Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Teknologi»Kerap Lakukan Video Meeting? Waspadai “Zoom Fatigue”
    Teknologi

    Kerap Lakukan Video Meeting? Waspadai “Zoom Fatigue”

    April 21, 2021No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Kerap Lakukan Video Meeting? Waspadai "Zoom Fatigue" 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Kerap Lakukan Video Meeting? Waspadai "Zoom Fatigue" 2
    Ilustrasi. (BP/Istimewa)
    Kerap Lakukan Video Meeting? Waspadai "Zoom Fatigue" 3

    JAKARTA, BALIPOST.com – Sudah setahun ini, sejumlah kantor masih menerapkan work from home (WFH) dan menggelar pertemuan lewat aplikasi pertemuan virtual atau video meeting. Sehingga muncul istilah “Zoom fatigue” — atau kelelahan karena melakukan telekonferens melalui Zoom dilakukan setiap hari dan back-to-back.

    Bagi Anda yang kerap melakukan ini, waspadai dampaknya. Dikutip dari Kantor Berita Antara, Psikiater Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Gina Anindyajati, SpKJ, Rabu (21/4), mengatakan bahwa Zoom fatigue dapat terjadi karena ada kelelahan fisik akibat menghadap layar yang berlangsung lama. Ditambah dengan kehabisan energi mental untuk selalu fokus pada pertemuan daring yang diadakan.

    “Zoom fatigue adalah kelelahan fisik dan mental yang timbul akibat paparan dengan pertemuan daring yang lama tanpa jeda. Zoom fatigue bisa berkontribusi pada terjadinya burn out yang dialami pekerja,” kata dr. Gina.

    Ada pun sejumlah faktor yang bisa membuat seseorang merasakan Zoom fatigue. Mulai dari lama durasi dan jarak menghadap layar komputer, tidak adanya jeda di antara bekerja dan istirahat, hingga kendala teknis seperti sinyal yang terputus-putus.

    “Saat kita menatap layar untuk durasi yang lama, mata merasa lelah, sehingga rekomendasi dari dokter adalah memandang jauh (6 meter) setiap 20 menit, sementara tidak semua orang yang bekerja jarak jauh punya fasilitas untuk mengalihkan pandangannya. Akibatnya, mata dipaksa untuk melihat lama ke layar tanpa bisa refresh,” kata dr. Gina.

    “Selain itu, pertemuan yang dikerjakan back to back tidak memberi kesempatan pada orang untuk jeda, bahkan ke toilet atau bergerak. Bayangkan kalau kita rapat di kantor, antara satu jadwal dengan jadwal yang lain, kita bisa ke toilet terlebih dulu atau naik tangga atau naik lift,” imbuhnya.

    Menurut dr. Gina, jeda sejenak itu penting untuk mengembalikan rasa segar. Sementara pada pertemuan daring benar-benar langsung pindah ruangan setelah satu pertemuan selesai.

    Selanjutnya, rasa lelah juga dikontribusikan oleh fokus yang dipaksakan, belum lagi ditambah dengan kendala sinyal atau teknologi yang membuat orang harus bolak balik melakukan pengecekan.

    “Selain itu, pertemuan daring juga membuat interaksi lebih terbatas karena tidak ada waktu untuk chit chat yang bisa dilakukan saat pertemuan tatap muka,” jelas dia.

    “Belum lagi pertemuan daring yang dianggap dapat dilakukan dari mana saja, memaksa seseorang untuk mengikuti pertemuan multipel, dan tidak mengenal jam kerja. Tentu secara tidak langsung ini menambah beban pekerjaan dan bisa membuat lelah,” tambah dr. Gina.

    Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa hubungan antara pekerjaan dan kesehatan mental sangat dekat.

    Mengutip dari Healthline, selain stres terkait pekerjaan yang biasa, pandemi telah menyebabkan kesehatan mental hampir semua orang menurun.

    Namun, kebanyakan dari orang diharapkan terus bekerja seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Pandemi telah mempengaruhi banyak kehidupan. Wajar jika interaksi kerja kita juga terpengaruh.

    Tanda-tanda kelelahan tradisional termasuk perasaan apatis dan umumnya kelelahan, dan penurunan kinerja kerja.

    “Pekerjaan dan kesehatan mental saling berkaitan, karena orang yang mentalnya sehat akan bisa mengerjakan pekerjaannya dengan optimal, produktif, serta berkontribusi untuk lingkungannya,” jelas dr. Gina.

    “Pekerjaan yang melebihi kapasitas seseorang dapat mengancam kesehatan jiwa, sehingga berisiko menimbulkan masalah bahkan gangguan jiwa. Akan tetapi, pekerjaan juga bisa menjadi faktor protektif yang meningkatkan kesejahteraan mental seseorang,” imbuhnya. (kmb/balipost)

    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticlePendengar yang Baik, 4 Zodiak Ini Berhati Lembut dan Berempati
    Next Article Surat Edaran Satgas No. 13/2021 Larang Perjalanan Wisata Jarak Jauh
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    X Down Hari Ini Jadi Sorotan, Pengguna Tak Bisa Login dan Refresh Timeline (Ilustrasi/AI)

    X Down Hari Ini Jadi Sorotan, Pengguna Tak Bisa Login dan Refresh Timeline

    June 22, 2026
    Cara Membuat Video Animasi dengan ChatGPT Agar Hasilnya Keren (Ilustrasi/AI)

    Cara Membuat Video Animasi dengan ChatGPT Agar Hasilnya Keren

    June 19, 2026
    Cara Pakai Aplikasi Cek Bansos Kemensos 2026 Terbaru (Ilustrasi/AI)

    Cara Pakai Aplikasi Cek Bansos Kemensos 2026 Terbaru untuk Lihat PKH dan BPNT

    May 29, 2026
    Jadwal Pemadaman Listrik Hari Ini di Jogja hingga Semarang (Ilustrasi/AI)

    Jadwal Pemadaman Listrik Hari Ini di Jogja, Sleman, hingga Semarang

    April 23, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Cek Desil Dinsos untuk Bansos 2026, Begini Cara Melihat Statusnya
    • 5 Jasa Konsultan KPI Terbaik di Indonesia untuk Efektivitas Bisnis
    • Apakah Niat Puasa 9 dan 10 Muharram dan Qadha Ramadhan Bisa Digabung?
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.