Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»News»Budayawan dan Filsuf Sepakat PDIP: Haluan Negara Berbasis Budaya Bangsa
    News

    Budayawan dan Filsuf Sepakat PDIP: Haluan Negara Berbasis Budaya Bangsa

    December 13, 2019No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Budayawan dan Filsuf Sepakat PDIP: Haluan Negara Berbasis Budaya Bangsa

    FGD Budayawan dan Filsuf di DPP PDIP

    Jakarta, Jurnas.com – Jelang rapat kerja nasional (Rakernas) I 2020, DPP PDI Perjuangan (PDIP) mengundang sejumlah budayawan dan akademisi untuk berdiskusi tentang kebudayaan dengan mengambil Candi Borobudur sebagai contoh kajian.

    Tema diskusi itu adalah `Mengangkat dan Membumikan Filsafat, Spiritualitas dan Kebudayaan Asli Nusantara`. Hasilnya, ada kesepahaman bahwa lebih strategis bagi Indonesia untuk mendasarkan pembangunan ke depan dengan selalu berakar pada kebudayaan sendiri.

    Bertempat di Kantor Pusat PDIP di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (13/12/2019), Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto membuka diskusi. Menghadirkan Budayawan M.Sobari, Rm. Mudji Sutrisno, dan Arsitek, Peneliti Relief Candi Borobudur Salim Lee sebagai pembicara utama.

    Di acara yang dimoderatori Bonnie Triyana itu, hadir tokoh seperti sebagai peserta grup diskusi terfokus (FGD) itu.

    Hasto menyatakan topik diskusi itu diangkat karena PDIP merasa bertanggung jawab merumuskan Haluan Negara. Dan ajang rakernas nanti menjadi salah satu wahana puncaknya dengan mengundang perwakilan dari seluruh Indonesia.

    Baca juga.. :

    • Anak dan Menantu Jokowi Ikut Pilkada, PDI-P: Ini kan hak politik individu
    • Rakernas dan HUT ke-47 PDIP Bahas Jalur Rempah dan Lima Prioritas Industri
    • Gotong Royong di Pilkada, Jangan Suburkan Sikap Elitis

    “Dan kami meyakini, bahwa haluan negara tersebut harus bertitik tolak dari akar peradaban kita,” kata Hasto.

    Dalam konteks itu, lanjut Hasto, maka haluan negara yang nantinya akan secara formal dibahas di MPR RI, bukanlah sekedar langkah politik. Namun juga sebagai sebuah jalan kebudayaan untuk memastikan masa depan Indonesia untuk 25 tahun, 50 tahun, dan 100 tahun ke depan.

    “Maka hal-hal berkaitan dengan kesejahteraan rakyat, perekonomian, dan lain sebagainya, yang berakar kuat pada kekayaan kebudayaan bangsa, semua akan dibungkus dalam sebuah panduan bernama haluan negara,” ucapnya.

    “Ini memang bukan jalan mudah. Tapi paling tidak, bila bertumpu pada kebuidayaan kita, kita takkan kehilangan arah atas jalan bangsa kita ke depan. Boleh teknologi ada. Tapi teknologi apa yang mau dikembangkan? Bagi kami, haluan negara adalah wujud Indonesia berkepribadian di dalam kebudayaan itu,” bebernya.

    Namun apakah kebudayaan Indonesia patut untuk menjadi dasar membangun masa depan? Tidakkah kita cukup mencontek kebudayaan barat saja?

    Salim Lee lalu memaparkan Candi Borobudur sebagai sebuah perwujudan bahwa di masa lalu, leluhur bangsa Indonesia saat ini begitu luar biasa. Di abad lampau itu, nenek moyang sudah menguasai teknik luar biasa.

    Namun bukan hanya teknik, ternyata estetika dan seni rupa yang terwujud di candi itu menggambarkan kemantapan serta kebudayaan Nusantara yang ramah, akomodatif, kokoh dan tegar, terbuka dan toleran.

    “Semua yang ada mengandung filosofi hidup tingkat tinggi. Borobudur mencerminkan keagungan kebudayaan Nusantara, ajaran-ajaran yang memberi haluan dan pandangan hidup sebagai pedoman untuk hidup secara optimal,” ulas Salim, yang juga pengajar nilai-nilai filsafat dan spiritual Borobudur.

    Maka baginya, tak ada alasan untuk menolak kekayaan budaya itu sebagai patokan pembangunan bangsa masa kini untuk masa depan

    Salah satu penanggap, Otong Toyibin Wiranatakusumah yang merupakan Ketua Rukun Wargi Bandung, mengatakan bahwa orang Indonesia saat ini kerap melupakan  leluhurnya sendiri. Dan justru lebih menerima pengaruh asing  yang menyingkirkan budaya sendiri.

    “Padahal kalau kita mau jujur, kekecauan negara saat ini yang disebabkan kekacauan politik berdampak pada ekonomo dan sosial serta aspek-aspek lainnya, apakah bukan karena kita salah memilih, yakni enggan memastikan akar budaya bangsa sebagai akar arah pembangunan?” kata Otong.

    “Di saat kita hendak mewujudkan Indonesia baru yang berjiwa Nusantara, ini saatnya kita mengakui kembali kebesaran dan kebijaksaan para leluhur kita,” ujarnya.

    Romo Mudji Sutrisno memaparkan banyak hal mengenai perlunya menggali kearifan maupun nilai-nilai yang terdapat di dalam warisan budaya. Inti paling pokoknya, bahwa Indonesia ke depan harus berpijak kepada nilai yang berguna, bermanfaat, bagi kehidupan.

    “Jadi apa yang baik, benar, suci, yang indah, yang dihayati oleh local genius dan kita sebagai bangsa, itulah Pancasila itu,” kata Romo Mudji, yang merupakan Penulis buku Filsafat Nusantara.

    Hasto lalu memuncaki bahwa pendapat para pakar dan tokoh itu semakin menguatkan bahwa haluan negara harus berbasis kepada kekayaan budaya bangsa Indonesia sendiri. Salah satunya adalah kekayaan pangan dan rempah-rempah yang dimiliki Nusantara.

    Di rakernas nanti, PDIP akan mendalami dan merumuskan bagaimana kekayaan budaya ini menjadi basis pengembangan industri. Maka itu, pengembangan industri yang dibayangkan hingga 100 tahun ke depan adalah industri pangan, sandang, dan papan: industri bahan baku industri: industri energi; dan industri farmasi.

    “Bahwa di dalam hal pangan dan bumbu-bumbuan, kekayaan hayati kita di dalam laut, kita bisa kaya tanpa harus menambang yang sebenarnya merusak lingkungan kita,” ujar Hasto.

    Di acara diskusi itu, hadir juga sejumlah anggota DPR dari PDIP. Seperti Puti Guntur Soekarno, Vita Ervina, Rano Karno, Aria Bima, dan Ribka Tjiptaning.

    TAGS : Haluan Negara Budaya Bangsa Budayawan PDI Perjuangan

    This article is automatically posted by WP-AutoPost Plugin

    Source URL:http://www.jurnas.com/artikel/63954/Budayawan-dan-Filsuf-Sepakat-PDIP-Haluan-Negara-Berbasis-Budaya-Bangsa/

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleSenator Fahira Idris Nilai Periode Kedua Jokowi Menanggung Beban Ganda
    Next Article Trump: Perusahaan Militer AS Tentang Pemulangan Pasukan dari Suriah
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang (Ilustrasi)

    Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang

    June 5, 2026
    5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW

    5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW

    June 4, 2026
    Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin (Ilustrasi/AI)

    Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin

    June 4, 2026
    Dino Patti Djalal Kritik Prabowo soal Kunjungan Luar Negeri (Instagram)

    Dino Patti Djalal Kritik Prabowo soal Kunjungan Luar Negeri

    June 2, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.