PDIP Tampilkan Budaya Kerakyatan dalam Peringatan Nuzulul Quran

PDIP Tampilkan Budaya Kerakyatan dalam Peringatan Nuzulul Quran

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam peringatan Nuzulul Quran di DPP PDIP Lenteng Agung

Jakarta, Jurnas.com – Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan, wajah kerakyatan dan keagamaan DPP PDI Perjuangan ditunjukkan alam peringatan Nuzulul Quran dan acara buka puasa bersama kaum dhuafa dan anak yatim.

“Peringatan Nuzilul Quran ini sudah hal yang lazim dilakukan bagi PDI Perjuangan, setiap tahun kami rutin dan kami selalu menggunakan momentum nuzulul Al-Quran,” ujar Hasto dalam Peringatan Nuzulul Qur’an 1440 H Kantor DPP PDI Perjuangan, Jl. Raya Lenteng Agung No.99, Jakarta Selatan, Minggu, 26 Mei 2019.

Dalam kegiatan itu, juga digelar Diskusi Kebangsaan bertema Pesan Perdamaian dalam Al-Qur’an. Pembicaranya adalah Ketua DPP PDIP bidang Keagamaan dan Kepercayaan kepada Tuhan YME Hamka Haq, Sekretaris Umum Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Nasyirul Falah Amru, Direktur Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) Iqbal Hasanuddin, Pakar Tafsir Uhamka Izza Rohman, dan moderator Ketua PP Bamusi Yayan Sofyan Alhadi.

Hasto menjelaskan, dalam peringatan Nuzulul Quran, juga diikuti buka puasa dan ciri kerakyatan dan kebersamaan. Mereka yang hadir adalah anak-anak yatim kemudian karyawan dari BPBD, dan juga masyarakat di sekitar Lenteng Agung untuk membangun persaudaraan dan kebersamaan.

Kata Hasto, PDIP sangat memahami secara mendalam bagaimana hari turinnya Al Quran sebagai sejarah besar, karena itu Bung Karno ketika momentum kemerdekaan 17 Agustus 1945, mwnyebut bahwa 17 adalah hari istimewa.

“Bung Karno mengatakan, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 45 adalah hari suci. Pada bulan ramadhan dan pada hari diturunkannya Al-Quran,” jelas Hasto.

Sementara itu, Ketua DPP PDIP bidang Keagamaan dan Kepercayaan kepada Tuhan YME, Hamka Haq menitik beratkan pembahasan pada masalah jihad dalam Al-Quran, yang memiliki makna berbeda dengan peperangan.

Dijelaskan Hamka Haq, jihad adalah bagaimana kita mencapai tujuan dasar dari agama. Yakni kemaslahatan. Dan kemaslahatan itu diwujudkan dalam bentuk perdamaian.

“Dengan demikian tujuan pokok jihad adalah perdamaiaan,” ujar Hamka Haq saat berbicara dalam Peringatan Nuzulul Qur’an 1440 H dan Diskusi Kebangsaan bertema Pesan Perdamaian dalam Al-Qur’anKantor DPP PDI Perjuangan, Jl. Raya Lenteng Agung No.99, Jakarta Selatan, Minggu, 26 Mei 2019.

Acara dihaditi Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Sekretaris Umum Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Nasyirul Falah Amru, Direktur Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) Iqbal Hasanuddin, Pakar Tafsir Uhamka Izza Rohman, dan moderator Ketua PP Bamusi Yayan Sofyan Alhadi.

Hamka Haq mengatakan, jihad dan qital (perang) itu jauh berbeda. Sebab perang itu adalah konflik sedangkan jihad adalah jalan menuju perdamaian.

“Maka, meredakan konflik dan membangun perdamaian adalah bagian dari jihad. Mendamaikan konflik itu jihad,” tegasnya.

Hamka Haq juga menjelaskan, agama adalah ajaran tuhan Alloh SWT. Sayangnya ketika agama dimiliki manusia, justru agama kerap kali dipakai kendaraan untuk mencapai kepentingan tertentu yang memicu konflik.

“Makanya ada yang atas nama tuhan menebar konflik, saling membunuh dan tuhan hanya diatasnamakan,” ujarnya.

Lebih jauh dijelaskan, Al-Quran mengajarkan agar jangan sampai satu kaum mengolok-olok kaum yang lain. Dan hoaks itu sumber masalah.
Istilah cebong kampret itu kan sumber konflik, saling hujat dan saling mengolok-olok.

“Dalam Al Quran juga diajarkan, bagaimana kita harus mengutamakan islah dan tabayyun. Melakukan klarifikasi atas segala berita yang tidak jelas kebenarannya. Sekarang disebut hoaks,” jelas Hamka Haq.



TAGS : Bamusi Hasto Kristiyanto Jihad Meredakan Konflik

This article is automatically posted by WP-AutoPost Plugin

Source URL:http://www.jurnas.com/artikel/53318/PDIP-Tampilkan-Budaya-Kerakyatan-dalam-Peringatan-Nuzulul-Quran/

Related Articles