bisa menimbulkan masalah ketika candaan yang disampaikan menyinggung pihak lain, alih-alih menghibur. Karena itu, penting untuk menerapkan etika komunikasi dalam setiap praktik berbicara. Termasuk bercanda.

    —

    SAAT bercanda, ada pihak yang melempar candaan (komunikator), audiens yang menyimak atau diajak bercanda (komunikan), serta candaan itu sendiri (pesan). Menyajikan materi gurauan yang diamini lucu oleh audiens menjadi tantangan tersendiri bagi sang komunikator. Di sini, perspektif menjadi penting. Sebab, lucu bagi komunikator belum tentu dinilai lucu oleh komunikan. Bisa jadi seseorang dalam sebuah forum menyatakan dirinya tengah bercanda. Namun, sesungguhnya meniatkan diri untuk merendahkan orang lain di hadapan publik dengan sengaja.

    Amati Kondisi Lawan Bicara

    Penting sekali memperhatikan kondisi lawan bicara saat bercanda. Baik secara fisik maupun mental. Apakah dia sedang sehat jiwa raga? Atau, sedang menyimpan masalah berat seorang diri? Misalnya, seorang ibu mengobrol dengan putrinya yang beranjak remaja. ”Kakak sekarang gendutan. Jangan banyak makan dong, Kak. Nanti dikira buto ijo, lho!’’

    Ibu tersebut ingin putrinya lebih mengatur pola makan dan coba menyelipkan candaan dalam ucapannya. Namun lupa, bahwa putrinya sedang beranjak remaja dan bisa jadi memaknainya (frasa buto ijo) berbeda. Bukannya mengelola nafsu makannya, sang anak justru terjerembap pada rasa ketidakberhargaan dan membuatnya overthinking, bahkan insecure.

    Niat, Tempat, dan Waktu

    Pernah mendapati orang yang terampil mengolok-olok dirinya hingga berhasil membuat seisi ruangan yang menyaksikan tertawa terbahak-bahak tanpa ada satu pun orang tersinggung? Itulah seninya bercanda. Bagaimana kita sesekali menjual ”kelemahan”, ”ketakutan”, maupun ”aib” dalam diri kita sehingga membuat orang lain secara tidak sengaja justru reflektif atas dirinya sendiri. Lebih baik menertawakan kebodohan diri sendiri ketimbang menjual kondisi orang lain (fisik dan nonfisik) sebagai materi candaan.

    Sering terjadi, makin kuat kesamaan budaya, makin mudah tertawa bersama-sama. Dan, menghibur tidak berarti merendahkan. Kuncinya ada pada intensi atau niat, tempat, waktu, medium yang digunakan, termasuk psikologi audiens. Bercanda seyogianya bukan untuk kepuasan diri sendiri. Namun, untuk meningkatkan hubungan baik antara diri kita dan orang lain.

    Sesuaikan Bentuk Relasi, Hindari Topik Sensitif

    Bercanda dengan orang yang sudah dikenal baik dengan orang yang tidak begitu akrab tentu tidaklah sama. Relasi yang baik membuat seseorang tidak mudah tersulut emosi ketika mendapati diri kita sedang bercanda. Sebab, dia tahu, tidak ada niat sedikit pun dari kita untuk melukai hati. Meski begitu, tidak berarti bisa kelewat batas. Tetap jaga perasaannya.

    Jika dengan orang yang tidak begitu dekat atau bahkan belum kenal sama sekali coba lontarkan gurauan yang netral, tidak menyinggung, dan berpotensi bullying. Hindari isu sensitif terkait kondisi fisik dan juga SARA. Semakin kita aware dengan latar belakang target audiens, makin besar potensi keberhasilan kita melemparkan candaan tanpa membuat orang lain tersakiti.

    Segera Minta Maaf jika Menyinggung

    Jangan segan untuk meminta maaf ketika menyadari candaan Anda tidak pada tempatnya. Hubungan baik, reputasi, dan personal branding yang Anda bangun dengan susah payah terlalu mahal untuk dirusak oleh materi candaan yang bisa jadi hanya terlontar sekian detik. Meminta maaflah dengan tulus karena dengan demikian orang tahu, Anda tidak ada niat untuk menyakiti. Dan, Anda telah belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. (*)


    *) RIZQIANI PUTRI, Founder Sinergi Bicara, Pengajar Public Speaking Universitas Airlangga


    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleSamsons, Yovie & Nuno, dan D’Masiv Panaskan Jakarta Concert Week 2023
    Next Article Korban Mutilasi Koper Merah Kenal Pelaku dari Pesan Taksi Online
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Cek desil Dinsos untuk bansos 2026 kini banyak dicari masyarakat (Ilustrasi/AI)

    Cek Desil Dinsos untuk Bansos 2026, Begini Cara Melihat Statusnya

    June 25, 2026
    Apakah Niat Puasa 9 dan 10 Muharram dan Qadha Ramadhan Bisa Digabung (Ilustrasi/AI

    Apakah Niat Puasa 9 dan 10 Muharram dan Qadha Ramadhan Bisa Digabung?

    June 24, 2026
    Kerusakan Ginjal Disebabkan Oleh Apa (ILustrasi/AI)

    Kerusakan Ginjal Disebabkan Oleh Apa? Kenali Penyebab serta Risikonya

    June 23, 2026
    Puasa Muharram Berapa Hari yang Dianjurkan (Ilustrasi/AI)

    Puasa Muharram Berapa Hari yang Dianjurkan? Ini Kata Ulama

    June 15, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Cek Desil Dinsos untuk Bansos 2026, Begini Cara Melihat Statusnya
    • 5 Jasa Konsultan KPI Terbaik di Indonesia untuk Efektivitas Bisnis
    • Apakah Niat Puasa 9 dan 10 Muharram dan Qadha Ramadhan Bisa Digabung?
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.