Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»News»Vaksinasi Covid-19 Utamakan Usia Produktif, Apa Alasannya?
    News

    Vaksinasi Covid-19 Utamakan Usia Produktif, Apa Alasannya?

    January 5, 2021No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Vaksinasi Covid-19 Utamakan Usia Produktif, Apa Alasannya? 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    JawaPos.com – Saat ini Indonesia bersiap untuk memulai vaksinasi massal melawan Covid-19. Proses vaksinasi dibagi dalam dua periode selama 15 bulan. Yakni pertama untuk tenaga kesehatan lalu kemudian untuk masyarakat usia produktif 18-59 tahun. Padahal di negara lain, yang didahulukan divaksin adalah tenaga kesehatan dan lansia serta kelompok rentan. Mengapa Indonesia berbeda?

    Beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Inggris yang sudah mulai vaksinasi memprioritaskan lansia yang lebih rentan terhadap penyakit pernapasan. Indonesia rencananya untuk memprioritaskan orang dewasa usia kerja daripada lansia, yang bertujuan untuk mencapai kekebalan kawanan dengan cepat dan menghidupkan kembali ekonomi, akan diawasi dengan ketat oleh negara lain.

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan tahap pertama adalah vaksinasi dilakukan pada tenaga petugas kesehatan, sebanyak 1,3 juta orang di 34 provinsi. Kedua, lalu akan diberikan kepada pekerja publik sekitar 17,4 juta orang. Lalu kemudian populasi masyarakat. Kemudian lansia di atas 60 tahun (yang jumlahnya sekitar 21,5 juta orang).

    Baca Juga: Simak Alur Proses Verifikasi dan Registrasi Penerima Vaksin Covid-19

    “Tiap negara punya tahapan imunisasi berbeda-beda, tapi semua negara pasti tahap pertama adalah nakes. Mengapa, ini adalah garda terdepan, orang-orang paling penting di masa pandemi,” katanya dalam konferensi pers baru-baru ini.

    Lalu lanjut Menkes Budi, di bebarapa negara, tahapan kedua berbeda. Yaitu ada yang berdasar umur. Di Indonesia, lansia belakangan.

    “Mengapa? Karena kita butuh waktu untuk memasttikan bahwa vaksin yang bisa digunakan nanti bisa berlaku di atas 60 tahun,” katanya.

    Menurutnya, hasil uji klinis 3 di Bandung untuk vaksin Sinovac selama ini diperuntukkan rentang usia 18-59 tahun. Itu sebabnya, hasil diskusi dengan secara scientific memang disarankan menggunakan Sinovac sesuai dengan yang diuji kliniskan di Bandung. Sehingga vaksin untuk lansia masih harus menunggu hasil uji klinis untuk lansia di negara lain seperti Brasil.

    “Vaksin sinovac uji klinis yg dilakukan di luar Bandung, di Turki, Brasil, itu juga diberikan ke orang-orang dengan grup usia di atas 60 tahun. (Indonesia masih menunggu hasil itu),” jelasnya.

    “Itu mengapa, karena sebagian vaksin kita akan datang mungkin sekitar semester kedua atau akhir kuartal kedua 2021. Itu sebabnya kenapa kalau lansia ditaruh agak ke belakang. Karena kita ingin pasatikan semua data scientific mengenai pemberian vaksin ke grup lansia ini, BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) sudah feel comfortable,” jelasnya.

    Hal senada juga diungkapkan oleh BPOM. Menurut BPOM, lansia diletakkan pada fase akhir vaksinasi karena masih harus menunggu hasil dari uji klinis di negara lain.

    Jubir pemerintah perwakilan BPOM, dr. Rizka Andalusia mengatakan saat ini BPOM masih menunggu penyelesaian analisis data uji klinik fase 3 di Bandung utk mengkonfirmasi khasiat atau efikasi vaksin Coronavac dari Sinovac. Data-data diperlukan untuk penerbitan Izin Penggunaan Darurat (EUA). Tentu, data uji klinis di negara lain seperti Brasil dan Turki juga menjadi dasar pemberian EUA.

    “Khususnya untuk orang di atas 60 tahun yang uji kliniknya dilakukan di Brasil kita juga akan menunggu data-data tersebut untuk menjamin mutu vaksin. BPOM juga telah evaluasi data mutu vaskin yang mencakup pengawasan mulai dari bahan baku, proses pembuatan, hingga produk jadi vaksin sesuai standar penilaian mutu vaksin secara internaisonal,” tutup dr. Rizka.

    Saksikan video menarik berikut ini:

    Editor : Nurul Adriyana Salbiah


    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleFord E-350 dan E-450 ditarik karena posisi insulasi yang salah
    Next Article Mencegah Terjadinya Klaster Keluarga, Ini Tipsnya
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang (Ilustrasi)

    Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang

    June 5, 2026
    5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW

    5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW

    June 4, 2026
    Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin (Ilustrasi/AI)

    Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin

    June 4, 2026
    Dino Patti Djalal Kritik Prabowo soal Kunjungan Luar Negeri (Instagram)

    Dino Patti Djalal Kritik Prabowo soal Kunjungan Luar Negeri

    June 2, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.