Andalannews.com – Memasuki pekan terakhir Ramadhan banyak masyarakat yang bertanya sidang Isbat Lebaran 2025 kapan? Dihimpun dari berbagai sumber berikut jadwal resmi dan proses penetapannya.
Namun sebelum membahas sidang Isbat Lebaran 2025 kapan mari simak penjelasannya lebih dulu. Ya, setiap tahun, umat muslim di Indonesia menantikan momen penting dalam menanti pengumuman Lebaran.
Ada proses penting yang harus dilalui yaitu sidang Isbat. Forum yang digelar Kementerian Agama ini menentukan awal bulan Syawal, yang menandakan berakhirnya bulan Ramadhan dan dimulainya Lebaran.
Kapan Sidang Isbat Lebaran 2025 Dilaksanakan?
Sidang Isbat biasanya digelar pada tanggal 29 Ramadan, atau sehari sebelum potensi Hari Raya Idul Fitri. Untuk tahun 2025, berdasarkan perhitungan kalender Hijriyah, Ramadhan dimulai sekitar 28 Februari 2025.
Dengan demikian, Sidang Isbat Lebaran 2025 kemungkinan besar akan dilaksanakan pada 29 Maret 2025 nanti. Tapi tanggal pastinya akan ditentukan melalui proses observasi hilal (bulan sabit) oleh tim ahli.
Proses Sidang Isbat
Sidang Isbat melibatkan berbagai pihak, termasuk ahli astronomi, tokoh agama, dan perwakilan ormas Islam seperti NU, dan lainnya. Tim ini akan mengkaji data astronomis dan hasil pemantauan hilal di berbagai lokasi.
Jika hilal terlihat, maka esok harinya ditetapkan sebagai 1 Syawal. Jika tidak, bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari seperti beberapa waktu lalu umat muslim di Tanah Air sempat melalui momen tersebut.
Mengapa Sidang Isbat Penting?
Sidang Isbat memiliki peran krusial karena menjadi acuan resmi pemerintah dalam menetapkan hari libur nasional.
Selain itu, sidang ini juga membantu menyatukan perbedaan penentuan hari raya yang mungkin terjadi antara metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan).
Prediksi Lebaran 2025
Berdasarkan perhitungan astronomis, Lebaran 2025 diperkirakan jatuh pada 30 Maret 2025. Namun, keputusan resmi tetap menunggu hasil Sidang Isbat yang akan diumumkan oleh Kementerian Agama.
Dengan demikian, Sidang Isbat Lebaran 2025 tidak hanya menjadi momen penting bagi umat Muslim, tetapi juga menjadi acuan bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam merencanakan kegiatan liburan dan silaturahmi selama Lebaran 2025.
Penjelasan Kemenag RI
Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad saat memimpin Rapat Persiapan Sidang Isbat Awal Syawal 1446 H di kantor pusat Kemenag menyampaikan pihaknya akan menggelar sidang isbat awal Syawal, pada 29 Maret 2025.
“Sebagaimana biasanya, sidang isbat selalu digelar pada tanggal 29 Syakban untuk menetapkan awal Ramadan, 29 Ramadan untuk menetapkan awal Syawal, dan 29 Zulkaidah untuk menetapkan awal Zulhijjah,” kata Abu Rokhmad.
Penggunaan metode hisab dan rukyat dalam penentuan awal Syawwal merupakan pelaksanaan dari ajaran Islam.
Menurut Abu Rokhmad, hal ini sejalan dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No 2 Tahun 2024 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.
Dalam fatwa itu disebutkan, penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode hisab dan rukyah oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional.
Secara hisab atau perhitungan astronomi, lanjut Abu Rokhmad, ijtimak atau konjungsi terjadi pada 29 Maret 2025 jam 17.57.58 WIB. Karenanya, berdasarkan data astronomi, saat terbenam matahari, posisi hilal berkisar antara minus tiga di Papua dan minus satu di Aceh.
“Data-data astronomi ini kemudian kita verifikasi melalui mekanisme rukyat,” ucap Abu Rokhmad.
Dijeskan Abu Rokhmad, setidaknya ada dua dimensi dari proses pelaksanaan Rukyatul Hilal. Pertama, dimensi ta’abbudi.
“Rukyat sejalan sunnah Nabi yang sudah dilakukan sejak dulu untuk melakukan rukyat saat akan mengawali atau mengakhiri puasa,” ujarnya.
“Sunnah ini dipertegas oleh Fatwa MUI bahwa penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah berdasarkan metode hisab dan rukyat. Ini juga bagian dari Syiar Islam. Ini penting,” kata Abu Rokhmad menambahkan.
Kedua, dimensi pengetahuan. Rukyat merupakan proses konfirnasi atas data-data hisab dan antronomis.
“Apa yang telah dihitung secara astronomi, kita konfirmasi di lapangan melalui rukyat. Sebagaimana awal Ramadan, kita akan gunakan alat yang canggih dalam proses rukyat,” tutur Abu Rokhmad.
Proses Rukyatul Hilal rencana akan dilalukan di 33 titik. Menurut Abu Rokhmad, ada satu titik rukyatul hilal di setiap provinsi, kecuali Bali.
“Di provinsi Bali dalam suasana Nyepi. Sehingga rukyatul hilal tidak kita gelar di sana. Kita saling menghormati,” tandasnya.
Abu Rokhmad menambahkan, proses sidang isbat akan diawali dengan Seminar Posisi Hilal Awal Syawal 1446 H pada pukul 16.30 WIB sampai menjelang magrib.
Kemenag mengundang perwakilan duta besar negara sahabat, ahli falak, dan perwakilan Ormas Islam. Diundang juga perwakilan dari LAPAN, BMKG, BRIN, Planetarium Bosscha, dan instansi terkait lainnya.
Sidang isbat akan digelar sekitar pukul 18.45 WIB yang berlangsung secara tertutup. Hasil sidang isbat akan diumumkan melalui konferensi pers oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.




