Andalannews.com – Fenomena gerhana bulan total saat Ramadan 2026 dipastikan akan menjadi momen langit yang istimewa.
Selain karena terjadi di bulan suci, peristiwa ini juga menghadirkan pemandangan langka ketika Bulan berubah warna menjadi merah tembaga atau yang populer disebut Blood Moon.
Berdasarkan informasi resmi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gerhana bulan total akan terjadi pada 3 Maret 2026 dan dapat diamati dari wilayah Indonesia.
Waktu kejadiannya bahkan bertepatan dengan bulan Ramadan 1447 Hijriah, sehingga menambah nuansa spiritual sekaligus ilmiah bagi masyarakat.
Lalu, seperti apa sebenarnya fenomena gerhana bulan total saat Ramadan ini? Kapan puncaknya? Dan mengapa Bulan bisa berubah warna menjadi merah?
Apa Itu Gerhana Bulan Total?
Secara sederhana, gerhana bulan total terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus.
Dalam kondisi ini, Bumi berada di tengah dan menghalangi cahaya Matahari yang seharusnya langsung menyinari Bulan.
Akibatnya, Bulan masuk ke dalam bayangan inti Bumi atau yang disebut umbra. Pada fase inilah seluruh permukaan Bulan tertutup bayangan Bumi dan terjadilah gerhana bulan total.
Fenomena ini hanya bisa terjadi saat fase Bulan purnama. Namun tidak setiap purnama akan menghasilkan gerhana karena orbit Bulan miring sekitar 5 derajat terhadap bidang orbit Bumi.
BMKG mencatat gerhana bulan total saat Ramadan ini memiliki beberapa fase penting. Berikut perkiraan waktunya (WIB):
-
Gerhana penumbra mulai: sekitar 15.42 WIB
-
Gerhana sebagian mulai: sekitar 16.49 WIB
-
Gerhana total mulai: sekitar 18.03 WIB
-
Puncak gerhana: sekitar 18.33 WIB
-
Gerhana total berakhir: sekitar 19.03 WIB
-
Gerhana berakhir seluruhnya: sekitar 21.24 WIB
Durasi fase totalitas berlangsung kurang lebih 59 menit. Sementara keseluruhan proses gerhana dari awal hingga akhir memakan waktu hampir enam jam.
Karena posisi Bulan saat itu sedang terbit di Indonesia bagian barat, masyarakat umumnya akan mulai melihat fenomena ketika fase gerhana sudah berlangsung.
Artinya, sebagian wilayah akan langsung menyaksikan fase total atau menjelang puncak.
Kenapa Bulan Bisa Berubah Jadi Merah?
Salah satu hal yang paling ditunggu saat gerhana bulan total saat Ramadan adalah perubahan warna Bulan menjadi merah.
Fenomena ini bukan karena hal mistis, melainkan murni proses ilmiah yang disebut hamburan cahaya oleh atmosfer Bumi.
Ketika Bulan berada dalam bayangan inti Bumi, cahaya Matahari tidak sepenuhnya hilang. Sebagian cahaya masih menembus atmosfer Bumi terlebih dahulu sebelum sampai ke permukaan Bulan.
Atmosfer Bumi akan menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru. Sementara warna dengan panjang gelombang lebih panjang seperti merah dan oranye tetap lolos. Cahaya merah inilah yang akhirnya dipantulkan oleh Bulan dan terlihat dari Bumi.
Proses ini mirip dengan fenomena langit merah saat matahari terbit atau terbenam. Karena itu, gerhana bulan total sering dijuluki Blood Moon.
Berbeda dengan gerhana matahari yang membutuhkan pelindung mata khusus, gerhana bulan total saat Ramadan aman diamati dengan mata telanjang.
Namun, jika ingin melihat detail lebih jelas seperti perubahan warna dan bayangan secara perlahan, kamu bisa menggunakan teropong atau teleskop sederhana.
Beberapa tips agar pengamatan maksimal:
-
Pilih lokasi dengan langit terbuka dan minim polusi cahaya.
-
Pastikan cuaca cerah tanpa awan tebal.
-
Datang lebih awal sebelum fase total dimulai.
-
Gunakan tripod jika ingin memotret dengan kamera.
Karena terjadi saat Ramadan, momen ini juga bisa menjadi kesempatan refleksi dan edukasi keluarga. Banyak komunitas astronomi biasanya mengadakan pengamatan bersama di lapangan terbuka atau masjid.
Makna Spiritual dan Ilmiah
Fenomena gerhana bulan total saat Ramadan sering dikaitkan dengan nuansa spiritual karena terjadi di bulan suci. Dalam tradisi Islam, terdapat salat gerhana (salat khusuf) yang dianjurkan ketika terjadi gerhana bulan.
Namun di sisi lain, gerhana adalah fenomena astronomi yang sepenuhnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Tidak ada pertanda bencana atau hal mistis tertentu.
Perpaduan antara nilai spiritual dan sains inilah yang membuat gerhana bulan saat Ramadan terasa istimewa. Ia menjadi pengingat tentang keteraturan alam semesta sekaligus momentum meningkatkan ketakwaan.
Gerhana bulan total memang tidak terjadi setiap tahun. Dalam satu tahun bisa saja tidak ada gerhana total sama sekali. Bahkan jika terjadi, belum tentu bisa diamati dari Indonesia.
Itulah mengapa gerhana bulan total saat Ramadan 2026 menjadi peristiwa yang cukup dinantikan. Selain totalitasnya berlangsung hampir satu jam, wilayah Indonesia juga masuk dalam jalur pengamatan yang cukup baik.
Karena terjadi menjelang waktu berbuka puasa di sebagian wilayah, fenomena ini berpotensi menjadi tontonan langit sore yang unik.
Bagi fotografer dan pecinta astronomi, momen ini adalah kesempatan emas mengabadikan Bulan merah berlatar suasana Ramadan.
Sementara bagi masyarakat umum, fenomena ini bisa menjadi bahan edukasi anak-anak tentang sains dan astronomi secara langsung di alam terbuka.
Peristiwa ini bukan hanya sekadar pemandangan langit yang indah, tetapi juga momentum untuk memahami kebesaran alam semesta melalui pendekatan ilmiah dan spiritual sekaligus.
Jadi, jangan lewatkan gerhana bulan total saat Ramadan ini. Siapkan waktu, pilih lokasi terbaik, dan nikmati momen langka ketika Bulan berubah menjadi merah di langit Indonesia.




