Andalannews.com – Penyanyi Ari Lasso kecewa dengan WAMI imbas royalti lagu hanya sebesar Rp700 ribu dan salah transfer. Berikut cerita lengkap serta efeknya bagi musisi.
Siapa yang tak kenal Ari Lasso? Penyanyi legendaris Indonesia ini baru-baru ini jadi sorotan, bukan karena lagu baru, tapi karena curahan hatinya soal royalti lagu yang dikelola WAMI (Wahana Musik Indonesia).
Dalam beberapa pernyataan, Ari Lasso mengungkap kekecewaannya terhadap sistem dan transparansi pembagian royalti yang ia anggap belum sesuai harapan.
Masalah ini langsung memicu diskusi hangat di kalangan musisi, penggemar, hingga pelaku industri musik. Bagi Ari Lasso, royalti bukan hanya sekadar angka di atas kertas.
Namun, bentuk penghargaan atas karya seni yang ia ciptakan dengan penuh dedikasi. Dia menilai, ketika sistem pengelolaan royalti tidak berjalan maksimal, dampaknya bukan hanya dirasakan dirinya.
Tetapi juga ratusan bahkan ribuan musisi lain yang hidup dari karya mereka. Inilah yang membuat pernyataan Ari terasa begitu tegas dan emosional.
Kabar Ari Lasso kecewa dengan WAMI imbas pembayaran royalti lagu kecil ini pun langsung jadi perbincangan di media sosial.
Banyak netizen yang mendukung pelantun lagu Hampa itu untuk memperjuangkan hak musisi, sementara ada juga yang mempertanyakan sistem kerja WAMI.
Polemik ini membuka mata publik bahwa di balik gemerlap panggung musik Indonesia, masih ada pekerjaan rumah besar dalam hal perlindungan hak cipta dan keadilan bagi para pencipta lagu.
Lewat unggahan di akun Instagram pribadinya, Mantan Vokalis Dewa 19 itu menyampaikan kejengkelannya secara gamblang.
Dari nominal royalti yang mencapai puluhan juta rupiah menurut data ia justru hanya menerima sekitar Rp765 ribu. Dia pun menyisipkan sindiran pedas, “WAMI is a joke.”
Lebih anehnya lagi, menurut surat resmi dari WAMI, royalti itu ternyata ditransfer ke rekening atas nama Mutholah Rizal bukan ke rekening Ari Lasso sendiri.
Hal ini membuatnya mempertanyakan sumber perhitungan maupun laporan yang disampaikan.
Ari Lasso pun tidak tinggal diam. Dia menyoroti kurangnya profesionalisme WAMI dan potensi kerugian yang ditimbulkancbukan hanya bagi musisi, tapi juga negara dalam hal perpajakan.
Ia menilai sistem yang dijalankan bisa memberi celah untuk praktik yang merugikan.
Lebih dari itu, Ari mengajak lembaga negara seperti BPK, KPK, hingga Bareskrim untuk melakukan audit atau pemeriksaan terhadap WAMI, bukan sekadar untuk menghukum, tapi agar pengelolaannya bisa lebih kredibel.
Tidak mau terus menerus berada di posisi dirugikan, Ari membuat keputusan konkrit: ia membebaskan orang, musisi, penyanyi wedding, atau kafe dari kewajiban membayar royalti atas lagu-lagunya.
Menurutnya, membayar saja tidak cukup jika distribusi dan pengelolaannya tidak berjalan dengan benar.
Sekaligus, ia memberi pujian kepada Aquarius Musikindo yang menurutnya masih menjalankan transparansi dan kredibilitas dengan baik.
Biar kita sama-sama lebih paham, WAMI adalah salah satu Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) yang bertugas mengelola hak royalti atas penggunaan karya musik termasuk pemutaran di ruang publik, konser, hingga event.
Namun, insiden yang diprotes Ari Lasso ini memperlihatkan krusialnya transparansi dalam pengelolaan royalti oleh LMK.
Reaksi Ari Lasso kecewa dengan WAMI imbas royalti lagu kecil ini membuka mata kita tentang pentingnya transparansi dan profesionalisme dalam pengelolaan royalti.
Musisi, sebagai pencipta karya, berhak mendapatkan imbalan yang setimpal. Jika distribusinya tidak jelas, maka akan mengikis rasa keadilan dan kepercayaan dalam industri musik nasional.
Semoga saja seruan Ari Lasso ini menjadi momentum perbaikan sistem LMK di Indonesia agar royalti kembali menjadi hak yang dihormati dan dikelola dengan transparan.




