Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Entertainment»Dorong Kemajuan Perfilman, LSF Ubah Pendekatan dalam Plroses Sensor
    Entertainment

    Dorong Kemajuan Perfilman, LSF Ubah Pendekatan dalam Plroses Sensor

    March 30, 2023No Comments2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Dorong Kemajuan Perfilman, LSF Ubah Pendekatan dalam Plroses Sensor 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    JawaPos.com – Lembaga Sensor Film (LSF) merupakan satu-satunya lembaga yang memiliki kewenangan untuk melakukan sensor pada film-film sebelum akhirnya ditayangkan. Sensor diperlukan bertujuan untuk melindungi masyarakat atas kemungkinan dampak negatif yang timbul dari sebuah tayangan film.

    Ketua LSF Rommy Fibri Hardiyanto menegaskan bahwa lembaganya kininsudah mengubah pendekatan dalam proses sensor suatu film. Jika dulu pendekatannya main potong adegan yang dianggap sensitif atau dinilai akan membawa dampak negatif, saat ini lebih melihat konteks adegan dalam sebuah cerita film.

    “Kalau filmnya tentang kriminalitas, memang harus ada adegan berantem atau pembunuhan. Kalau filmnya durhaka ke orang tua harus ada adegan membentak orang tua misalnya,” kata Rommy di bilangan Pancoran Jakarta Selatan, Kamis (30/3).

    Selain itu, LSF mengedepankan dialog dengan produser atau pemilik film dalam proses sensor. Hal itu dimulai dengan menonton filmnya secara utuh baru kemudian mendiskusikannya.Jika ada adegan cukup sadis misalnya, bukan lantas menggunting adegan itu atau memburamkannnya. Tapi filmnya lebih diarahkan ke klasifikasi usia yang lebih sesuai dengan film itu.

    “LSF bukan lagi menggunting seperti jaman dulu, tapi pendekatannya dialog. Yang pertama adalah mengklasifikasikan film ini usia 13 atau 17,” jelasnya.

    Kebijakan sensor film yang lebih mengedepankan langkah dialogis dilakukan LSF untuk tujuan mendukung kemajuan perfilman Indonesia. Karena dengan pendekatan cuting malah akan menghilangkan rasa atau sensasi pada film itu sendiri.

    “Kalau misalkan ada yang dianggap tidak cocok kita bisa diskusi. Bisa saja kita yang mengikuti pemilik film karena lebih tepat atau mereka yang ikut kita karena lebih sesuai,” paparnya.


    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleKembangkan Jaringan 6G, China Buka Kesempatan Kerja Sama Internasional
    Next Article Pemudik dengan Kapal Feri Wajib Bertiket H-1 Sebelum Keberangkatan
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    KPop Demon Hunters Sukses Menarik Perhatian di 2026 (ilustrasi)

    KPop Demon Hunters Sukses Menarik Perhatian di 2026

    June 18, 2026
    Cara Beli Tiket BTS Jakarta 2026 Biar Nggak Gagal (Ilustrasi/AI)

    Cara Beli Tiket BTS Jakarta 2026 Biar Nggak Gagal

    June 9, 2026
    Film Apex Netflix Thriller Survival Intens (YouTube/Netflix))

    Film Apex Netflix Thriller Survival Intens Charlize Theron vs Taron Egerton

    April 28, 2026
    Dyandra Global Tiket EXO Habis Sekejap, War Tambahan Bikin Heboh (Ilustrasi/AI)

    Dyandra Global Tiket EXO Habis Sekejap, War Tambahan Bikin Heboh

    April 15, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Cek Desil Dinsos untuk Bansos 2026, Begini Cara Melihat Statusnya
    • 5 Jasa Konsultan KPI Terbaik di Indonesia untuk Efektivitas Bisnis
    • Apakah Niat Puasa 9 dan 10 Muharram dan Qadha Ramadhan Bisa Digabung?
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.