Enam Provinsi di Pula Jawa Diminta Segera Optimalkan PPKM Mikro

Enam Provinsi di Pula Jawa Diminta Segera Optimalkan PPKM Mikro

JawaPos.com – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 meminta pemerintah daerah di enam provinsi di Pulau Jawa segera mengoptimalkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro menyusul lonjakan jumlah pasien yang sangat tinggi dalam empat pekan terakhir.

“Sesuai arahan Presiden, pimpinan daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, khususnya di Pulau Jawa, harus terbiasa mengamati situasi terkini dengan membaca data, sehingga dapat segera dilakukan langkah antisipatif,” kata Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (22/6).

Menurut Wiku permintaan tersebut tidak lepas dari perkembangan pandemi Covid-19 yang terjadi dalam empat pekan terakhir yang menunjukkan enam provinsi di Pulau Jawa sebagai penyumbang tertinggi kenaikan kasus di Indonesia. Keenam provinsi itu adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Jogjakarta, dan Banten.

Wiku meminta pihak terkait di daerah untuk menjadikan data sebagai basis pengambilan kebijakan penanganan Covid-19, sehingga kebijakan yang dihasilkan dapat tepat sasaran dan mampu mengendalikan lonjakan kasus.

Berdasarkan data Minggu (20/6), enam provinsi di Pulau Jawa yang menyumbang kenaikan kasus tertinggi, di antaranya DKI Jakarta meningkat 387 persen, dengan total kenaikan 20.634 pasien. Jawa Barat meningkat 115 persen dengan total kenaikan 8.382 pasien, Jawa Tengah meningkat 105 persen dengan total kenaikan 5.896 pasien, Jawa Timur meningkat 174 persen dengan total kenaikan 2.852 pasien. DI Jogjakarta meningkat 197 persen dengan total 2.583 pasien, dan Banten meningkat 189 persen dengan total 967 pasien.

Wiku mengungkapkan perkembangan tersebut menjadikan Indonesia secara nasional mengalami peningkatan kasus mingguan sebesar 92 persen sejak empat pekan terakhir. “Ini adalah kenaikan yang sangat tajam, dan tidak dapat ditoleransi,” kata Wiku.


Credit: Source link

Related Articles