Andalannews.com – Launching buku Roy Suryo berjudul Jokowi’s White Paper di UGM menuai kontroversi. Simak isi, kronologi, dan polemik yang mengiringinya.
Nama Roy Suryo kembali jadi sorotan publik seiring kabar launching buku terbarunya berjudul Jokowi’s White Paper yang mendadak jadi perbincangan.
Informasi yang dihimpun, buku yang ditulis bersama Rismon dan Tifa ini rencananya diperkenalkan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, 19 Agustus 2025.
Namun, rencana tersebut batal terlaksana setelah pihak kampus yang kini sedang terseret kasus dugaan ijazah palsu menolak penggunaan fasilitas untuk acara tersebut.
Kejadian ini sontak menimbulkan perdebatan yang amat sangat luas, terutama karena buku ini membawa isu sensitif terkait kepemimpinan Presiden Joko Widodo.
Dalam buku Jokowi’s White Paper, Roy Suryo mengungkap sejumlah hal, mulai dari kajian statistik seperti Indeks Pembangunan Kesehatan (IPK), hingga analisis forensik terhadap kebijakan era Jokowi.
Disebutkan juga buku ini merupakan bentuk catatan akademis, bukan sekadar kritik politik. Namun, publik menilai kontennya cukup tajam dan bisa memicu perdebatan, apalagi menjelang situasi politik yang makin dinamis.
Begini kronologi launching buku Roy Suryo di UGM. Rencana launching dibuat sederhana hanya soft launching dengan format diskusi terbatas.
Akan tetapi, sehari sebelum acara, pihak UGM secara resmi membatalkan izin penggunaan ruangan. Menurut Roy, keputusan ini terkesan mendadak dan mengindikasikan adanya tekanan.
Roy menilai pembatalan tersebut sebagai bentuk “pembungkaman intelektual” yang seharusnya tidak terjadi di lingkungan akademik.
Sementara itu, UGM sendiri menjelaskan bahwa acara itu tidak sesuai dengan prosedur penggunaan fasilitas kampus.
Meski begitu, kontroversi tetap mencuat karena publik menilai UGM berada dalam posisi sulit: antara menjaga independensi kampus atau menghindari tuduhan politisasi.
Lalu, apa sebenarnya isi buku Roy Suryo ini sampai memicu polemik? Mengutip beberapa laporan, buku Jokowi’s White Paper membahas beberapa poin penting, antara lain:
-
Indeks Pembangunan Kesehatan (IPK) Jokowi
Buku ini menyoroti capaian kesehatan di era Presiden Jokowi dan mengaitkannya dengan standar internasional. -
Kajian Forensik Kebijakan
Roy Suryo bersama timnya mencoba menganalisis kebijakan pemerintah dengan pendekatan “forensik”, sebuah istilah yang mereka pakai untuk menggambarkan metode evaluasi secara detail. -
Kritik Akademis
Menurut Roy, buku ini bukanlah serangan politik, melainkan catatan akademis yang bisa menjadi bahan refleksi.
Bagi sebagian pihak, judul dan konten buku ini dianggap provokatif. Bahkan PSI (Partai Solidaritas Indonesia) ikut menanggapi dengan menyebut peluncuran buku ini sebagai “akal-akalan Roy Suryo cs” untuk menyelubungi tujuan politik tertentu.
Kontroversi utama dari launching buku Roy Suryo bukan hanya isi bukunya, tetapi juga proses peluncurannya. Publik menyoroti beberapa hal:
-
Pembatalan oleh UGM dianggap sebagai bentuk intervensi, meski kampus menegaskan hal itu murni administratif.
-
Isi buku yang kritis terhadap Jokowi memunculkan spekulasi politik, apalagi Roy dikenal sering vokal terhadap pemerintah.
-
Respons partai politik, khususnya PSI, membuat isu ini semakin ramai di media.
Dengan demikian, buku ini bukan hanya produk literasi, melainkan juga menjadi fenomena politik yang penuh dinamika.
Terlepas dari pro dan kontra, launching buku Roy Suryo ini menjadi penting karena membuka diskusi publik tentang ruang kebebasan akademik dan kebebasan berpendapat di Indonesia.
Apakah sebuah kampus boleh menolak kegiatan yang berbau kritik? Apakah kritik dalam bentuk buku bisa dianggap ancaman politik?
Pertanyaan-pertanyaan ini membuat peluncuran buku Jokowi’s White Paper tidak hanya menjadi acara literasi biasa, melainkan juga simbol tarik ulur antara demokrasi, akademisi, dan politik.
Walaupun acara launching di UGM batal, Roy Suryo menyatakan tidak akan berhenti memperkenalkan bukunya.
Dia bahkan berencana menggelar diskusi di tempat lain. Respons publik terhadap buku ini pun semakin besar setelah muncul pemberitaan di berbagai media nasional.
Fenomena ini membuktikan bahwa sebuah peluncuran buku bisa menjadi isu politik yang luas. Apalagi, topik yang dibahas menyentuh langsung pada kepemimpinan seorang presiden yang masih sangat berpengaruh di Indonesia.
Intinya kabar launching buku Roy Suryo berjudul Jokowi’s White Paper menjadi salah satu momen penting dalam wacana publik Indonesia tahun 2025.
Buku ini membawa kajian akademis sekaligus kritik, sementara proses peluncurannya justru menghadirkan drama politik dan perdebatan publik.
Apapun sudut pandangnya, launching buku ini berhasil menegaskan satu hal: literasi tidak bisa dipisahkan dari dinamika demokrasi.
Justru karena buku ini menuai pro dan kontra, publik semakin penasaran untuk membaca isinya dan menilai sendiri.




