Andalannews.com – Kabar peristiwa keracunan MBG di Cianjur menjadi perhatian luas masyarakat setelah puluhan siswa mengalami mual, muntah hingga diare usai menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Insiden yang langsung viral di jagat maya ini diketahui terjadi pada Senin, 21 April 2025, dan melibatkan dua sekolah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yakni MAN 1 Cianjur dan SMP PGRI 1 Cianjur.
Peristiwa yang harusnya tidak terjadi ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat terhadap kualitas makanan yang disediakan dalam program strategis pemerintah tingkat nasional tersebut.
Dihimpun Andalannews.com dari berbagai sumber, pada hari kejadian siswa di dua sekolah tersebut menerima paket makanan siang yang terdiri dari mi goreng, ayam suwir, tempe mendoan, dan buah semangka.
Tak lama setelah mengonsumsi makanan, banyak siswa mulai mengeluhkan gejala seperti mual, muntah, sakit perut, diare, dan pusing. Beberapa di antaranya bahkan muntah cairan berwarna hijau, yang menandakan gejala keracunan cukup parah.
Kejadian ini dengan cepat memicu kepanikan di lingkungan sekolah dan membuat para guru serta petugas kesehatan segera mengambil tindakan.
Total korban keracunan di Cianjur dilaporkan mencapai lebih dari 55 orang, termasuk sejumlah guru yang juga turut mengonsumsi makanan tersebut.
Dari jumlah tersebut, 28 siswa dirawat di RSUD Sayang Cianjur, sementara 10 lainnya dilarikan ke RS Bhayangkara.
Untuk kasus yang terjadi di SMP PGRI 1, sekitar 23 siswa dan 3 guru mengalami gejala serupa, meskipun beberapa di antaranya sudah diperbolehkan pulang setelah mendapat penanganan medis awal.
Usai kabar ini menjadi pergunjingan masyarakat, Badan Gizi Nasional yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program MBG memberikan pernyataan resmi.
Mereka menjelaskan bahwa dugaan sementara penyebab keracunan MBG di Cianjur adalah kurangnya pengalaman mitra pelaksana yang baru bergabung dalam program.
Mitra tersebut diduga belum memahami sepenuhnya standar kebersihan, proses distribusi, dan cara penyimpanan makanan dalam skala besar. Hal ini menimbulkan risiko kontaminasi yang bisa berdampak langsung terhadap kesehatan siswa.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Badan Gizi Nasional memastikan bahwa biaya pengobatan seluruh korban akan ditanggung oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku penyelenggara program di wilayah tersebut.
Dana operasional yang disiapkan dalam program MBG juga mencakup anggaran darurat untuk menangani kasus-kasus seperti ini.
Meski demikian kasus keracunan MBG di Cianjur mendorong banyak pihak, terutama masyarakat dan pemerhati pendidikan, untuk meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelaksanaan program makan gratis di sekolah.
Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian menyampaikan keprihatinannya atas insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa program MBG pada dasarnya bertujuan baik untuk meningkatkan gizi siswa dan mendukung konsentrasi belajar.
Namun, Wahyu mengakui bahwa masih ada banyak aspek pelaksanaan yang perlu diperbaiki, khususnya dalam hal pengawasan terhadap pihak ketiga penyedia makanan.
Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa ke depan, pemilihan mitra harus benar-benar melalui proses verifikasi ketat, serta diberikan pelatihan mengenai keamanan pangan yang dikonsumsi.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sendiri merupakan inisiatif nasional yang mulai diluncurkan secara bertahap sejak awal tahun 2025, dengan target mencakup seluruh pelajar dari tingkat PAUD hingga SMA.
Program ini bertujuan mengatasi stunting, meningkatkan konsentrasi belajar siswa, serta menciptakan ketahanan pangan lokal melalui keterlibatan UMKM desa.
Namun, kasus keracunan massal yang menimpa para siswa ini menunjukkan bahwa implementasi di lapangan masih memiliki banyak tantangan, terutama dalam aspek pengendalian mutu.
Sejumlah pakar gizi dan kesehatan masyarakat juga angkat suara. Mereka menekankan bahwa makanan massal yang dikonsumsi oleh pelajar harus memenuhi standar keamanan pangan yang tinggi.
Proses mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, pengemasan, hingga distribusi harus diawasi dengan ketat. Bila tidak, makanan yang seharusnya menyehatkan justru bisa menjadi sumber penyakit.
Dalam konteks keracunan menu makan bergizi di salah satu wilayah Jawa Barat ini, evaluasi menyeluruh terhadap seluruh rantai suplai makanan menjadi sangat penting.
Kejadian ini juga memunculkan kekhawatiran di daerah lain yang tengah bersiap untuk mengimplementasikan program serupa. Banyak sekolah dan pemerintah daerah kini mulai lebih selektif dalam menentukan mitra penyedia makanan.
Bahkan beberapa kepala sekolah menyatakan akan menunda pelaksanaan MBG di sekolahnya sampai ada jaminan keamanan dan kejelasan standar kualitas dari pihak terkait.
Dampak psikologis pada siswa juga menjadi perhatian tersendiri. Beberapa siswa mengaku trauma dan takut untuk kembali mengonsumsi makanan dari program sekolah.
Orang tua pun menjadi lebih waspada, dan sebagian meminta agar sekolah memberi opsi membawa bekal dari rumah sebagai alternatif.
Dalam jangka panjang, krisis kepercayaan ini dapat menghambat keberhasilan program MBG secara nasional, jika tidak ditangani dengan baik dan transparan.
Kejadian keracunan sejak program ini bergulir merupakan peringatan keras bagi pemerintah dan semua pihak yang terlibat dalam program makan gratis sekolah. Evaluasi sistem harus dilakukan secara menyeluruh dan terbuka.
Pengawasan mutu makanan, pelatihan mitra, serta transparansi distribusi harus menjadi prioritas utama untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang.
Tujuan mulia program MBG hanya dapat tercapai apabila pelaksanaannya dijalankan dengan profesional, aman, dan bertanggung jawab.
Kronologi KLB di SPPG Cianjur
1. Waktu Kejadian
Senin, 21 April 2025 pukul 17.00 WIB
2. Lokasi Kejadian
MAN 1 Cianjur
3. Bentuk Kejadian Luar Biasa
Sejumlah siswa mengalami mual, muntah dan buang air besar dengan tekstur cair setelah mengonsumsi makanan siang
4. Jumlah dan Identitas Korban
Jumlah korban sementara sampai saat ini (per pukul 20.18 WIB) antara lain :
* RSUD Sayang
– siswa kelas 10 : 4 orang
– siswa kelas 11 : 6 orang
– dan lainnya
* RS Bhayangkara
– siswa kelas 10 : 5 orang
– siswa kelas 11 : 6 orang
– dan lainnya 2 (kantin)
Beberapa siswa mengeluh mual, muntah dan buang air besar dengan tekstur cair dengan frekuensi muntah lebih dari 3x
5. Kronologi Langkah-langkah Penanganan
– Apa yang dilakukan pihak sekolah/petugas segera setelah kejadian.
– Pukul 17.00 : guru melapor pada kepala SPPG (terjadi adanya mual muntah pada siswa)
– Pukul 17.30 : kepala SPPG, ahli gizi, akuntan dan staff dapur melakukan investigasi (RS Bhayangkara dan RSUD Sayang)
– Pukul 18.30 : melakukan wawancara kepada setiap siswa (RSUD Sayang) untuk mencari tahu kronologi dan riwayat makan
6. Dugaan Sementara Penyebab
* tempe disajikan berbau
* ayam yang disajikan ada sedikit berlendir dan rasanya hambar
* aroma mie tercium agak berbau




