Jangan Tunggu yang Tak Pasti! Bali Harus Segera Diversifikasi

Jangan Tunggu yang Tak Pasti! Bali Harus Segera Diversifikasi
Suasana sepi aktivitas di Jalan Poppies II Kuta, Badung, di tengah pandemi COVID-19. Kawasan ini biasanya ramai dengan aktivitas wisatawan di siang maupun malam harinya. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sektor pariwisata Bali masih terpuruk karena hantaman pandemi COVID-19. Di triwulan I 2021 ini, lagi-lagi pertumbuhan Bali minus 5,24% dibandingkan triwulan sebelumnya. Sedangkan secara yoy (triwulan I 2021 dibandingkan triwulan 1 2020) tumbuh minus 9,85% (-9,85%).

Kondisi ini harus segera disikapi. Akademisi dari Undiknas Prof. Gede Sri Darma, Kamis (6/5) mengatakan, Bali jangan menunggu yang tidak pasti.

Yaitu menggantungkan perekonomian pada pemulihan pariwisata, karena saat ini kunjungan wisatawan belum pulih. “Kesehatan dan ekonomi dari negara pasar wisatawan juga belum pulih. Kesehatan di Bali dan Indonesia pun belum pulih,” ungkapnya.

Ia menilai penanganan COVID-19 negara lain juga belum baik. “Belum tentu negara lain hijau, kita juga hijau, pariwisata bisa buka. Belum tentu juga kita hijau, negara lain tidak dan sebaliknya, pariwisata bisa buka. Engga bisa seperti itu. Sampai kapan pandemi berakhir? Tidak ada yang tahu,” bebernya.

Ia pun menyebutkan jangan sampai negara lain tumbuh, Bali masih melambat karena enggan melakukan diversifikasi ekonomi. “Jadi jangan menunggu yang tidak pasti. Kita lihat saja China, negara produsen paling aktif mampu mencatat pertumbuhan double digit 18,3 persen pada triwulan I 2021. Padahal sebelum pandemi pertumbuhannya rata-rata 6 persenan,” ungkapnya.

Terkait itu, ia pun mengatakan pengajuan soft loan atau pinjaman lunak ke pemerintah pusat sebesar Rp 9,5 triliun hendaknya untuk diversifikasi ekonomi, sesuai arahan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Jika sektor lain yang digerakkan dengan pinjaman lunak tersebut, ia menilai akan sangat berguna untuk menggerakkan ekonomi sekaligus membangun struktur ekonomi baru. Bukan tidak mungkin struktur ekonomi dibalikkan, dari ketergantungan awal pariwisata, menjadi 50% pariwisata, 35% pertanian dan 15% industri kreatif.

Ia menyebut kondisi ini mungkin saja bisa dilakukan, asal ada intervensi pemerintah dan pemanfaatan teknologi dalam menjalankan dua sektor tersebut. Pemanfaatan teknologi bukan hanya mempermudah pekerjaan tapi juga dapat menekan cost atau biaya sehingga produk yang dihasilkan lebih berdaya saing. (Citta Maya/balipost)

Credit: Source link

Related Articles