Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Ekonomi»LAR di Bali Masih Tinggi, Restrukturisasi Kredit Diprediksi Diperpanjang
    Ekonomi

    LAR di Bali Masih Tinggi, Restrukturisasi Kredit Diprediksi Diperpanjang

    November 9, 2022No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    LAR di Bali Masih Tinggi, Restrukturisasi Kredit Diprediksi Diperpanjang 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    LAR di Bali Masih Tinggi, Restrukturisasi Kredit Diprediksi Diperpanjang 2
    Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan (BI KPw) Provinsi Bali Trisno Nugroho. (BP/ist)

    DENPASAR, BALIPOST.com – Loan At Risk (LAR) di Bali masih tinggi, mencapai 71% dari total kredit Rp48 triliun. Hal ini yang membuat pada 2023, restrukturisasi kredit
    diprediksi masih diperpanjang. Demikian dikemukakan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Bali, Trisno Nugroho, Selasa (8/11).

    Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi 8,09% di atas
    proyeksi BI sebesar 6,9% dengan pertumbuhan didominasi akmamin. Dengan nilai PDRB Rp62 triliun pada triwulan III 2022, diakui belum berada kondisi pulih seperti sebelum pandemi yang mencapai Rp64 triliun di PDRB triwulan III 2019. “Sebenarnya belum pulih tapi kalau dari sisi PDRB sudah OK tapi Loan at Risk (LAR) masih tinggi 71%. Apalagi jumlah wismannya baru 1,55 juta,” ujarnya.

    Dijelaskan LAR adalah kredit yang kategorinya di luar lancar. Di antaranya kredit yang direstrukturisasi, kredit dalam perhatian khusus, kredit yang diragukan, kredit macet.

    “Kalau NPL adalah kredit yang diragukan dan macet.
    Sekarang ditambah, tidak hanya kredit yang diragukan
    dan macet tapi juga kredit spesial mention ditambah
    kredit yang direstrukturisasi. Berarti masih belum banyak
    kredit yang membayar karena masih perbaikan, belum full,
    sehingga kita ingin sektor hotel, restoran dan katering
    (horeka) ini diberikan waktu lagi agar mereka bisa menutupi biaya operasional, untuk dan membayar angsuran,” jelasnya.

    Trisno mengatakan secara keseluruhan ekonomi sudah membaik namun seperti orang sakit, perlu waktu untuk pulih. “Baru 8 bulan bisa beroperasional dengan dua tahun sakit apalagi backbone-nya pariwisata, maka perlu waktu,”
    ujarnya.

    Dengan LAR 71% tersebut, ia memprediksi restrukturisasi akan diperpanjang, entah bersifat parsial atau sektoral. “Kemungkinan sektoral, sektor yang belum pulih akan diperpanjang restrukturisasi,” ujarnya.

    LAR menjadi salah satu indikator restrukturisasi bisa diperpanjang. LAR Indonesia sudah mulai membaik sedangkan LAR Bali masih tinggi dibandingkan daerah lainnya. “Kredit kan tumbuhnya kecil 1,69% di Bali sedangkan Indonesia 11% dan backbone Bali adalah horeka. Horekanya belum tumbuh jadi penyaluran kreditnya juga kecil. Dugaan saya, kredit yang tumbuh 1,69% itu di luar horeka. Kredit horeka itu kan kredit untuk membangun hotel, restaurant tinggi banget dulu. Sekarang sektor itu belum bergerak, masih konsolidasi, masih
    perbaikan belum ada pembangunan baru, jadi kecil. Memang susah ya … karena backbone-nya masih pariwisata, kita tidak bisa langsung pindah ke sektor pertanian, harus pelan-pelan,” bebernya.

    Kepala OJK Regional 8 Bali Nusra Giri Tribroto mengatakan, pada September 2022, penyaluran kredit di Bali sebesar Rp97,97 triliun atau hanya tumbuh 3,22% (yoy), atau 2,90% (ytd) dan 0,72% (mtm). Sedangkan Dana
    Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp133,81 triliun atau tumbuh 17,63% (yoy), atau 13,91% (ytd) dan 2,3% (mtm).

    Penyaluran kredit perbankan didominasi oleh sektor penerima kredit bukan lapangan usaha (konsumsi) dengan nominal sebesar Rp34,15 triliun dengan market share 34,86% dari total kredit. Sektor lainnya adalah perdagangan besar dan eceran dengan nominal sebesar Rp29,65 triliun dengan market share 30,27%. Sektor penyediaan akmamin sebesar Rp10,80 triliun dengan market share 11,02%.

    Namun sebesar 52,18% kredit yang disalurkan merupakan kredit UMKM. Sementara itu penghimpunan DPK perbankan Provinsi Bali didominasi oleh Tabungan dengan market share 50,82%. Pertumbuhan DPK tertinggi terjadi pada giro yang tumbuh 46,20% (yoy). Sementara itu pertumbuhan deposito masih terkontraksi sebesar -0,30% (yoy). (Citta Maya/balipost)

    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleAlasan Bang Ye Dam dan Mashiho Hengkang dari TREASURE
    Next Article Anne Hathaway akan Hadiri Puncak B20 di Bali
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru (Ilustrasi/AI)

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru, Pemerintah Bentuk PT DSI untuk Atur Ekspor

    May 21, 2026
    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat (Instagram/@menkeuri)

    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat

    May 18, 2026
    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter (Ilustrasi/AI)

    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter

    May 5, 2026
    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing (Ilustrasi/Ai)

    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing

    April 29, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • SPMB Jateng 2026 Jalur Prestasi Punya Aturan Baru?
    • Dino Patti Djalal Kritik Prabowo soal Kunjungan Luar Negeri
    • Cara Pakai Aplikasi Cek Bansos Kemensos 2026 Terbaru untuk Lihat PKH dan BPNT
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.