Andalannews.com – Di era teknologi yang pesat ini profesi digital marketing specialist mendadak banyak dibutuhkan. Dengan melihat peluang besar ini Baznas RI berharap para generasi muda termasuk santri untuk bisa menggelutinya.
Digital marketing specialist merupakan kalangan rofesional yang bertugas mempromosikan produk, layanan, dan merek melalui media digital. Mereka menggunakan berbagai alat dan platform digital, seperti mesin pencari dan media sosial.
Untuk menjadi digital marketing specialist tiap orang bisa mendapatkan sertifikasi Certified Digital Marketing Specialist (CDMS). Program sertifikasi ini dirancang para industry expert dengan pengalaman mendalam dalam pemasaran.
Untuk menumbuhkan ketertarikan para santri menjadi seorang digital marketing specialist, Baznas memberikan pelatihan khusus terkait digital marketing specialist untuk kalangan santri yang saat sedang iterjun disektor travel haji dan umrah.
Salah satu agenda yang akan terus digencarkan Baznas ini dalam upaya memberdayakan ekonomi mustahik pada lingkup santri dan alumni pondok pesantren (ponpes) di sektor wisata halal dimana di dalamnya termasuk haji dan umrah.
Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Saidah Sakwanmenyampaikan pentingnya peran santri dalam mendukung pertumbuhan sektor wisata halal.
“Santri memiliki keunggulan spiritual dan dedikasi tinggi yang menjadi nilai tambah dalam pengelolaan travel haji dan umrah,” ujar Saidah dalam keterangannya kepada wartawan.
Lebih lanjut, Saidah, dalam pelatihan yang berlangsung selama lima hari yang dimulai sejak pada 6 Januari 2025 lalu hingga10 Januari 2025, para peserta akan dibekali keterampilan digital marketing.
Di antaranya, pengetahuan terkait Search Engine Optimization (SEO), Search Engine Marketing (SEM), Content Marketing, Social Media Marketing, Influencer Marketing, Email Marketing, hingga E-commerce Integration.
“Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan keterampilan santri dalam pemasaran digital, sehingga mereka dapat memanfaatkan peluang besar di sektor perjalanan haji dan umrah,” ucap Saidah.
Menurutnya, program ini menjadi bukti nyata komitmen Baznas dalam memajukan kesejahteraan umat melalui pemberdayaan ekonomi pesantren.
Saidah mengungkapkan, dengan populasi Muslim Indonesia yang mencapai 87 persen, animo masyarakat terhadap ibadah haji dan umrah akan terus meningkat setiap tahun.
“Kami ingin memastikan santri dapat mengambil peran strategis di sektor ini, dengan memanfaatkan keterampilan digital marketing untuk memperkuat layanan mereka,” kata Saidah.
Saidah turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah terpilih dalam program ini.
“Selamat kepada 50 peserta terbaik. Ini adalah langkah awal untuk masa depan yang lebih cerah. Dengan mengikuti pelatihan ini, kalian tidak hanya akan mendapatkan ilmu, tetapi juga kesempatan untuk membawa keberkahan bagi umat,” ucap Saidah.
Sementara itu, Deputi 2 Baznas RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Dr. H.M. Imdadun Rahmat, M.Si. menyampaikan program ini merupakan bagian dari upaya strategis BAZNAS untuk mencetak generasi santri yang tangguh dan mandiri.
“Entrepreneurship sangat penting bagi santri. Dengan akses, bimbingan, serta keterampilan yang memadai, mereka mampu menjadi penggerak perekonomian umat,” ujar Imdadun.
Ia juga menambahkan, potensi besar sektor travel haji dan umrah, seiring meningkatnya minat masyarakat Muslim Indonesia, menjadi peluang yang harus dimanfaatkan oleh para santri.
Sejak diluncurkan tahun 2022, lanjut Imdadun, hingga kini program Baznas Santripreneur telah memberikan manfaat kepada lebih dari 1.000 santri di 26 provinsi.
Menurutnya, pelatihan program Baznas Santripreneur ini berpotensi besar meningkatkan pendapatan bagi peserta yang merupakan para pelaku usaha dari kalangan santri dan lulusan pondok pesantren, khususnya di bidang travel wisata halal yang mengikutinya.
Imdadun menyampaikan, program ini tidak hanya berfokus pada keterampilan ekonomi, tetapi juga membawa misi besar dalam memperkuat syiar zakat di masyarakat.
Dengan mencetak santri yang mandiri secara ekonomi, Baznas berharap dapat mengubah para santri dari penerima zakat (mustahik) menjadi pemberi zakat (muzaki).
“Inilah esensi dari pemberdayaan ekonomi berbasis zakat, yaitu menciptakan individu yang mandiri, berdaya, dan membawa manfaat bagi umat,” tutur Imdadun.
“Kami yakin pelatihan ini akan memberikan hasil yang lebih baik lagi, sekaligus menciptakan peluang usaha baru di sektor wisata halal,” katanya menambahkan.



