Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Lifestyle»Wajar Selama Diperlakukan sebagai Objek
    Lifestyle

    Wajar Selama Diperlakukan sebagai Objek

    January 8, 2022No Comments2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Wajar Selama Diperlakukan sebagai Objek 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    MENGOLEKSI boneka sedang jadi tren. Namun, bukan boneka biasa yang dimiliki, melainkan spirit doll. Para boneka itu diperlakukan bak anak kandung. Terlepas dari agama dan kepercayaan, terdapat sisi psikolog yang bisa diulik. Berikut tanggapan Ratna Sari SPsi MPsi Psikolog CH Cht CPNNLP, psikolog klinis sekaligus founder ERTAMENTARI Psikolog Surabaya.

    —

    Mengapa fenomena ini muncul?

    Sebetulnya, ini bukan hal yang baru, melainkan tren yang kembali. Misalnya, di Indonesia dulu kan punya jalangkung. Fenomena itu bisa jadi berhubungan dengan kondisi pandemi. Kebanyakan yang mengadopsi adalah usia produktif (15–64 tahun) yang sudah bisa survive dengan keuangan sendiri. Di usia itu, kita sangat mendambakan bertemu orang lain, bersosialisasi. Namun, itu menjadi tidak bisa karena pandemi. Lalu, mengoleksi boneka menjadi salah satu bentuk pengalihan atau distressment dari kesepian atau ketidakproduktifan.

    Apakah itu hal yang wajar?

    Bergantung bagaimana boneka itu dilihat. Kalau mereka hanya menganggapnya sebagai objek, hanya benda mati, ya wajar. Sama dengan mengoleksi benda lain yang kita suka. Namun, menjadi tidak wajar jika boneka diperlakukan sebagai sesuatu yang hidup, bahkan dianggap memiliki perasaan dan bisa berkomunikasi. Orang-orang yang demikian biasanya menjadikan boneka sebagai bentuk distress sesuai dengan keinginannya. Sebab, mereka menganggap jika makhluk hidup, katakanlah pasangan atau anak yang diajak berkomunikasi, belum tentu responsnya sesuai dengan harapan.

    Kenapa ada yang menganggap boneka bisa diajak berinteraksi?

    Secara positif, boneka bisa menjadi bagian dari self-healing. Misalnya, kita tidak suka terhadap sesuatu, tapi tidak bisa mengungkapkannya, maka bisa diutarakan dengan bercerita kepada boneka. Dalam psikologi pun, ada play therapy menggunakan boneka. Tetapi, kita tahu bahwa itu hanya boneka, kita tidak berharap ia merespons balik terharap apa yang kita katakan atau rasakan. Nah, kalau ada orang yang sampai bergantung dan hidupnya tidak sehat karena terlalu berorientasi pada boneka, itu berlebihan. Apalagi kalau sampai sulit membedakan mana yang nyata dan tidak, itu justru berdampak negatif.


    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleKendaraan keluaran lama bisa gunakan BBM RON tinggi
    Next Article Tambahan Kasus COVID-19 Nasional Turun ke Empat Ratusan Orang
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Cek desil Dinsos untuk bansos 2026 kini banyak dicari masyarakat (Ilustrasi/AI)

    Cek Desil Dinsos untuk Bansos 2026, Begini Cara Melihat Statusnya

    June 25, 2026
    Apakah Niat Puasa 9 dan 10 Muharram dan Qadha Ramadhan Bisa Digabung (Ilustrasi/AI

    Apakah Niat Puasa 9 dan 10 Muharram dan Qadha Ramadhan Bisa Digabung?

    June 24, 2026
    Kerusakan Ginjal Disebabkan Oleh Apa (ILustrasi/AI)

    Kerusakan Ginjal Disebabkan Oleh Apa? Kenali Penyebab serta Risikonya

    June 23, 2026
    Puasa Muharram Berapa Hari yang Dianjurkan (Ilustrasi/AI)

    Puasa Muharram Berapa Hari yang Dianjurkan? Ini Kata Ulama

    June 15, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Tempat Wisata Bandung Terbaru 2026 untuk Healing Akhir Pekan
    • Cek Desil Dinsos untuk Bansos 2026, Begini Cara Melihat Statusnya
    • 5 Jasa Konsultan KPI Terbaik di Indonesia untuk Efektivitas Bisnis

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.