Andalannews.com – Beberapa waktu terakhir nama KGPH Hangabehi Surakarta kembali ramai diperbincangkan publik.
Hal ini setelah kabar bahwa ia dinobatkan sebagai calon Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Paku Buwono XIV.
Keputusan tersebut menjadi momen penting bagi sejarah panjang Keraton Surakarta yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat budaya Jawa di Indonesia.
Siapa sebenarnya KGPH Hangabehi? Nama lengkapnya adalah Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi, yang lahir di Surakarta pada 5 Februari 1985.
Sejak kecil, ia dikenal dengan nama Gusti Raden Mas Soerjo Soeharto. Ia merupakan putra tertua mendiang Pakubuwono XIII dari pernikahan dengan KRAy Winarni (atau dikenal juga sebagai KRAy Pradapaningsih).
Dalam tradisi Keraton Surakarta, anak laki-laki tertua dari seorang raja biasanya menjadi calon kuat penerus tahta.
Maka tak heran jika Hangabehi dianggap sebagai sosok yang paling berhak untuk meneruskan garis keturunan dan melanjutkan kepemimpinan di Keraton Surakarta.
Sebelum dikenal sebagai Hangabehi, ia lebih dulu menyandang gelar KGPH Mangkubumi. Gelar itu digantinya menjadi Hangabehi pada 24 Desember 2022, dalam sebuah upacara resmi di lingkungan keraton.
Perubahan gelar ini bukan sekadar simbol, tetapi menandai kedewasaan dan kesiapan dirinya untuk menjalankan peran yang lebih besar dalam struktur keluarga keraton.
Sejak saat itu, namanya makin dikenal masyarakat luas, terutama di kalangan pemerhati budaya Jawa dan penggemar sejarah keraton.
Ia juga dikenal sebagai sosok yang berupaya menjaga nilai-nilai tradisi di tengah arus modernisasi.
Pada Kamis, 13 November 2025, keluarga besar Keraton Surakarta menggelar rapat di Sasana Handrawina, salah satu bangunan bersejarah di dalam kompleks keraton.
Dalam rapat tersebut, KGPH Hangabehi resmi ditetapkan sebagai calon Raja Keraton Surakarta bergelar Paku Buwono XIV.
Penetapan ini dipimpin oleh Maha Menteri Keraton Solo, KGPA Tedjowulan, dan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting keluarga keraton, termasuk GKR Wandansari Koes Murtiyah.
Keputusan ini menjadi hasil musyawarah keluarga besar, sesuai dengan paugeran, yaitu aturan adat dan tata nilai yang sudah lama dijaga di lingkungan keraton.
Meski begitu, statusnya masih sebagai “calon” raja, karena proses penabalan resmi biasanya menunggu waktu tertentu serta restu penuh dari para sesepuh dan keluarga besar.
Penetapan KGPH Hangabehi Surakarta sebagai calon Paku Buwono XIV bukan hanya sekadar pergantian generasi, tapi juga simbol kesinambungan budaya.
Di tengah tantangan modernisasi, keberadaan raja keraton tetap menjadi penjaga tradisi, adat, serta nilai-nilai luhur Jawa.
Keraton Surakarta sendiri merupakan bagian penting dari sejarah Nusantara. Setelah perpecahan Mataram pada abad ke-18, lahirlah dua pusat kekuasaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta.
Sejak saat itu, Keraton Surakarta terus menjadi pusat kebudayaan dan spiritualitas Jawa, meskipun tak lagi memiliki kekuasaan politik formal.
Dalam konteks itulah, sosok seperti Hangabehi diharapkan mampu membawa semangat baru—menjaga warisan masa lalu tanpa menutup diri dari masa depan.
Tak bisa dipungkiri, suksesi di lingkungan Keraton Surakarta kerap diwarnai dinamika. Beberapa kali terjadi perbedaan pendapat antar anggota keluarga mengenai siapa yang paling berhak memegang takhta.
Namun, penetapan Hangabehi sebagai calon Paku Buwono XIV dianggap sebagai langkah menuju rekonsiliasi dan stabilitas di tubuh keraton.
Pihak-pihak yang hadir dalam rapat keluarga juga menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama, bukan hasil tekanan politik atau pihak luar.
Artinya, keputusan ini murni urusan internal keluarga besar keraton yang berlandaskan paugeran adat.
Salah satu hal menarik dari KGPH Hangabehi Surakarta adalah usianya yang masih relatif muda untuk memegang tanggung jawab besar sebagai calon raja.
Lahir di tahun 1985, ia masih berusia 40 tahun pada 2025 usia yang dianggap cukup matang namun tetap energik untuk membawa pembaruan.
Dalam beberapa kesempatan, Hangabehi menunjukkan perhatian besar terhadap pelestarian budaya Jawa. Ia aktif dalam kegiatan adat, seni tari, gamelan, dan upacara tradisional keraton.
Selain itu, ia juga kerap mengingatkan pentingnya melibatkan generasi muda agar tradisi Jawa tidak pudar dimakan zaman.
Bagi masyarakat Surakarta, kehadirannya membawa harapan baru: bahwa keraton tidak hanya menjadi simbol masa lalu, tapi juga ruang yang hidup dan relevan di masa kini.
Penetapan ini juga mendapat tanggapan positif dari berbagai pihak. Banyak tokoh budaya dan masyarakat Solo berharap agar suksesi berjalan damai, tanpa konflik seperti yang pernah terjadi di masa lalu.
Mayoritas melihat Hangabehi sebagai sosok yang santun, berpendidikan, dan memahami akar tradisi keraton.
Bahkan, beberapa pengamat budaya menilai bahwa penobatan calon raja baru bisa menjadi momentum untuk menghidupkan kembali peran Keraton Surakarta sebagai pusat budaya Jawa, terutama dalam hal pariwisata dan pendidikan kebudayaan.
Kini semua mata tertuju pada bagaimana KGPH Hangabehi Surakarta akan menjalankan perannya.
Tantangan ke depan tentu tidak mudah mulai dari merangkul seluruh pihak keluarga, memperkuat citra keraton, hingga memastikan bahwa nilai-nilai adat tetap hidup di tengah dunia yang semakin modern.
Namun jika melihat latar belakang, usia, dan semangatnya, banyak yang percaya bahwa ia bisa menjadi pemimpin yang membawa napas baru bagi Keraton Surakarta Hadiningrat.




