Pembeli di Eropa dan AS Batalkan Pesanan Furnitur Imbas Perang

Pembeli di Eropa dan AS Batalkan Pesanan Furnitur Imbas Perang

JawaPos.com – Industri furnitur memiliki peranan penting terhadap peningkatan kinerja sektor manufaktur dan ekonomi nasional. Hal itu tecermin dari nilai ekspor yang mencapai USD 2,5 miliar pada 2021. Atau, naik 33 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar USD 1,9 miliar.

“Saya percaya bahwa seiring pulihnya belanja masyarakat akan turut mendukung peningkatan penjualan furnitur, baik untuk ekspor maupun pasar dalam negeri,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta kemarin.

Menperin mengemukakan, sejumlah hasil kajian menunjukkan adanya peluang industri mebel tanah air untuk mengisi pasar global. Misalnya, Centre for Industrial Studies (CSIL) memproyeksikan konsumsi furnitur global pada tahun ini akan tumbuh sebesar 3,9 persen. Kenaikan itu akan didukung kebijakan stimulus recovery and resilience facility di Uni Eropa.

“Hasil studi CSIL diperkuat juga oleh consumer market outlook yang dikeluarkan Statista, yang memperkirakan pendapatan industri furnitur global terus meningkat secara konsisten dari USD 1,3 triliun pada 2020 menjadi USD 1,6 triliun pada 2025,” ungkapnya.

Meskipun demikian, industri furnitur dan kerajinan masih menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan usahanya. Menperin pun telah menyerap beberapa isu pokok yang perlu dihadapi pelaku usaha dalam negeri berdasar aspirasi yang disampaikan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI).

Pertama, pandemi Covid-19 yang dilanjutkan dengan krisis geopolitik Rusia-Ukraina telah mengakibatkan permasalahan logistik dan shipping yang berkepanjangan. Kelangkaan kontainer dan space cargo kapal masih terjadi.

“Kondisi tersebut menimbulkan biaya logistik dan shipping yang tinggi, bahkan mengakibatkan gagal kirim. Dengan demikian, kinerja ekspor industri furnitur dan kerajinan menjadi tidak optimal dan daya saing pelaku usaha nasional di mata dunia melemah,” ujar Ketua Presidium HIMKI Abdul Sobur.

Kedua, terjadinya market shock permintaan akibat tingginya inflasi di negara-negara tujuan ekspor sebagai dampak dari perang Rusia-Ukraina. Dampaknya, pembatalan dan penundaan order, terutama dari negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

“Pembatalan atau penundaan order itu menghasilkan ketidakpastian bagi industri furnitur dan kerajinan dan sangat mengganggu cash flow perusahaan,” urainya.

Ketiga, permasalahan domestik terkait dengan ketersediaan bahan baku. Pasokan berupa kayu besar yang dibutuhkan industri furnitur kini semakin berkurang dan langka. Selain itu, pelaku usaha berbasis rotan dihadapkan pada permasalahan kelangkaan bahan baku.

PERTUMBUHAN INDUSTRI MANUFAKTUR BERDASAR SEKTOR (2021)

Industri | Pertumbuhan YoY


Credit: Source link

Related Articles