Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Ekonomi»Indonesia Bangkit, Indikator Ekonomi Membaik Mulai Bermunculan
    Ekonomi

    Indonesia Bangkit, Indikator Ekonomi Membaik Mulai Bermunculan

    October 28, 2020No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Indonesia Bangkit, Indikator Ekonomi Membaik Mulai Bermunculan 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    JawaPos.com – Meski tertekan karena pandemi Covid-19, perekonomian mulai bergerak. Tanda-tanda pemulihan juga mulai muncul. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa indikasi perbaikan itu terlihat pada kuartal III tahun ini.

    “Perbaikan berangsur didorong percepatan realisasi stimulus fiskal atau APBN dan perbaikan dari sisi ekspor,” ujar Ani, sapaan Sri Mulyani, melalui video conference Selasa (27/10).

    Pemulihan ekonomi itu juga sejalan dengan prediksi International Monetary Fund (IMF) tentang pertumbuhan ekonomi global yang mencapai 4,4 persen. Atau, lebih baik daripada proyeksi sebelumnya.

    Ani menekankan bahwa perbaikan terjadi setelah kontraksi pada kuartal II 2020 yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi minus 5,32 persen. Perekonomian mulai membaik karena indikator konsumsi, investasi, ekspor, dan belanja pemerintah menunjukkan tren positif.

    Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu menyebutkan bahwa perbaikan kinerja ekonomi didorong percepatan realisasi stimulus fiskal atau APBN. Juga, perbaikan dari sisi ekspor serta belanja pemerintah yang meningkat selama kuartal III.

    Belanja itu terutama digunakan untuk bantuan sosial dan dukungan terhadap dunia usaha, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Semua itu berlangsung dalam kerangka program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

    “Langkah tersebut mengurangi kontraksi pada konsumsi rumah tangga,” ujar Ani.

    Selain itu, kinerja ekspor membaik. Terutama pada komoditas seperti besi dan baja. Juga, pulp dan waste paper serta tekstil dan produk tekstil (TPT) yang ditopang permintaan dari Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Meski investasi masih tertekan, beberapa sektor menunjukkan perbaikan. Misalnya, sektor bangunan karena berlanjutnya berbagai proyek strategis nasional (PSN).

    Secara umum, setelah pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pun, ekonomi mulai bergeliat. Terutama dari sisi konsumsi rumah tangga. “Konsumsi diharapkan bisa meningkat agar bisa mendekati nol persen pada kuartal IV. Pada kuartal III masih negatif, tapi lebih rendah dari kuartal II yang minus 5,5 persen,” jelas Ani.

    Pada kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan bahwa suku bunga acuan BI 7-Day (Reverse) Repo Rate (BI-7DRR) ditahan pada level 4 persen. Alasannya, BI perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global. Meskipun, sebenarnya ada cukup ruang untuk menurunkan lagi lantaran inflasi yang rendah.

    “Tentu kebijakan itu akan kami review kembali pada rapat dewan gubernur BI November nanti. Tentunya, dengan melihat kondisi pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan ketahanan eksternal,” kata Perry.

    Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso optimistis bahwa perekonomian akan pulih. Indikator yang pertama adalah menurunnya rasio kredit bermasalah (non-performing loan) pada September ke angka 3,15 persen. Sebab, pada bulan sebelumnya tercatat 3,22 persen.

    Kedua, program restrukturisasi, khususnya sektor UMKM, yang lancar. Dengan ditopang likuiditas perbankan yang kuat, industri keuangan masih stabil meski banyak pengusaha yang memohon penundaan pembayaran akibat usaha mereka terdampak.

    “UMKM ini tidak sulit karena kecil sehingga recover-nya cepat,” ucap Wimboh.

    INDIKATOR PEREKONOMIAN

    Inflasi: 1,42 persen (yoy) per September

    Neraca perdagangan: Surplus USD 8,03 miliar per kuartal III

    Cadangan devisa: USD 135,2 miliar per September, naik dari USD 131,7 miliar pada Juni 2020

    Realisasi APBN (per September 2020)

    Pendapatan negara: Rp 1.159 triliun

    Belanja negara: Rp 1.841,1 triliun

    APBN: Defisit Rp 682,1 triliun (setara 4,16 persen terhadap PDB)

    Sumber: Kemenkeu

    Editor : Estu Suryowati

    Reporter : (dee/han/c12/hep)


    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleDaihatsu Jepang berikan Thor pembaruan fitur dan desain
    Next Article Travel Umrah Mulai Bersiap Jelang Dibukanya Akses untuk Warga Asing
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru (Ilustrasi/AI)

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru, Pemerintah Bentuk PT DSI untuk Atur Ekspor

    May 21, 2026
    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat (Instagram/@menkeuri)

    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat

    May 18, 2026
    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter (Ilustrasi/AI)

    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter

    May 5, 2026
    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing (Ilustrasi/Ai)

    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing

    April 29, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Starbucks Jadi Perbincangan Gegara Promosi yang Bikin Orang Kesal
    • Puasa Muharram Berapa Hari yang Dianjurkan? Ini Kata Ulama
    • Demo Hari Ini di Jakarta Menuntut Apa? Simak Isinya
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.