Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Ekonomi»Cuaca Tak Bersahabat, Produktivitas Kopi Buleleng Terjun Bebas
    Ekonomi

    Cuaca Tak Bersahabat, Produktivitas Kopi Buleleng Terjun Bebas

    July 24, 2022No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Cuaca Tak Bersahabat, Produktivitas Kopi Buleleng Terjun Bebas 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Cuaca Tak Bersahabat, Produktivitas Kopi Buleleng Terjun Bebas 2
    Panen Kopi – Panen kopi tahun 2022 ini produktifitas tanaman turun drastis. Rata-rata produkstifitas tanaman kopi yang dihasilkan petani di Buleleng tahun ini hanya 20 persen saja. (BP/Ist)

    SINGARAJA, BALIPOST.com – Musim panen kopi tahun 2022 ini, nampaknya tak membuat petani tersenyum sumringah. Pasalnya, hasil panen mereka tahun ini terjun bebas dibandingkan musim panen setahun yang lalu.

    Rata-rata petani kopi di Bali Utara hanya mendapatkan hasil kebun kopi sebesar 20 persen saja. Untungnya, dari sisi harga jual kopi kering saat maish stabil, sehingga walau mendapat hasil namun bisa menutup modal yang telah dikeluarkan sebelumnya.

    Seorang petani sekaligus Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah (PD) Swatantra Buleleng Gede Boby Suryanto, Minggu (24/7) menuturkan, hampir sebagian besar petani kopi di Buleleng mengalami masalah yang sama. Di mana, pada masa panen tahun ini produksinya minim.

    Seperti di Desa Pucak Sari, Sepang, Tista, dan Desa/ Kecamatan Busungbiu. Termasuk kebun kopi milik PD Swatantra pun mengalami persoalan serupa. Rata-rata hasil panen kopi tahun ini maksimal hanya 20 persen saja. “Di semua desa termasuk kebun kita (milik PD Swatantra-red) panen kopi anjlok. Jika sebelumnya, bisa dapat 100 kuwintal, sekarang hanya dapat 20 kuwintal saja,” katanya.

    Menurut Boby, penyebab turunya produktivtas tanaman kopi bukan karena serangan hama dan penyakit. Akan tetapi, cuaca yang tak bersahabat membuat kopi tidak mampu berbuah maksimal. Dia mencontohkan, jika biasanya pada satu ranting, tiap gempong menghasilkan hingga ratusan biji kopi, tetapi sekarang tak sampai 10 biji saja untuk tiap gempong. Selain biji kopi yang minim pada setiap ranting, ukuran biji kopi pada masa panen ini juga kebanyakan kecil-kecil.

    Bahkan, sangat jarang ditemukan pada bijinya berisi dua biji kopi. Selain itu, masa pematangan biji kopi juga tahun ini tak serempak. Pada 1 pohon itu bijinya tidak matang 100 persen. Justru biji yang matang itu hanya sebagian kecilnya saja. Bahkan, sering ditemukan pada 1 ranting kopi itu ada biji yang maish muda, padahal biji yang lannya sudah matang dengan ditandai warna kulit merah. Kondisi ini menyulitkan petani untuk melakukan panen dan dan banyak petani terpaksa memetik dengan istilah ngaud (panen 100 persen) dengan resiko kuwalitas kopi akan turun.
    “Bijinya minim pada tiap gempong, jarang sekali bijinya yang lebih dari 1 seperti pada panen tahun-tahun sebelumnya, sehingga sangat sulit tahun ini kita mencari hasil sesuai harapan,” katanya.

    Menurut Gede Boby, kondisi yang dialami petani kopi di Buleleng tahun ini dampak curah hujan tinggi dan berkepanjangan. Di mana, saat itu tanaman sedang berbunga kemudian memproduksi bakal biji, namun terjadi hujan dan intensitasnya sangat tinggi. Akiabtnya, tingkat kelembaban di lahan menjadi naik, sehingga bakal biji kopi sebagian besar busuk dan akirnya rontok. “Ini murni karena pengaruh alam, dan petani tak bisa berbuat banyak. Kalau saja tidak dilanda hujan berkepanjangan mungkin produksi kopi kita sama dengan tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.

    Di sisi lain, Gede Boby menyebut, meskipun produksi minim namun dari harga jual kopi untuk saat ini maish tergolong stabil. Kopi robusta kering laku dijual Rp 24.000 per kilogram. Demiikian juga untuk harga biji kopi mentah, saat ini rata-rata Rp 5.000 tiap kilogram. Untuk kategori harga biji kopi basah pada musim panen setahun lalu lebih murah yaitu Rp 4.200 per kilogramnya. “Semoga saja tahun depan cuacanya bersahabat dan petani bisa mendapat hasil maksimal dan bisa melakukan panen raya,” tegasnya. (Mudiarta/Balipost)

     

    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleKabar Baik, Nasional Nihil Laporkan Tambahan Korban Jiwa
    Next Article Kerumuman Citayam Fashion Week Dipertimbangkan Untuk Tes Swab Massal
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru (Ilustrasi/AI)

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru, Pemerintah Bentuk PT DSI untuk Atur Ekspor

    May 21, 2026
    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat (Instagram/@menkeuri)

    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat

    May 18, 2026
    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter (Ilustrasi/AI)

    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter

    May 5, 2026
    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing (Ilustrasi/Ai)

    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing

    April 29, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.