Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Ekonomi»”Groundbreaking” LRT Bali di Awal 2024 Dinilai ”Kesusu”
    Ekonomi

    ”Groundbreaking” LRT Bali di Awal 2024 Dinilai ”Kesusu”

    September 30, 2023No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    ”Groundbreaking” LRT Bali di Awal 2024 Dinilai ”Kesusu” 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    ”Groundbreaking” LRT Bali di Awal 2024 Dinilai ”Kesusu” 2
    Kemacetan di jalur Bypass Ngurah Rai, Sanur menjadi pemandangan harian. Kondisi ini bertambah parah dengan dioperasikannya Pelabuhan Sanur. (BP/eka)

    DENPASAR, BALIPOST.com – Rencana pembangunan Light Rail Transit (LRT) untuk akses keluar dan menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dinilai mampu atasi kemacetan. Namun, rencana groundbreaking awal 2024 dinilai belum berdasarkan kajian mendalam, hingga terkesan terlalu cepat atau istilah Jawanya “kesusu”. Demikian disampaikan pengamat transportasi Prof. I Putu Rumawan Salain yang diwawancarai di Denpasar, Jumat (29/9).

    Menurut Prof. Rumawan, persoalan transportasi publik sangat penting dan perlu bagi Bali, khususnya Bali Selatan. Memilih dan memutuskan menggunakan LRT adalah sesuatu yang tepat dan green transportation. Hanya saja, jika grounbreaking sudah dilakukan awal tahun, hal tersebut menurut Prof. Rumawan ter-
    lalu cepat.

    “Persoalannya, jika groundbreaking diharapkan tahun 2024 menurut saya terlalu cepat atau “kesusu”, karena studi pendahuluan maupun calon investor belum final,” katanya.

    Diingatkan, bahwa investasi untuk LRT itu cukup besar. Jika relnya di atas tanah, maka harga lahan sepanjang bandara ke Kuta harganya mahal dan jalurnya sulit mengingat kepadatan. Sedangkan jika rel dibangun dengan jalur di bawah tanah maka harga konstruksi menjadi mahal. Masalah lainnya adalah izin dan hak pemanfaatan lahannya.

    Pemerintah Bali hendaknya cerdas membaca master plan LRT termasuk rencana perkereta-apian di Bali seperti integrasi sistem transportasi, jaringan, jalur, dll. sehingga satu dengan lainnya saling mendukung bukan saling melahirkan kemacetan baru.

    Akademisi dari Fakultas Teknik Universitas Udayana, Prof. Putu Alit Suthanaya mengatakan, Ligth Rail Transit (LRT) bisa menjadi solusi kemacetan. Terlebih bagi Denpasar dan Badung yang tidak mudah untuk membangun jalan karena sudah terlalu padat.

    Pembangunan jalan baru seperti di Kota Denpasar hampir tidak memungkinkan lagi dilakukan. Sementara infrastruktur yang bersifat elevated seperti jalan layang bertentangan dengan nilai sosial dan budaya. Sehingga yang diperlukan adalah kombinasi yang optimal
    antara pembangunan jalan dan sistem
    transportasi publik.

    LRT merupakan salah satu alternatif moda yang bisa ditawarkan. Tentunya ada juga moda transportasi lainnya yang perlu dipertimbangkan seperti BRT atau kombinasinya. “Kita memerlukan layanan transportasi publik dengan kualitas baik, yang tidak terjebak dalam kemacetan lalu lintas,” ujarnya.

    Namun, pemilihan modanya sangat tergantung pada beberapa hal seperti kualitas layanan yang diharapkan, potensi demand, kemampuan finansial serta kebijakan. “Bali sebagai sebuah destinasi wisata dunia tentunya membutuhkan kualitas layanan transportasi publik yang baik,” imbuhnya.

    Dalam membangun system transportasi di Bali harus ada beberapa aspek yang diperhatikan. Secara geografis luas wilayah Provinsi Bali relatif kecil (5.590,15 km2) sebagai sebuah pulau dengan satu provinsi. Berbeda halnya dengan pulau lainnya seperti Pulau Jawa, dimana terdapat beberapa provinsi.

    Bagian tengah Pulau Bali terdiri dari perbukitan, pegunungan dan lembah. Selain masalah geografi dan topografi, terdapat kehidupan sosial budaya dan alam Bali yang perlu diperhatikan dan dilestarikan, yang sekaligus merupakan menjadi daya tarik Bali bagi wisatawan.

    Sehingga kebutuhan pengembangan transportasi Bali harus mempertimbangkan kaidah pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development), yang tidak semata-mata berorientasi ekonomi tapi juga memerhatikan keseimbangan alam dan sosial budaya. (Nyoman Winata/Citta Maya/balipost)

    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleStrategi Komunikasi Aktif Perkuat Identitas ASEAN
    Next Article Samsung SDI akan belanjakan Rp30,5 triliun untuk pabrik baterai di AS
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru (Ilustrasi/AI)

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru, Pemerintah Bentuk PT DSI untuk Atur Ekspor

    May 21, 2026
    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat (Instagram/@menkeuri)

    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat

    May 18, 2026
    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter (Ilustrasi/AI)

    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter

    May 5, 2026
    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing (Ilustrasi/Ai)

    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing

    April 29, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • SPMB Jateng 2026 Jalur Prestasi Punya Aturan Baru?
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.