Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Lifestyle»Album Fisik di Era Digital, Meski Mahal Tetap Dibeli
    Lifestyle

    Album Fisik di Era Digital, Meski Mahal Tetap Dibeli

    October 20, 2020No Comments2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Album Fisik di Era Digital, Meski Mahal Tetap Dibeli 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Album Fisik di Era Digital, Meski Mahal Tetap Dibeli 2
    ilustrasi

    indopos.co.id – Pemerhati Musik Wendi Putranto mengatakan, kehadiran platform musik digital tidak terlalu berpengaruh terhadap penjualan album format fisik yang masih tetap ada pembelinya.

    Di era serba digital, para musisi mendapat kemudahan untuk mempromosikan karyanya melalui platform musik digital, tanpa perlu menandatangi kontrak dengan label. Musisi bisa menyebarluaskan lagunya untuk didengar banyak orang.

    Kemudahan mendengarkan musik apa pun yang diinginkan ini, menurut Wendi tidak akan memengaruhi penjualan karya fisik seperti album. Sebab, masih ada penggemar musik yang ingin mengoleksi karya dalam bentuk rekaman fisik dari para idolanya.

    “Karena die hard music fans pasti pengin lebih, mereka tetap pengin dengar musiknya tapi mereka juga mau memiliki format fisik dari musiknya. Tapi memang perbedaannya kentara antara die hard music fans dan penggemar musik biasa,” kata Wendi dalam jumpa pers “Parade Joox Lima”, Selasa (20/10/2020).

    Die hard music fans atau penggemar berat pasti akan memburu apa pun yang dirilis oleh idolanya. Hal ini juga berlaku bagi para kolektor musik. Sebagai contoh, para penggemar grup idola K-Pop, meski harga album atau single terbilang mahal, para penggemar ini tetap akan membelinya.

    Berbeda dengan penggemar musik biasa yang cukup puas hanya mendengarkan lagu-lagunya saja tanpa perlu memiliki format fisiknya. “Die hard music fans itu yang akan memburu, tapi memang secara industri di Indonesia semua moving ke digital. Jadi dampaknya sub kultural, tidak berdampak besar ke industrinya,” tandas Wendi. (ant/rul)

    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticlePTPN XI dan Perhutani Sinergi Kembangkan Luas Lahan Tebu
    Next Article Para Cakada Diharapkan Kampanyekan 3M ke Masyarakat
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Cara melacak HP yang hilang dengan email kini lebih mudah (Ilustrasi/AI)

    Begini Cara Melacak HP yang Hilang dengan Email Menggunakan Akun Google

    July 6, 2026
    Cek desil Dinsos untuk bansos 2026 kini banyak dicari masyarakat (Ilustrasi/AI)

    Cek Desil Dinsos untuk Bansos 2026, Begini Cara Melihat Statusnya

    June 25, 2026
    Apakah Niat Puasa 9 dan 10 Muharram dan Qadha Ramadhan Bisa Digabung (Ilustrasi/AI

    Apakah Niat Puasa 9 dan 10 Muharram dan Qadha Ramadhan Bisa Digabung?

    June 24, 2026
    Kerusakan Ginjal Disebabkan Oleh Apa (ILustrasi/AI)

    Kerusakan Ginjal Disebabkan Oleh Apa? Kenali Penyebab serta Risikonya

    June 23, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Israel Bom Lebanon Hari Ini, Apa Penyebab Serangan Terbaru?
    • Paris Museum Braga, Cafe Baru Bergaya Galeri Seni di Jantung Bandung
    • Kanvill Dau, Sensasi Grill Sendiri dengan Pemandangan Perbukitan di Malang

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.