Nakhoda dan Syahbandar Sering Abai pada Kondisi Cuaca

Nakhoda dan Syahbandar Sering Abai pada Kondisi Cuaca

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono.

Banjarmasin, Jurnas.com – Nakhoda dan syahbandar sering mengabaikan kondisi cuaca ketika kapal hendak berlayar. Padahal kondisi cuaca menjadi salah satu faktor penyebab sering terjadinya kecelakaan pelayaran.

Demikian disampaikan Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono saat membuka Safety Review Forum tentang keselamatan pelayaran pada kapal Roll on Roll off (Ro-Ro) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (1/8/2019).



“Berdasarkan laporan organisasi maritim dunia atau IMO, Indonesia masuk menjadi 3 besar negara di dunia yang kapal Ro-Ro-nya berbahaya setelah Bangladesh dan Filipina,” kata Tjahjono.

Menurut Tjahnono, berdasarkan hasil berbagai investigasi terhadap kecelakaan kapal, ada beberapa penyebab yang memberikan sumbangsih atas terjadinya kecelakaan kapal, khususnya kapal Ro-Ro. Salah satu diantaranya adalah sering diabaikannya faktor cuaca ketika kapal hendak berlayar.

Nakhoda sering beralasan mereka sudah biasa melewati rute pelayaran, termasuk mengetahui kondisi cuaca pada rute pelayarannya tersebut setiap hari. Sehingga mereka merasa tidak perlu mengetahui kondisi cuaca terkini. Padahal cuaca di Indonesia sering berubah cepat,” tegas Tjahjono.

Kekurang pedulian terhadap cuaca juga terjadi pada syahbandar dan juga operator pelabuhan. Buktinya, kata Tjahjono, dari sekitar 3.200 pelabuhan hanya ada 10 pelabuhan yang memiliki stasiun Badan Meteorologi, Geofisika, dan Klimatologi (BMKG). Dari 10 pelabuhan itu pun baru 1 pelabuhan yang memiliki MoU dengan BMKG untuk mendapatkan informasi cuaca maritim.

“Nyaris semua informasi cuaca bukan informasi cuaca khusus untum maritim, tapi informasi cuaca umum,” katanya.

Penyebab kecelakaan kapal Ro-Ro lainnya adalah akibat tidak adanya manajemen risiko di atas kapal atau Bridge Risk Managament (BRM). Awak Buah Kapal masih banyak yang tidak mengetahui bagaimana menangani kondisi emergency di atas kapal.

“Penyebab lainnya akibat cara pengangkutan truk barang yang tidak benar, termasuk pemuatan truk-truk Over Dimensi dan Ober Loading atau ODOL,” ujar Tjahjono.

KNKT sudah membuat usulan yang dikirim ke berbagai pihak terkait, termasuk syahbandar agar berita cuaca menjadi lampiran dalam permintaan SPB,” sambungnya.

Ia berharap dari kegiatan Safety Review Forum ini menghasilkan masukan dan gagasan untuk dijadikan solusi bersama agar kejadian serupa tidak lagi terulang.

Pada kesempatan tersebut turut hadir Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banjarmasin Capt. Mugen S Sartoto, Kepala KSOP Kumai Capt. Wahyu Prihanto, Kabag TU KNKT Sri Rejeki Budi Rahayu, dan stakeholder terkait seperti Gapasdap, Aptrindo, Dishub, operator penyeberangan dan lainnya.

TAGS : Nakhoda cuaca BMKG KNKT

This article is automatically posted by WP-AutoPost Plugin

Source URL:http://www.jurnas.com/artikel/56849/Nakhoda-dan-Syahbandar-Sering-Abai-pada-Kondisi-Cuaca/

Related Articles