Andalannews.com – Perkembangan Meta AI kembali menjadi sorotan dunia teknologi. Kali ini bukan hanya karena inovasi dari perusahaan induknya, tetapi juga dari mantan ilmuwan yang pernah memimpin riset kecerdasan buatan di sana.
Startup baru bernama Advanced Machine Intelligence (AMI) berhasil mengamankan pendanaan lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp16 triliun dari berbagai investor besar, termasuk Toyota Group dan Nvidia. Nilai investasi tersebut menjadikannya salah satu pendanaan awal terbesar dalam sejarah startup kecerdasan buatan.
Pendiri startup tersebut adalah Yann LeCun, sosok yang sebelumnya dikenal luas sebagai Chief AI Scientist di Meta Platforms dan sering dijuluki sebagai salah satu “godfather of AI”. Langkahnya mendirikan perusahaan baru langsung menarik perhatian industri teknologi global.
Lantas, apa sebenarnya hubungan startup ini dengan Meta AI, dan mengapa banyak perusahaan besar tertarik mendanainya?
Selama lebih dari satu dekade, Yann LeCun memimpin riset kecerdasan buatan di Meta melalui laboratorium Facebook Artificial Intelligence Research (FAIR). Lab tersebut menjadi salah satu pusat penelitian AI paling berpengaruh di dunia.
Namun pada akhir 2025, LeCun memutuskan keluar dari Meta untuk fokus membangun pendekatan baru dalam pengembangan AI. Dari sinilah lahir startup Advanced Machine Intelligence (AMI) yang berbasis di Paris.
Startup ini didirikan bersama sejumlah peneliti AI dari berbagai perusahaan teknologi besar, termasuk mantan ilmuwan dari Meta dan DeepMind. AMI kini memiliki kantor di beberapa kota seperti Paris, New York, Montreal, dan Singapura.
Walau tidak lagi menjadi bagian langsung dari Meta, proyek yang dikembangkan AMI tetap berkaitan erat dengan diskusi besar tentang masa depan Meta AI dan arah perkembangan kecerdasan buatan global.
Pendanaan Lebih dari US$1 Miliar
AMI berhasil memperoleh US$1,03 miliar dalam putaran pendanaan awal (seed funding). Angka ini membuat valuasi perusahaan mencapai sekitar US$3,5 miliar sebelum investasi.
Investor yang terlibat dalam pendanaan tersebut cukup beragam, mulai dari perusahaan teknologi, perusahaan investasi global, hingga tokoh industri teknologi.
Beberapa investor yang tercatat antara lain:
-
Nvidia
-
Bezos Expeditions (perusahaan investasi milik Jeff Bezos)
-
Cathay Innovation
-
Greycroft
-
Hiro Capital
-
HV Capital
Selain itu, perusahaan otomotif besar seperti Toyota juga ikut menaruh dana dalam proyek tersebut. Investasi ini menunjukkan besarnya minat industri terhadap teknologi AI generasi berikutnya.
Menurut analis industri teknologi, kombinasi dukungan dari perusahaan chip AI seperti Nvidia dan perusahaan otomotif global membuka peluang integrasi teknologi AMI ke berbagai sektor industri.
Hal yang membuat startup ini menarik adalah pendekatan teknologinya yang berbeda dari tren AI saat ini.
Selama beberapa tahun terakhir, sebagian besar perkembangan AI berfokus pada large language model (LLM) seperti chatbot atau generator teks. Namun LeCun berpendapat bahwa pendekatan tersebut memiliki keterbatasan.
Menurutnya, AI masa depan harus mampu memahami dunia nyata, bukan hanya memprediksi teks atau gambar.
Startup AMI mencoba mengembangkan konsep yang disebut “world models”, yaitu sistem AI yang mampu memahami lingkungan fisik, merencanakan tindakan, serta memiliki memori jangka panjang.
Teknologi semacam ini diyakini lebih cocok untuk aplikasi seperti:
-
robotika
-
kendaraan otonom
-
manufaktur
-
penelitian biomedis
-
sistem industri kompleks
Pendekatan tersebut juga dinilai bisa menjadi alternatif dari model AI generatif yang saat ini mendominasi industri.
Hubungan dengan Meta AI
Meski LeCun sudah tidak lagi bekerja di Meta, perkembangan startup AMI tetap menjadi bagian dari ekosistem besar Meta AI.
Meta sendiri masih sangat agresif dalam pengembangan kecerdasan buatan. Pada 2025, perusahaan ini bahkan membentuk divisi khusus bernama Meta Superintelligence Labs untuk mempercepat riset menuju sistem AI yang lebih canggih.
Divisi tersebut berfokus pada pengembangan teknologi yang mendekati artificial general intelligence (AGI) atau kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan setara manusia dalam berbagai tugas.
Dengan adanya AMI, muncul dua pendekatan berbeda dalam pengembangan AI:
-
Pendekatan LLM dan AI generatif yang banyak dikembangkan oleh perusahaan teknologi besar.
-
Pendekatan world model yang ingin dikembangkan oleh LeCun melalui startup barunya.
Persaingan ide ini justru dianggap sehat karena mendorong inovasi lebih cepat di dunia AI. Walaupun Meta tidak ikut berinvestasi langsung di AMI, kemungkinan kerja sama tetap terbuka.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa teknologi yang dikembangkan startup ini berpotensi digunakan dalam berbagai produk berbasis AI di masa depan.
Contohnya termasuk perangkat wearable berbasis AI seperti kacamata pintar atau perangkat komputasi yang memerlukan pemahaman lingkungan secara real-time.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun keluar dari Meta, pengaruh LeCun terhadap ekosistem Meta AI masih sangat kuat.
AI Jadi Medan Persaingan Baru
Pendanaan besar terhadap startup AMI juga menunjukkan bahwa persaingan di industri AI semakin intens.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi global berlomba-lomba membangun model AI yang lebih kuat.
Beberapa faktor yang mendorong investasi besar di sektor ini antara lain:
-
kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat
-
potensi otomatisasi industri
-
perkembangan robotika dan kendaraan otonom
-
aplikasi AI di sektor kesehatan dan riset ilmiah
Bahkan menurut berbagai laporan industri, investasi global di sektor AI mencapai ratusan miliar dolar dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam konteks ini, perkembangan Meta AI tetap menjadi salah satu faktor penting yang membentuk arah teknologi masa depan.
Kisah berdirinya startup AMI menunjukkan satu hal penting: pengaruh Meta AI tidak hanya terbatas pada produk yang dibuat oleh Meta sendiri.
Para ilmuwan dan peneliti yang pernah bekerja di laboratorium tersebut kini menyebar ke berbagai perusahaan dan startup baru, membawa ide dan inovasi yang mereka kembangkan.
Fenomena ini mirip dengan yang terjadi di Silicon Valley, di mana banyak startup sukses lahir dari mantan karyawan perusahaan teknologi besar.
Jika proyek AMI berhasil, bukan tidak mungkin pendekatan “world model” akan menjadi salah satu arah utama dalam pengembangan AI generasi berikutnya.
Dan pada akhirnya, perkembangan tersebut tetap akan kembali memengaruhi ekosistem Meta AI, baik melalui kolaborasi teknologi maupun persaingan inovasi.




